My WordPress Blog

Drama OTT KPK Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Tersembunyi di Mobil, Uang Korupsi untuk Beli Sepatu

Drama dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang Melibatkan Bupati Tulungagung

Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, berlangsung dengan penuh ketegangan dan menimbulkan banyak spekulasi. Proses penangkapan ini menjadi sorotan publik setelah Gatut resmi ditahan usai ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Situasi Saat OTT Berlangsung

Peristiwa OTT berlangsung pada Jumat (10/4/2026) sore dan menarik perhatian banyak pihak. Saat KPK tiba di pendapa, ajudan bupati menyampaikan bahwa Gatut Sunu tidak ada di tempat. Petugas KPK kemudian melakukan penyisiran di sekitar pendopo dan akhirnya menemukan Bupati Gatut Sunu Wibowo di dalam mobil yang ada di garasi.

Menurut saksi mata, suasana di lokasi kejadian disebut penuh ketegangan. Ada 3 mobil yang datang sekitar pukul 15.00 WIB. Kedatangan kendaraan tersebut menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang mengarah pada penangkapan.

Gerbang Pendapa Digembok hingga Proses Penangkapan

OTT KPK diketahui berawal dari datangnya 2 unit mobil langsung masuk ke area pendapa, satu mobil berhenti di gerbang pendapa, memblokir lalu lintas. Gerbang pendapa digembok sehingga tidak ada yang masuk maupun keluar.

Petugas KPK meminta satu orang di penjagaan untuk mengantar ke dalam. Mungkin untuk menunjukkan seluk beluk di pendapa. KPK kemudian menyita semua ponsel personal yang ada di pendapa. Sebanyak 15 ponsel milik regu jaga siang disita, lalu 15 orang regu jaga malam yang baru datang juga disita. Ponsel milik personel rumah tangga pendapa juga disita.

“Saya datang ke Pendapa ternyata di dalam sudah ada KPK. Langsung HP disita, dimasukkan dalam plastik klip,” ujar sumber. Sekitar 40 ponsel ikut dibawa ke Markas Polres Tulungagung, lokasi KPK memeriksa para pejabat. Seluruh ponsel diambil personel Satpol PP pada Sabtu (11/4/2026) pagi di Polres Tulungagung, lalu dibawa balik ke pendapa.

Bupati Sembunyi hingga Petunjuk Ajudan

Sumber internal pendapa lainnya menyebut, 2 mobil lain yang masuk ke pendapa membawa Kabag Umum, Yulius Rama Isworo. Di area pendapa, tim KPK mendapati ajudan bupati, Dwi Yoga Ambal.

“Orang KPK sempat menanyakan keberadaan Pak Bupati, tapi ajudan mengaku tidak tahu,” ujar W, sumber tadi. Personel KPK sempat menekan Dwi Yoga hingga membuatnya mau menunjukkan kebenaran Bupati Gatut Sunu Wibowo. Menurut W, bupati saat itu bersembunyi di dalam mobil yang ada di garasi.

Gatut Minta Maaf

Gatut Sunu Wibowo, akhirnya buka suara dengan melontarkan permohonan maaf sesaat sebelum digiring ke mobil tahanan. Berdasarkan pantauan wartawan Tribunnews.com, Ilham Rian Pratama, Gatut keluar dari Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, pada hari ini, Minggu (12/4/2026) dini hari pukul 00.18 WIB.

Ia keluar usai menjalani pemeriksaan intensif pasca-Operasi Tangkap Tangan (OTT). Gatut terpantau telah mengenakan rompi oranye khas tahanan KPK dengan kedua tangan yang digelangi borgol. Saat ditanya oleh awak media mengenai kasus yang menjeratnya, Gatut hanya memberikan satu pernyataan singkat.

“Mohon maaf,” ucap Gatut sesaat sebelum menumpangi mobil tahanan KPK.

Modus Pemerasan dengan Surat Pernyataan

Kasus ini mengungkap modus operandi pemerasan yang cukup rapi di mana Gatut secara sengaja menekan para bawahannya. Praktik culas tersebut bermula sesaat setelah ia melantik sejumlah pejabat. Gatut memaksa mereka untuk menandatangani surat pernyataan mundur dari jabatan dan mundur dari status Aparatur Sipil Negara (ASN) tanpa diberi tanggal.

Dokumen bodong ini kemudian dijadikan senjata untuk menyandera para pejabat agar loyal, jika berani membangkang, surat tersebut akan digunakan untuk mencopot jabatan mereka. Bermodalkan ancaman itu, Gatut dengan leluasa meminta jatah uang kepada setidaknya 16 Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pejabat lainnya dengan total target mencapai Rp 5 miliar.

Penggunaan Dana Hasil Korupsi

Dari total target tersebut, KPK menduga Gatut telah mengantongi uang panas sekitar Rp 2,7 miliar. Mirisnya, uang hasil memeras bawahan ini digunakan untuk menopang gaya hidup dan kebutuhan pribadinya. Dana tersebut dipakai untuk:

  • Membeli koleksi sepatu mewah bermerek Louis Vuitton
  • Biaya berobat
  • Jamuan makan
  • Uang juga diduga turut mengalir sebagai Tunjangan Hari Raya (THR) kepada sejumlah anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di Pemkab Tulungagung.

Setoran Lelang di RSUD

Tidak hanya itu, Gatut juga disinyalir cawe-cawe dalam pengadaan barang dan jasa dengan mengatur pemenang lelang di RSUD. Terbongkarnya skandal ini berawal dari deteksi tim KPK atas pergerakan penyerahan uang tunai senilai Rp 335,4 juta dari seorang staf pejabat kepada ajudan bupati yang dipastikan sebagai realisasi jatah setoran.

Dalam operasi senyap tersebut, KPK awalnya mengamankan 18 orang, sebelum akhirnya membawa 13 orang ke Jakarta beserta barang bukti berupa dokumen, barang elektronik, sepatu Louis Vuitton, dan uang tunai. Guna kepentingan penyidikan lebih lanjut, KPK langsung menjebloskan Bupati Gatut dan ajudannya ke balik jeruji besi.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *