My WordPress Blog

Pelda Anang Laku Jual Jangkrik dan Kambing, Raup Omzet Rp 1 Juta

Kisah Pelda Anang Wahyudi: Tentara yang Berbisnis Jangkrik dan Kambing

Pelda Anang Wahyudi, seorang anggota Staf Intel Kodim 0829 Bangkalan, Madura, Jawa Timur, memiliki kisah unik di balik tugasnya sebagai tentara. Selain menjalankan tanggung jawab keprajuritan, ia juga menggeluti usaha budidaya jangkrik dan kambing. Ini menjadi sumber penghasilan tambahan yang membantunya memenuhi kebutuhan keluarga.

Proses Budidaya yang Menjadi Kebiasaan

Setiap hari, sebelum berangkat dinas, Pelda Anang selalu melakukan aktivitas rutin yaitu mengarit rumput dan dedaunan untuk pakan kambing serta jangkrik yang ia ternak. Ia telah menjalani hal ini selama tiga tahun terakhir. Dengan usia 43 tahun, ia merawat 11 ekor kambing serta ribuan ekor jangkrik dalam empat buah kotak berukuran besar dan sedang.

“Saat libur seperti Minggu, saya lebih siang untuk mencari pakan kambing dan gedebok pisang tambahan untuk jangkrik. Tapi ketika hari aktif dinas, saya beraktivitas setelah salat Subuh,” ujarnya saat ditemui.

Budidaya jangkrik jenis madu kunyit dimulai tiga tahun lalu. Jenis ini merupakan hasil persilangan atau seleksi yang memiliki ciri warna kekuningan mirip kunyit. Dianggap lebih unggul dibanding jangkrik biasa, jangkrik ini banyak diminati pasar.

Usaha yang Menghasilkan

Untuk budidaya jangkrik, Anang fokus pada empat kotak. Dua di antaranya berukuran 120 x 240 cm dengan kapasitas maksimal 5 Ons bibit telur jangkrik, sementara dua lainnya berukuran 120 x 120 cm dengan kapasitas 3 Ons bibit jangkrik. Bibit telur jangkrik dibeli secara online dengan harga sekitar Rp 20 ribu per Ons. Dari satu Ons bibit, bisa menghasilkan jangkrik seberat 3-5 kg dengan harga jual antara Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per kg.

Masa panen jangkrik terjadi pada usia 1 bulan 5 hari, maksimal 5 minggu. Jika melebihi usia tersebut, jangkrik tidak laku karena sudah mengeluarkan sayap. Keuntungan dari satu kali panen berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

Di belakang rumahnya, terdapat kandang untuk 11 ekor kambing. Di depan kandang, ada gubuk bambu tempat Anang memperhatikan perkembangan kambing-kambing tersebut. Penjualan kambing dilakukan untuk kebutuhan masyarakat kampung, seperti aqiqah atau Hari Raya Idul Qurban.

Kebutuhan Keluarga yang Terpenuhi

Anang menyatakan bahwa penjualan kambing dilakukan dengan menitikberatkan pada kebersihan kandang dan asupan makanan yang tepat. Kambing dirawat hingga bulan keenam, sehingga keuntungan bisa dua kali lipat dari harga kulakan.

“Keberkahan adalah yang utama. Alhamdulillah bisa mendapatkan tambahan penghasilan,” ujarnya.

Kisah Lain: Guru Honorer yang Bekerja Tiga Peran

Selain kisah Pelda Anang, ada kisah lain tentang Bagas Chabib Kurniawan (36), seorang guru honorer yang bertahan hidup dengan gaji hanya Rp 300 ribu sebulan. Untuk menambah penghasilan, ia menjalani tiga peran sehari-hari, yaitu sebagai guru, pelatih sepak bola, dan driver ojek online.

Bagas mengajar di SDN Kauman Lor 01, Salatiga, sebagai guru PJOK. Ia juga melatih anak-anak sepak bola usia dini sejak 2015. Sore hari, ia menjadi driver ojek online di jalanan Salatiga.

Dengan tiga pekerjaan sekaligus, waktu bersama keluarga menjadi kemewahan. Namun, ia tetap menjalani semua dengan senang hati dan berharap bisa diangkat menjadi PPPK.


Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *