My WordPress Blog

Momen Lebaran Denada dan Ressa, Pelukan yang Mengukuhkan Damai

Penyanyi Denada Akhirnya Bertemu dengan Putranya, Ressa Rizky Rossano

Penyanyi Denada akhirnya bisa merayakan Lebaran 2026 bersama putra kandungnya, Ressa Rizky Rossano, dan Ratih Puspita Dewi, yang merupakan tante dari Denada sekaligus ibu pengasuh Ressa. Pertemuan ini diinisiasi oleh manajer Denada, Risna Ories, dan berlangsung secara kekeluargaan tanpa melibatkan pengacara maupun media.

Kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri konflik dan berdamai. Momen ini dibagikan oleh Risna Ories dalam unggahan Instagram pribadinya @risna_ories pada Selasa (24/3/2026). Dalam foto tersebut, Denada tampak memeluk Ratih dan tak kuasa menahan air mata. Ia mengenakan dress abaya modern dengan aksen ikat di bagian pinggang. Sementara itu, Ressa terlihat tampan dengan outfit serba hitam, kaus dipadukan dengan jaket.

“Alhamdulillah ala kulli haal, ‘Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan’. Semoga Allah selalu melindungi keluarga ini,” tulis Risna Ories dalam caption unggahannya.

Pertemuan ini dihadiri oleh Denada, Ressa, serta Sheile, kakak dari Ressa, tanpa adanya pengacara dan media. Keluarga ini bertemu, saling berbicara, dan menceritakan banyak hal. Mereka pun sepakat untuk berdamai.

Konflik yang Berujung pada Pertemuan

Sebelumnya, keberadaan Ressa sebagai anak kandung Denada terungkap saat pria berusia 24 tahun itu menggugat sang penyanyi ke Pengadilan Negeri Banyuwangi, Jawa Timur, atas dugaan penelantaran anak, pada 26 November 2025. Ressa menuntut ganti rugi fantastis dengan nilai mencapai Rp7 miliar.

Denada baru-baru ini mengunggah momen bersama Ressa Rossano. Di awal tahun 2026, nama Denada dan Ressa Rossano menjadi perhatian publik setelah konflik mereka terungkap ke publik. Ressa mendadak muncul ke hadapan publik setelah menggugat Denada atas dugaan penelantaran anak ke Pengadilan Negeri Banyuwangi.

Pemuda 24 tahun ini menggugat mantan istri fotografer Jerry Aurum itu setelah ia mengetahui fakta bahwa Ratih Puspita Dewi, adik ipar mendiang aktris Emilia Contessa, bukanlah ibu yang melahirkan dirinya. Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Ressa mengetahui bahwa ibu kandungnya adalah penyanyi Denada.

Sejak berusia kurang dari 10 hari, Ressa kabarnya telah diasuh oleh Ratih di Banyuwangi. Denada kemudian memberikan klarifikasi setelah permasalahan keluarganya viral. Mantan penyanyi rap 47 tahun ini pun juga mengakui Ressa Rossano sebagai anak kandungnya.

Lewat unggahan di Instagram @denadaindonesia, sang penyanyi turut menjelaskan alasannya tidak bisa merawat Ressa saat itu. “Saya Denada Tambunan menyatakan bahwa Ressa Rossano adalah anak kandung saya. Dan saya betul-betul minta maaf kepada Ressa karena Ressa tidak hidup bersama saya dari mulai dia masih bayi. Saat itu kondisi psikis saya sedang tidak layak,” tutur Denada.

Alasan Denada Menitipkan Ressa ke Banyuwangi

Sebelumnya, penyanyi Denada akhirnya memberikan penjelasan mendalam terkait keputusannya menitipkan putra kandungnya, Ressa Rizky Rossano, untuk diasuh oleh keluarga bibinya di Banyuwangi selama 24 tahun. Dalam wawancara bersama Feni Rose pada Senin (1/3/2026), Denada mengungkapkan bahwa keputusan itu lahir dari rasa bersalah dan keinginannya memberikan kehidupan “sempurna” bagi sang anak.

Denada mengaku tak berniat untuk membuang darah dagingnya sendiri sampai dianggap menelantarkan. Ia mengakui bahwa periode setelah melahirkan Ressa adalah masa-masa terberat dalam hidupnya. Selain harus melahirkan tanpa didampingi sosok suami, ia mengaku mengalami peristiwa traumatis yang sangat memengaruhi kondisi mentalnya saat itu.

“Ada hal-hal yang terjadi dalam hidup aku yang cukup berat dan menyisakan trauma secara mental,” ujar Denada. Ia merasa bersalah karena tidak mampu memberikan situasi keluarga yang ideal—ada ayah dan ibu dalam satu atap—untuk putranya yang baru lahir.

Beban mental bahwa tanggung jawabku kepada dia, bahwa dia akan tumbuh besar tidak di dalam gambaran keluarga yang utuh… yang terbaik seharusnya kan buat seorang anak tumbuh ada bapak, ada ibu, di dalam satu rumah tangga,” ungkap Denada dengan suara bergetar.

Denada mengaku mencemaskan masa depan Ressa, terutama saat sang anak mulai masuk sekolah dan harus menghadapi pertanyaan dari lingkungan sosial mengenai sosok ayahnya. “Mama tanya, ‘Nanti kalau misalnya dia masuk sekolah terus teman-teman sekolahnya ada yang nanya (soal bapaknya), kamu sudah siap belum?’. Di situ aku mulai berpikir, oh iya ya benar, itu sesuatu yang harus aku persiapkan,” kenangnya.

Ibunda Denada, almarhumah Emilia Contessa, saat itu memberikan saran untuk mempertimbangkan tawaran dari Tante Ratih dan Om Dino (adik Emilia) yang sangat mendambakan anak laki-laki. “Aku pikir perfect. Karena Ressa akan tumbuh di satu keluarga di mana dia akan melihat ada sosok bapak, ada sosok ibu. Dia akan disayang di situ… enggak akan ada yang berani macam-macam sama dia karena tahu dia dari keluarga besar kami,” ungkap Denada.

Denada merasa bahwa di Banyuwangi, Ressa akan terlindungi dari bullying karena pengaruh keluarga besar mereka di sana. Ia menganggap hal itu sebagai “perpanjangan tangan” untuk menjaga anaknya saat ia harus bekerja di Jakarta.

Meskipun awalnya yakin bahwa rencana tersebut adalah yang terbaik, Denada mengakui bahwa seiring berjalannya waktu, muncul penyesalan yang mendalam. Ia merasa menjadi sosok yang pengecut karena takut merusak realitas yang sudah terbentuk di benak Ressa.

“Itu benar-benar tidak di dalam plan aku sama sekali. Plan aku adalah melahirkan dia, membesarkan dia berdua sama dia gitu. Tapi terus pada saat aku dikasih tahu ada plan itu, aku merasa bahwa ini rencana yang cukup baik, tentunya dengan pemikiran bahwa oke suatu hari nanti kita akan kasih tahu sama dia.”

“Jadi berat, enggak gampang untuk pisah ke Banyuwangi saja. Aku suka kangen, tuh, aku minta tolong sama ibu, suka sama Ressa minta telepon,” ujarnya.


Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *