My WordPress Blog

Tiba-tiba Diskusi Produk Kecantikan

Dulu, saya tidak terlalu memperhatikan penampilan wajah. Yang penting pakaian rapi, bersih, dan wangi, serta rambut diikat kuda, sudah cukup untuk saya siap menghadapi hari-hari biasa.

Tiba-tiba saja, menjadi cantik terasa sangat nyaman dan menyenangkan. Ditambah dengan beberapa semprotan parfum yang meninggalkan aroma bunga yang menenangkan, rasanya masalah apa pun bisa saya hadapi. Berdandan menjadi kesukaan baru saya, menjaga penampilan mulai terasa sebagai sebuah kewajiban.

Saya kira kemampuan ini hanya menjadi kegemaran pribadi, ternyata dampaknya juga dirasakan oleh orang-orang sekitar. Di penghujung tahun, ibu saya tak lagi mengantri di salon untuk berdandan di malam Natal. “Boru, bantu mama bikin alis dong,” katanya saat perayaan Natal Ina tiba. “Bou, mau dicatok,” kata keponakan juga tiba-tiba seperti punya hero baru untuk bisa tampil cantik di hari-hari pentingnya dan kapan saja ia ingin terlihat manis.

Hal-hal yang saya kira tidak akan pernah saya lakukan, ternyata kini bisa saya bagikan. Lumayan menghemat biaya salon bagi perempuan-perempuan cantik di sekeliling saya.

Mendadak jadi “Rumah Diskusi” produk beauty

Saya kira dampaknya hanya sebatas keluarga saja, ternyata pertemanan juga ikut terkena. Saya punya hobi yang mungkin terasa asing bagi sebagian orang, yaitu menyemprotkan facemist di tengah aktivitas. Manfaatnya cukup baik bagi kulit: menghidrasi, dan membantu kulit tampak segar kembali. Bonusnya, facemist juga berperan untuk mengunci makeup agar lebih awet dan ngga geser seharian. Biasanya 2-3x sehari. Tergantung aktivitasnya juga.

Facemist ini ada dua jenisnya, ada yang memang fungsinya sebagai setting spray untuk mengunci makeup, ada juga yang bisa digunakan meski wajah tanpa makeup, manfaatnya ya itu tadi, membuat wajah tampak segar kembali.

Kalau Anda banyak beraktivitas di luar, Anda harus coba tips ini. Bawa facemist yang mengandung Vitamin C dan sunscreen untuk melindungi wajah Anda dari paparan sinar matahari berlebih. Saya sengaja memilih facemist dengan kandungan Vit C, agar bisa digunakan kapanpun saya butuh.

Entah ini bisa dibilang kabar baik atau tidak, siapapun orang yang sedang ada di samping saya, biasanya akan kebagian beberapa spray facemist di wajahnya. Apalagi kalau lagi bersama tim dalam satu event. Saya ingin memastikan tim berada dalam kondisi segar; fisik dan wajah.

Tak jarang dari mereka melihat, mengamati bahkan jadi membeli produk yang sama yang saya berikan pada mereka. Sejujurnya, bagi saya itu juga iseng doang. Yang bikin takjub, ternyata langkah kecil itu membantu mereka memahami bahwa facemist bisa digunakan untuk membuat wajah tampak segar kembali. Sebuah edukasi tidak langsung yang sering terjadi tanpa saya sadari.

Pernah juga di satu waktu, makeup yang tetap on point sedari pagi hingga makan malam tiba, jadi topik pembicaraan kami di meja makan. Katanya, kok bisa? Paginya saya memberikan kiat agar makeup awet sepanjang hari sembari kami mengaplikasikannya bersama-sama. Ia menerapkannya dan berhasil. Senangnyaaa…!

Lalu di beberapa kesempatan, saya juga mendadak jadi “Rumah Diskusi” yang siap sedia memberi masukan pada sahabat saya untuk menentukan skincare mana yang sekiranya paling cocok dengan kebutuhannya.

“Aku mau beli skincare antara dua ini, bagusnya ngambil yang mana?” Pertanyaan ini beberapa kali mampir ke pesan masuk aplikasi obrolan. “Tujuan beli skincarenya apa dulu?” Sebab tentu tak bisa langsung saya tentukan jalan mana yang harus ditempuh bila tujuannya saja saya tidak tahu, bukan?

Lalu diskusi alot biasanya akan berlangsung sebentar di sana untuk menentukan produk yang paling sesuai kebutuhannya. Merekomendasikan brand A alih-alih brand B dengan alasan yang logis yang dapat diterima dan jadi pengetahuan baru baginya. Kadang juga ngobrolin step by step penggunaan makeup, cara memilih shade yang paling tepat, bagaimana cara mengaplikasikan alis jadi pertanyaan yang ngga jauh-jauh dari kehidupan saya.

Dibekali dengan pengalaman pribadi dan dibungkus dengan hati-hati

Jadi “Rumah Diskusi” seputar makeup dan skincare bagi orang-orang terdekat tentu bukanlah perkara yang mudah. Tidak bisa dipungkiri, ada rasa senang dan bangga karena bisa membantu orang-orang di sekitar seputar hal yang saya pahami. Tapi urusan ini jadi cukup menantang karena taruhannya kesehatan kulit mereka. Jangan sampai jawaban saya justeru jadi petaka bagi mereka yang bertanya.

Pernah di satu waktu, saya semprotkan facemist di beberapa wajah teman. Salah satu kandungannya adalah bunga mawar. Beberapa kali saya semprotkan facemist di wajah-wajah mereka, tidak pernah ada masalah yang muncul. Hidup kembali berjalan dengan tanggungjawab semula. Siang itu berbeda, kebetulan saya juga membawa produk serupa tapi dari brand yang berbeda. Salah satu teman saya bilang “Gatel, ih!” beberapa menit setelah saya memberinya facemist sialan itu. Saya pikir cuma sementara, makin lama katanya semakin gatal dan diperkuat pula dengan wajahnya yang berangsur-angsur memerah. Matilah aku! Tenang! Tidak ada bahaya yang terjadi, teman saya langsung cuci wajahnya dengan sabun dan air mengalir lalu kondisinya membaik kembali. Sejak itu, saya tak lagi pernah menyemprotkan apapun ke wajah siapapun. Hahaha.

Silakan siapa saja menggunakan produk beauty yang saya punya, tapi tidak akan pernah lagi produk itu ada di kulit mereka langsung dari tangan saya. Kapok. Artinya adalah, saya menyadari penuh bahwa yang saya miliki adalah pemahaman seturut pengalaman. Saya bukan seseorang yang berasal dari latar belakang soal kecantikan apalagi dokter kulit.

Ketika diskusi soal produk-produk ini terjadi, yang saya bisa lakukan adalah memberi rekomendasi dan bercerita dari hal yang pernah saya jalani. Ketika ‘buta’ akan satu dua produk yang ditanyakan, saya memilih untuk menganjurkannya berdiskusi langsung dengan penjual untuk mendapatkan jawaban yang paling akurat.

Sebaiknya memang begitu, bagaimanapun, tidak semua yang cocok saya gunakan, cocok pula bagi teman-teman saya dan ini berlaku sebaliknya. Sebagai ‘sumber informasi’ teman, kita tidak harus selalu bisa menjawab semua hal kok. Memaksakan diri menjawab agar terlihat keren justeru lebih berbahaya ya untuk kulit teman, ya untuk pertemanan Anda.

Selain itu, Anda mungkin boleh berpendapat dan menjelaskan sesuai pemahaman dan pengalaman, tapi selebihnya, biarkan ia yang memilih dan memutuskan. Memutuskan membeli sebuah produk tentu banyak pertimbangannya bukan? Bisa jadi kepercayaan akan brand tertentu, bisa jadi karena kesesuaian budget yang dimiliki, atau bisa jadi karena rasa penasaran yang ingin dijawab. Yang penting, pahami porsimu dalam memberikan jawaban. Sepanjang Anda sudah menjelaskan secara rinci, apapun yang terjadi – baik atau buruk – dampak dari keputusannya, bukan lagi tanggungjawabmu sendiri.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *