Sejarah Gedung Siola di Jalan Tunjungan, Surabaya
Gedung Siola yang terletak di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur, adalah salah satu bangunan ikonik yang telah menjadi bagian dari sejarah kota ini sejak awal abad ke-20. Bangunan ini tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan perdagangan modern era kolonial, tetapi juga menjadi tempat penting dalam pertempuran 1945 dan kini berubah fungsi menjadi museum serta pusat layanan publik.
Awal Mula Pembangunan Gedung Siola
Gedung Siola pertama kali dibangun pada tahun 1877 oleh investor asal Inggris, Robert Laidlaw. Awalnya, gedung ini diberi nama “Het Engelsche Warenhuis” atau Toko Serba Ada Inggris. Pada masa itu, bangunan ini menjadi bagian dari jaringan ritel besar dunia. Gedung ini awalnya dikelola oleh perusahaan ritel Inggris Whiteaway Laidlaw & Co dengan nama “Whiteaway Laidlaw.”
Pada masa sebelum kemerdekaan, kawasan Jalan Tunjungan dikenal sebagai area elite yang digunakan oleh warga Belanda untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Harga barang di kawasan ini sangat tinggi, sehingga hanya dapat dijangkau oleh kalangan tertentu. Dalam memoarnya, Hario Kecik menggambarkan suasana Tunjungan sebagai pusat perbelanjaan mewah dengan deretan toko eksklusif. Sementara itu, penyiar radio asal Australia, Frank Clune, menyebut kawasan tersebut sebagai pusat belanja paling trendi di Asia, lengkap dengan toko buku multibahasa hingga penjual barang seni dan tas kulit berkualitas tinggi.
Peran Penting Selama Perjuangan Kemerdekaan
Memasuki masa perjuangan kemerdekaan, Gedung Siola memiliki peran penting dalam sejarah pertempuran Surabaya. Gedung ini dijadikan titik pertahanan rakyat untuk menghadang pasukan Inggris. Dalam peristiwa tersebut, tercatat aksi heroik seorang pemuda bernama Madun. Madun memberikan tembakan perlindungan seorang diri menggunakan senapan mesin untuk menahan serangan musuh, sehingga rekan-rekannya dapat menyelamatkan diri. Namun, Madun gugur setelah serangan udara Inggris menghantam lokasi tersebut. Jasanya kini dikenang melalui sebuah patung yang berada di kawasan Siola.
Serangan udara yang intens menyebabkan kerusakan parah pada bagian depan gedung. Pada November 1945, gedung ini menjadi markas pertahanan rakyat Surabaya dan menjadi sasaran tembakan tank pasukan sekutu hingga terbakar dan rusak berat.
Transformasi Menjadi Pusat Grosir dan Tempat Wisata
Pasca perang, gedung sempat terbengkalai hingga akhirnya pada tahun 1950 diambil alih pemerintah dan menjadi aset Pemerintah Kota Surabaya. Pada tahun 1960, lima pengusaha yakni Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem, dan Aang mengontrak serta merenovasi gedung tersebut menjadi pusat grosir modern bernama Siola, akronim dari nama mereka.
Siola kemudian berkembang menjadi salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan dianggap sebagai “mall” pertama di Surabaya. Kejayaannya berlangsung selama kurang lebih 28 tahun sebelum akhirnya tutup pada tahun 1998 akibat persaingan dengan pusat perbelanjaan modern lainnya. Setelah sempat difungsikan sebagai Tunjungan Center dan Ramayana Department Store pada 1999 hingga 2008, gedung ini kembali dikelola Pemerintah Kota Surabaya.
Pengembangan Menjadi Museum dan Mall Pelayanan Publik
Pada tahun 2015, di bawah kepemimpinan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, Gedung Siola diubah menjadi Museum Surabaya sekaligus Mall Pelayanan Publik. Kini, meskipun telah mengalami berbagai perubahan fungsi, Gedung Siola tetap menjadi landmark penting di Jalan Tunjungan dan simbol sejarah panjang perdagangan serta perjuangan Kota Surabaya.











