Peristiwa Pembunuhan di Lubuklinggau: Konflik Warisan Berujung Tragedi
Sugiansyah, yang akrab dipanggil Yansyah (36), seorang warga dari Desa Muara Tiku, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), tewas dalam kekerasan yang diduga terjadi karena konflik warisan. Kejadian tragis ini terjadi pada Jumat (10/4/2026) malam, ketika Yansyah dikeroyok dan ditikam oleh Farij Pardian Mahardika, yang merupakan sepupunya sendiri.
Yansyah tinggal mengontrak di Perumahan Permata Permai 17 A, Kelurahan Batu Urip, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Kota Lubuklinggau. Ia tinggal di sana selama sekitar lima bulan terakhir bersama istri dan dua anaknya yang masih balita. Di mata tetangganya, Yansyah dikenal sebagai sosok yang baik dan ramah. Bahkan, ia sering berinteraksi dengan warga sekitar, termasuk saat Lebaran Idulfitri lalu ikut dalam kegiatan pantauan (sanjo) ke rumah-rumah warga.
Peristiwa maut itu terjadi ketika Yansyah sedang melihat proses pembangunan rumahnya di Jalan Rawa Makmur, RT 5, Kelurahan Batu Urip, Kecamatan Lubuklinggau Utara II. Saat itu, ia dikeroyok dan ditikam di depan anak-istrinya. Meskipun sempat dibawa ke Rumah Sakit Ar-Bunda, nyawanya tidak tertolong.
Pelaku Diduga Minta Bagian 20 Persen dari Warisan
Dari informasi yang dihimpun, peristiwa ini bermula dari uang warisan senilai Rp1 miliar yang baru saja diterima Yansyah dari keluarganya. Farij, yang merasa memiliki hak atas warisan tersebut, meminta bagian sebesar 20 persen. Namun, permintaan itu tidak dipenuhi, sehingga memicu konflik.
Berdasarkan keterangan kerabat korban yang tak ingin disebutkan namanya, sebelum peristiwa ini terjadi, Yansyah dan Farij pernah terlibat cekcok mulut karena masalah warisan. Dugaannya, setelah menemui Yansyah di lokasi pembangunan rumah, Farij emosi dan menusuk korban sebanyak lima kali hingga meninggal dunia.
Korban mengalami luka tusuk benda tajam sebanyak lima kali. Rincian lukanya adalah dua tusukan di bagian dada sebelah kanan, dua tusukan di bagian perut sebelah kiri, dan satu tusukan di bagian perut sebelah kanan.
Istri Korban Berharap Keadilan
Ria, istri almarhum, menyampaikan harapan agar pelaku dapat segera ditangkap oleh polisi. Ia menyebutkan bahwa keempat pelaku, yang masih satu keluarga dengan Yansyah, datang menggunakan mobil Honda Brio untuk meminta pembagian uang warisan Rp1 miliar yang diterima Yansyah dari orang tuanya.
Menurut Ria, keempat pelaku datang dan meminta bagian warisan, tetapi Yansyah tidak memberikan. Akibatnya, Farij emosi dan menusuk korban hingga meninggal dunia. Setelah dilarikan ke rumah sakit, korban tidak lagi sadar dan akhirnya meninggal dunia.
Penangkapan Pelaku
Kapolres Lubuklinggau, AKBP Adithya Bagus Arjunadi, melalui Kasat Reskrim, AKP M Kurniawan Azwar, menjelaskan bahwa setelah menerima Laporan Polisi, Tim Macan Linggau melakukan penyelidikan dengan pemeriksaan saksi-saksi dan pengecekan TKP. Setelah itu, tim langsung mencari keberadaan pelaku.
Pada Jumat (10/4/2026) sekitar pukul 22.30 WIB, tim mendapatkan informasi bahwa salah satu pelaku ada di Desa Bingin Jungut, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas. Tim langsung menuju lokasi tersebut dan berhasil mengamankan satu orang pelaku. Pelaku mengakui perbuatannya telah melakukan penusukan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.
Pengakuan Pelaku
Setelah diamankan, pelaku mengakui perbuatannya. Ia mengakui bahwa dirinya dan keluarganya datang ke lokasi pembangunan rumah Yansyah untuk meminta bagian warisan. Namun, karena tidak diberi, ia emosi dan menusuk korban.
Peristiwa ini menunjukkan betapa sensitifnya isu warisan dalam keluarga, terlebih jika melibatkan anggota keluarga dekat seperti sepupu. Tragedi ini juga menjadi peringatan tentang pentingnya komunikasi yang baik dan pengelolaan konflik secara damai.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











