Festival Graffiti Internasional 2026: Wave of Wall Mengubah Wajah Kota Batam
Festival seni urban yang dinamakan International Graffiti Festival 2026: Wave of Wall resmi dibuka pada Sabtu (11/4/2026) di kawasan Nagoya City Walk. Acara ini berlangsung meriah dan menarik perhatian banyak pengunjung. Selain menjadi ajang pamer karya seniman, festival ini juga menjadi momen penting bagi Batam untuk memperkenalkan identitas barunya sebagai pusat berkembangnya seni urban yang dinamis dan kreatif.
Pembukaan acara ditandai dengan hadirnya puluhan seniman graffiti dari berbagai negara. Mereka langsung menyulap wajah kota menjadi panggung seni jalanan berskala internasional. Penanggung jawab acara, Agung, menjelaskan bahwa Wave of Wall merupakan gerakan kolektif seni visual berbasis di Batam yang bertujuan untuk mengubah ruang-ruang kota menjadi galeri terbuka.
“Kami ingin menghadirkan energi baru di ruang publik, mengubah dinding-dinding monoton menjadi medium ekspresi yang hidup,” ujarnya.
Menurut Agung, festival ini bukan sekadar ajang pamer karya, tetapi juga bagian dari upaya membangun citra baru Batam di mata dunia. “Selama ini Batam dikenal sebagai kota industri. Melalui festival ini, kami ingin menunjukkan bahwa Batam juga punya denyut seni urban yang kuat,” tambahnya.
Festival ini digelar selama dua hari, 11–12 April 2026, dengan konsep Wall Invasion yang artinya “serangan kreatif”. Konsep ini melibatkan seniman lokal dan internasional untuk menciptakan karya seni berskala besar di berbagai titik kota, dengan pusat kegiatan di basement Nagoya City Walk.
“Istilah ‘invasion’ bukan dalam arti negatif, tetapi simbol bagaimana kami merebut kembali ruang visual kota dari kesan abu-abu menjadi lebih hidup dan penuh cerita,” jelas Agung.
Rangkaian Acara yang Menarik
Koordinator acara, Etek, menjelaskan bahwa hari pertama festival difokuskan pada kegiatan seperti graffiti jamming, uji coba spray painting, pameran seni, serta penampilan musik dan DJ yang memeriahkan suasana pembukaan. Sementara itu, pada hari kedua, rangkaian acara akan dilanjutkan dengan graffiti games, skateboard games, talkshow, pameran seni lanjutan, hingga pertunjukan musik.
“Kami ingin menghadirkan ruang diskusi juga, karena graffiti bukan sekadar visual, tetapi bagian dari budaya,” kata Etek.
Seniman Internasional dan Lokal Berpartisipasi
Festival ini menghadirkan seniman internasional dari berbagai negara seperti Prancis, Turki, India, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Beberapa nama yang turut ambil bagian antara lain Potinword (Prancis), Kadirmersoy (Turki), Bongster (India), serta Kart dan Stranger (Singapura), hingga 3top dan Khun (Thailand). Kehadiran mereka menjadi ajang pertukaran ide, teknik, dan perspektif bagi para seniman lokal.
Dari dalam negeri, sejumlah seniman turut meramaikan festival ini, di antaranya Reaz (Yogyakarta), Mine (Kebumen), Lambok (Medan). Serta seniman tuan rumah seperti Stepone, Froston, dan Wepz dari Batam.
Aktivitas Komunitas yang Menarik
Tak hanya pameran seni, festival ini juga diramaikan dengan berbagai aktivitas komunitas, mulai dari area uji coba spray painting, permainan skateboard dan fingerboard, live painting pada mobil. Hingga pertemuan komunitas sepeda, Vespa, dan motor kustom. Kegiatan thrifting turut melengkapi rangkaian acara yang memadukan seni, gaya hidup, dan ekonomi kreatif.
Etek berharap International Graffiti Festival 2026 dapat menjadi agenda tahunan yang berkelanjutan dan mampu mengangkat Batam ke dalam peta seni urban global.
“Harapannya ini bukan sekadar acara satu kali, tetapi menjadi gerakan yang terus hidup, melibatkan komunitas, membuka ruang ekspresi, dan menghidupkan kota secara kreatif,” tutupnya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











