My WordPress Blog

Surat Ketua BEM UGM untuk UNICEF yang Berujung Teror, Pesan dari Nomor Asing hingga Dikuntit

Ketua BEM UGM Menghadapi Teror Setelah Mengirim Surat ke UNICEF

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengalami berbagai bentuk teror setelah mengirimkan surat kepada United Nations Children’s Fund (UNICEF). Surat tersebut menyentuh isu penting tentang anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis dan buku. Isu ini menjadi sorotan di tengah kritik terhadap pemerintah yang dinilai tidak memberikan prioritas yang cukup untuk pendidikan dan kesehatan.

Teror yang Menimpa Tiyo Ardianto

Teror yang dialami Tiyo Ardianto bermula dari pesan WhatsApp yang masuk dari nomor asing. Pesan-pesan tersebut memiliki nada ancaman dan menggunakan bahasa Indonesia. Beberapa contoh pesan yang diterima antara lain: “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr”, “Banci”, dan “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.

Pesan-pesan ini datang secara terus-menerus dari nomor yang sama, meskipun dikirim dalam waktu yang berbeda-beda. Awalnya, Tiyo menerima teror pada Senin (9/2/2026), namun ia tidak langsung merespons.

Selain pesan ancaman, Tiyo juga dikuntit oleh dua orang tak dikenal dan difoto dari kejauhan. Sayangnya, dua orang tersebut menghilang ketika dikejar.

Surat ke UNICEF dan Kritik terhadap Pemerintah

Surat yang dikirimkan oleh BEM UGM ke UNICEF merupakan respons atas ironi di tanah air. Dalam surat itu, Tiyo menyoroti kasus seorang anak di Ngada, NTT, yang memilih mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli pena dan buku. Di sisi lain, pemerintah menggelontorkan dana besar untuk program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan iuran pda Board of Peace (BoP).

Tiyo menjelaskan bahwa surat itu ditulis sebagai bentuk kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat. Ia menilai bahwa Presiden Prabowo Subianto kurang memahami realitas yang ada di masyarakat.

Surat Lengkap Ke UNICEF

Dalam surat lengkapnya, Tiyo menyampaikan permintaan kepada UNICEF untuk membantu menyampaikan pesan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa ia dianggap “bodoh” dalam mengambil keputusan. Surat tersebut juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap hak anak dan keadilan dalam sistem pendidikan.

Ajakan untuk Tegur Pemerintah

Melalui surat tersebut, Tiyo ingin mengajak dunia untuk ikut menegur pemerintah Indonesia. Ia menilai bahwa pemerintah salah meletakkan prioritas, seharusnya fokus pada peningkatan pendidikan dan kesehatan. Ia juga menyebut bahwa pihak UNICEF telah menyampaikan dukungan dan akan membantu menyampaikan surat tersebut langsung ke Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell.

Tidak Gentar, Semakin Melawan

Meski menghadapi berbagai bentuk teror, Tiyo tidak gentar dalam menyuarakan kegelisahan dan kepeduliannya terhadap bangsa. Ia percaya bahwa keteguhan dan semangat akan membuatnya semakin kuat. BEM UGM juga tetap memegang prinsip “semakin ditekan, semakin melawan”.

Ia berharap teror yang ia terima adalah yang terakhir. Menurutnya, teror ini menjadi alarm bahwa demokrasi Indonesia tidak baik-baik saja. Ia berharap tidak lagi ada peristiwa serupa yang menimpa individu atau lembaga lain.

Perlindungan dari Kampus

Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta telah pasang badan bagi Tiyo Ardianto. Pihak kampus menyatakan bahwa mereka berkewajiban melindungi seluruh civitas akademika dari ancaman atau teror. UGM juga menugaskan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk melakukan pemantauan dan perlindungan yang diperlukan.

Komentar dari Juru Bicara UGM

Juru Bicara UGM, Dr I Made Andi Arsana, menyatakan bahwa pihak universitas telah melakukan komunikasi dengan Tiyo Ardianto mengenai ancaman teror tersebut. Ia menegaskan bahwa UGM akan terus berkomitmen untuk melindungi seluruh mahasiswa dan pegawai dari ancaman apapun.


Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *