My WordPress Blog
Hukum  

Pengumuman Sudewo sebagai tersangka, Alex hindari demo besar

Rakyat Pati Merayakan Penetapan Bupati sebagai Tersangka Korupsi

Ribuan warga Kabupaten Pati memadati Alun-alun Pati, Jumat (23/1) sore. Mereka mengikuti hajatan ‘Tasyakuran Rakyat’ yang diinisiasi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB). Aksi itu digelar sebagai bentuk syukur atas langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang telah menetapkan Bupati Pati nonaktif, Sudewo, sebagai tersangka dugaan kasus pemerasan terhadap calon perangkat desa.

Status tersangka Sudewo itu diumumkan pada Selasa (20/1), setelah dia terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) satu hari sebelumnya. Selain itu, Sudewo juga menjadi tersangka dalam kasus suap proyek rel kereta api Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan. Kasus itu terjadi saat Sudewo masih menjabat anggota DPR.

Pada acara tersebut, sebanyak 10 nasi tumpeng dan sekitar 5.000 nasi kotak ditata memanjang dari timur ke barat. Ribuan warga pun mengerubungi sajian tersebut sambil membaca doa bersama-sama. Usai doa dilantunkan, warga tampak saling berebut nasi tumpeng dan nasi kotak, kemudian makan bersama.

Beberapa orang juga tampak menunaikan nazar, mulai dari mencukur rambut hingga berlari mengelilingi alun-alun. Alex, warga Desa Karaban, Kecamatan Gabus, mengaku, sengaja datang ke Alun-alun Pati untuk merayakan penetapan Bupati Sudewo sebagai tersangka.

“Selametan bupatine mlebet (masuk tahanan-Red). Harapannya setelah ini tidak ada korupsi lagi, sehingga tidak perlu ada demo besar seperti kemarin lagi, Pati damai-damai saja,” katanya, kepada Tribun Jateng.

Perwakilan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Husaini mengatakan, kegiatan itu merupakan inisiatif swadaya dari masyarakat yang merasa lega setelah berbulan-bulan berjuang di bawah tekanan. “Hari ini tasyakuran rakyat atas diselesaikannya kasus praktik pungli yang terjadi di Kabupaten Pati oleh KPK,” ujarnya, saat ditemui di lokasi acara.

Menurut dia, kemeriahan syukur tidak hanya diisi dengan doa dan makan bersama. Sebanyak 10 tumpeng dan sekitar 5.000 nasi kotak ludes dibagikan kepada warga yang hadir. Beberapa warga bahkan melakukan aksi tertentu sebagai bentuk penunaian nazar.

“Ada potong tumpeng, makan bersama, kemudian berdoa. Lalu teman-teman, sekitar sepuluh orang, yang nazar cukur gundul hari ini juga melakukan,” bebernya. “Ada juga yang lari memutari alun-alun karena nazarnya seperti itu jika masalah Pak Sudewo diselesaikan KPK,” sambung pria yang juga menunaikan nazar cukur gundul.

Husaini menuturkan, makanan yang tersisa akan didistribusikan oleh panitia kepada warga Pati yang saat ini sedang terdampak musibah banjir. Ia pun menceritakan betapa beratnya perjuangan masyarakat selama beberapa bulan terakhir. Ia menyebut adanya intimidasi moral yang luar biasa dialami warga dan aktivis.

“Jadi berbulan-bulan itu kami berjuang bersama dengan masyarakat, itu rasanya sangat berat sekali, karena menghadapi kekuatan yang luar biasa. Semua lini digerakkan oleh pemerintah itu,” paparnya. “Sedangkan kami ini, kan, rakyat kecil, jagongan, kemudian datang dari kampung, kemudian berkumpul dan sebagainya. Berbulan-bulan terintimidasi. Jadi meskipun tidak ditangkap, kawan-kawan itu secara moral terintimidasi,” tambahnya.

Bahkan, Husaini menyatakan, para warga yang terlibat dalam gerakan AMPB pernah merasa takut sekadar untuk keluar rumah. “Keluar dari rumah saja takut. Ada motor lewat depan rumah takut, dipikirnya aparat dan sebagainya. Itu yang kami rasakan berbulan-bulan,” ucapnya.

Husaini juga mengungkapkan harapannya terhadap dua aktivis AMPB yang saat ini masih ditahan karena menjadi terdakwa kasus pemblokiran Jalan Pantura. Dua aktivis tersebut adalah Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto. Husaini menyatakan menghormati proses hukum, namun meminta agar persidangan dipercepat. Ia meyakini, kawan-kawannya tidak bersalah, dan berharap mereka segera bebas dari hukuman yang dianggapnya tidak benar.

Rangkaian tasyakuran itu rencananya akan berlangsung selama satu minggu di berbagai wilayah di Pati, termasuk pada hari Senin (26/1), warga akan mengawal persidangan Botok dan Teguh di Pengadilan Negeri (PN) Pati, sembari membawa tumpeng sebagai kelanjutan syukuran.

Ia pun menyampaikan harapan besar bagi masa depan Bumi Mina Tani. “Harapannya ke depan Pati lebih baik, dikelola oleh pemerintahan yang benar, yang tidak ngawur, peduli terhadap rakyat, dan tidak sombong,” tandasnya.

Sementara, Presidium AMPB, Anik Sriningsih, yang juga merupakan istri dari Supriyono alias Botok, mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dari berbagai penjuru Pati yang ikut menghadiri tasyakuran itu. “Saya juga minta doa dan dukungan rakyat Pati untuk datang ke Pengadilan Negeri Pati saat sidang suami saya dan Pak Teguh, yakni setiap Senin dan Rabu. Saya mohon doanya agar suami saya dan Pak Teguh bisa segera bebas,” tukasnya.


Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *