My WordPress Blog

Mengenal El Nino Godzilla yang Picu Kemarau 2026

Mengenal Fenomena El Nino yang Memicu Kekeringan

El Nino adalah fenomena iklim yang memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Diperkirakan, fenomena ini akan terjadi pada periode Juni hingga Agustus 2026 dan berpotensi memicu kekeringan serta musim kemarau yang lebih panjang. Salah satu wilayah yang terdampak adalah Provinsi Jambi, yang telah mengalami penurunan curah hujan sejak beberapa bulan terakhir.

El Nino disebut sebagai “Godzilla” karena dampaknya yang luar biasa besar. Meskipun istilah ini tidak ada dalam kamus resmi sains iklim, namanya mulai muncul kembali akibat gabungan beberapa fenomena iklim yang bisa memperluas dampak kekeringan. Sebutan ini pertama kali digunakan oleh ilmuwan NASA, Bill Patzert, pada tahun 2015 untuk menggambarkan kekuatan El Nino yang luar biasa besar.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat bahwa nama “Godzilla” digunakan sebagai peringatan dini agar masyarakat bersiap menghadapi kondisi iklim yang berpotensi ekstrem. Tujuannya bukan untuk memicu kepanikan, tetapi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko yang mungkin terjadi.

Kapan El Nino Terjadi?

Berdasarkan laporan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) per 12 Maret 2026, kondisi iklim saat ini masih normal. Namun, menurut penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), GAW Bariri, peluang munculnya El Nino melonjak hingga 62 persen pada Juni hingga Agustus 2026. Angin pembawa uap air akan melemah, sehingga perairan Indonesia mendingin dan hujan makin jarang turun.

Dampak langsung dari El Nino antara lain menyusutnya air waduk, sumur kering, gangguan irigasi, dan meningkatnya risiko kebakaran hutan. Wilayah Sulawesi Tengah sudah menunjukkan tanda-tanda kekeringan sejak Februari 2026, dan diperkirakan akan mengalami dampak paling besar dari fenomena ini.

Ancaman El Nino di Wilayah Sulawesi Tengah

Berdasarkan data proyeksi iklim, berikut rincian ancaman El Nino di wilayah Sulawesi Tengah:

  • Donggala, Parigi Moutong, dan Sigi menjadi daerah yang merasakan dampak paling awal. Warga di kawasan tersebut berpotensi menghadapi risiko sumur mengering, debit mata air mengecil, hingga tanah pertanian retak.
  • Sekitar 52 persen wilayah Sulawesi Tengah diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal. Petani diimbau segera menyesuaikan waktu tanam dan memilih bibit yang tidak butuh banyak air.
  • Sebanyak 44,8 persen wilayah berpotensi mengalami musim kemarau yang durasinya lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.
  • Penurunan curah hujan akan terasa bertahap mulai Juni, meluas pada Juli, dan mencapai puncaknya pada September 2026.

Prediksi Kemarau di Jambi

Imbas dari El Nino “Godzilla” membuat wilayah Provinsi Jambi diprediksi akan mengalami musim kemarau yang lebih ekstrem dan durasi yang lebih lama dibandingkan kondisi normal. Biasanya, awal musim kemarau di Jambi terjadi pada bulan Juni. Namun, akibat dampak El Nino ini, musim kemarau diprediksi akan maju ke dasarian ketiga bulan Mei 2026.


Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *