My WordPress Blog

Setiap Hari Kakek Berjalan 15 KM Jual Kain Untuk Rp 3 Ribu

Kehidupan Seorang Kakek yang Berjualan Kain Meski Sudah Tua

Memet Suhanda, seorang kakek berusia 65 tahun, memiliki kebiasaan unik dalam menjalani hidupnya. Setiap hari, ia berkeliling Kota Sukabumi dengan membawa kain lap, kain kukusan, hingga kemoceng untuk dijual. Meskipun usianya sudah tua, ia tetap aktif dan tidak pernah mengeluh.

Menurut pengakuannya, Memet mulai berjualan kain sejak dua tahun lalu. Sebelumnya, ia pernah menjual tahu dan tempe di pasar. Namun, saat ini, ia lebih memilih berjualan kain karena menurutnya lebih stabil. Ia biasanya berangkat dari rumah pukul 07.00 WIB dan pulang sekitar pukul 13.00 WIB. Dalam sehari, jarak yang ditempuhnya mencapai 10 hingga 15 kilometer.

Hasil yang dibawa pulang tidak selalu sama setiap hari. Namun, bagi Memet, uang puluhan ribu rupiah sudah cukup untuk bertahan hidup. Dari setiap barang yang terjual, ia hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp 2.000 hingga Rp 3.000.

“Sehari dapat 20 atau 30 ribu itu mah gimana banyaknya yang beli, kadang 50 juga suka dapat,” kata Memet. Ia menyadari bahwa pekerjaannya tidak mudah, namun ia tetap berusaha semaksimal mungkin.

Memet memiliki tiga orang anak. Dua di antaranya telah menikah, sementara satu anak lainnya masih menjadi tanggung jawabnya. Enam bulan lalu, istri Memet meninggal dunia. Meskipun begitu, ia tetap memilih untuk tidak bergantung pada orang lain. Di tengah usia yang kian menua, ia tetap berusaha bertahan dengan bekerja sendiri.

“Istri meninggal sudah 6 bulan lalu, yah (perjalanan hidup) disyukuri saja,” tutup Memet.

Keberanian Seorang Pemuda yang Berdagang Kopi Keliling

Di tempat lain, ada Muhammad Zaenal Arifin, seorang pemuda berusia 26 tahun yang lulusan kelas 4 SD. Ia kini menjadi penjual kopi keliling di Jalan Veteran, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur. Gerobak kopinya tampak berada di area pedestrian yang sebenarnya dilarang untuk berdagang.

Zaenal mengenakan rompi coklat bertuliskan nama brand kopi tempatnya bekerja. Ia selalu tersenyum tipis ketika menyambut pelanggan, terutama para mahasiswa yang mencari kopi murah untuk menemani tugas mereka.

“Sudah sekitar tiga bulan saya jualan kopi keliling di sini,” ujar Zaenal. Lokasi mangkalnya berada di area yang dilarang, namun ia harus melanggar aturan tersebut karena dinilai strategis oleh tempat kerjanya.

Setiap hari, Zaenal ditargetkan menjual minimal 30 cup kopi. Pada hari-hari ramai, angka itu bisa melonjak hingga 60 bahkan 70 cup. Namun, situasi tidak selalu berpihak. Cuaca hujan, musim libur mahasiswa, dan kondisi ekonomi sering membuat targetnya tidak tercapai.

“Kapan hari hujan seharian, mahasiswa libur, dagangan sepi. Sehari cuma jualan empat cup,” akunya. Meski demikian, Zaenal tetap bertahan. Ia menelan segala tantangan, dari panas matahari hingga ancaman dari petugas Satpol PP.

Kejar-kejaran dengan petugas Satpol PP sudah menjadi rutinitas baginya. Aki kendaraan pernah disita, gerobak diangkut, hingga ancaman sanksi tindak pidana ringan (tipiring) kerap menghantui. Namun, semua itu tetap ia jalani.

Zaenal mengaku tidak memiliki banyak pilihan dalam hidup. Pendidikan terakhirnya hanya sampai kelas 4 SD. Ijazah pun tak pernah ia genggam. “Ini kerjaan sampingan saya. Selain ikut saudara jualan ayam di pasar,” ujarnya.

Dengan latar belakang pendidikan yang terbatas, pekerjaan sebagai penjual kopi keliling menjadi jalan hidup yang ia pilih, meski penuh risiko. Setidaknya, ada pemasukan untuk menghidupi istri dan satu anaknya.

“Mau bagaimana pun, ini sudah pilihan saya. Risikonya juga harus siap ditanggung,” kata Zaenal. Ia sadar, jalan hidupnya tidak mudah. Namun, mendapatkan pekerjaan saja, menurutnya, sudah patut disyukuri.

Di tengah kerasnya hidup dan ketatnya aturan pemerintah, Zaenal tetap berdiri di balik gerobaknya, menyeduh kopi, menyapa pelanggan, dan berharap esok hari masih ada rezeki yang bisa dibawa pulang.

“Meskipun banyak risikonya tapi saya betah kerja di sini. Saya juga mensyukuri pekerjaan ini,” pungkas Zaenal.


Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *