LONDON — Inggris menghadapi ancaman kekurangan pasokan daging ayam, daging babi, dan beberapa komoditas lainnya pada musim panas ini. Hal ini disebabkan oleh ketegangan di kawasan Timur Tengah serta blokade Selat Hormuz. Informasi tersebut didapatkan dari analisis rahasia pemerintah yang dilaporkan oleh surat kabar The Times. Pemerintah Inggris telah menyiapkan rencana darurat untuk menghadapi skenario terburuk, termasuk kemungkinan blokade Selat Hormuz yang berlangsung hingga Juni 2026.
Karbon dioksida menjadi salah satu komponen penting dalam sektor pangan. Gas ini digunakan untuk memperpanjang masa simpan produk seperti salad, daging kemasan, dan makanan panggang. Selain itu, karbon dioksida juga diperlukan dalam proses penyembelihan hampir seluruh babi dan lebih dari dua pertiga ayam. Industri minuman juga tidak luput dari risiko, karena gas ini digunakan untuk memberikan karbonasi pada minuman. Kekhawatiran muncul bahwa kekurangan bir bisa terjadi bersamaan dengan penyelenggaraan Piala Dunia FIFA yang akan dimulai pada 11 Juni mendatang.
Meski tidak ada ancaman kekurangan pangan secara kritis, variasi produk di toko kemungkinan akan berkurang. Dalam situasi kekurangan karbon dioksida, pemerintah akan memprioritaskan sektor nuklir dan kesehatan, di mana gas ini digunakan untuk produksi es kering yang berfungsi mendinginkan darah donor, organ, dan vaksin. Jika terjadi kelangkaan, Inggris akan meningkatkan produksi karbon dioksida dengan mengurangi produksi sektor lain serta melonggarkan aturan antimonopoli.
Sumber pemerintah menyatakan bahwa skenario terburuk tersebut merupakan bagian dari perencanaan rutin, bukan prediksi. Namun, situasi di kawasan Timur Tengah semakin memicu kekhawatiran. Pada Sabtu (11/4), Iran dan Amerika Serikat (AS) menggelar pembicaraan di Islamabad setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Teheran. Namun, pada Ahad (12/4), Wakil Presiden J.D. Vance menyatakan bahwa kedua pihak gagal mencapai kesepakatan.
Pada Senin (13/4), Angkatan Laut AS mulai memberlakukan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz. Blokade ini mencakup sekitar 20 persen pasokan minyak, produk petroleum, dan LNG dunia. Washington menegaskan bahwa kapal non-Iran tetap dapat melintasi Selat Hormuz selama tidak membayar biaya kepada Teheran. Meski otoritas Iran belum mengumumkan penerapan pungutan tersebut, mereka telah membahas rencana ke arah itu.
Dana Moneter Internasional (IMF) mengkhawatirkan gangguan rantai pasokan akibat penghentian lalu lintas di Selat Hormuz. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyampaikan bahwa kerusakan fisik dalam rantai pasokan sudah terlihat, terutama di Asia yang sangat bergantung pada impor dari Teluk. Ia menyebut adanya kekurangan tidak hanya pada minyak dan gas, tetapi juga nafta dan helium. Georgieva menilai dampak gangguan tersebut bisa meningkat dalam beberapa pekan mendatang.
Ia menyarankan agar negara-negara mengadopsi langkah-langkah penghematan energi, seperti membuat transportasi umum gratis atau mendorong kerja jarak jauh. Mengenai pasokan bahan bakar, Georgieva menilai April akan menjadi masa yang lebih sulit dibandingkan bulan sebelumnya, karena kapal tanker yang berangkat sebelum 28 Februari telah sampai di tujuan dan tidak ada pengiriman baru yang akan datang.
Eskalasi konflik antara AS dan Iran, yang dimulai sejak serangan pada akhir Februari lalu, menyebabkan blokade de facto terhadap Selat Hormuz. Jalur ini merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Hal ini juga memengaruhi aktivitas ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut. Angkatan Laut AS mulai memblokade semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi jalur air tersebut.











