Ringkasan Berita
Low Tuck Kwong, seorang tokoh bisnis yang lahir di Singapura, adalah pendiri perusahaan pertambangan batubara terbesar di Indonesia, Bayan Resources. Pada acara perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili Partai Demokrat di Djakarta Theater pada Rabu (18/2/2026), Low Tuck Kwong berhasil memenangkan lelang lukisan karya Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan nilai fantastis sebesar Rp6,5 miliar.
Lukisan SBY berjudul “Kuat dan Energik Laksana Kuda Api” menunjukkan seekor kuda berwarna biru yang sedang berlari dengan surai yang menyerupai kobaran api berwarna oranye. Lukisan ini dibuat dalam rangka merayakan Imlek Tahun Kuda Api dan dipamerkan sebelum dilelang. Menurut SBY, “kuda api” melambangkan tekad, energi, dan kekuatan untuk mencapai tujuan. Ia menjelaskan bahwa warna biru dalam lukisan tersebut melambangkan perdamaian, seperti warna Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sosok Low Tuck Kwong
Dato’ Low Tuck Kwong adalah salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia bisnis Indonesia. Ia lahir di Singapura pada 17 April 1948 dan resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) pada tahun 1992. Low Tuck Kwong merupakan pendiri PT Bayan Resources Tbk (BYAN), salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang bergerak di sektor tambang batu bara.
Karier Low Tuck Kwong dimulai di perusahaan konstruksi milik ayahnya di Singapura, lalu pindah ke Indonesia pada tahun 1972. Satu tahun kemudian, ia mendirikan PT Jaya Sumpit Indonesia (JSI) sebagai kontraktor pekerjaan sipil dan struktur. Pada tahun 1988, JSI berekspansi ke bisnis penambangan batu bara dan menjadi kontraktor tambang terkemuka. Ia kemudian membeli tambang batu bara pertamanya melalui PT Gunungbayan Pratamacoal pada tahun 1997.
Selain batu bara, Low Tuck Kwong juga memiliki kepentingan bisnis di sektor energi terbarukan melalui perusahaan Singapura Metis Energy. Ia diketahui juga terlibat dalam operasional sistem kabel bawah laut melalui SEAX Global. Pria berusia 77 tahun itu dikenal aktif dalam kegiatan filantropi, termasuk dukungan terhadap pelestarian satwa liar dan pemberian beasiswa pendidikan di berbagai universitas ternama.
Pada penghujung tahun 2022, Forbes mencatat total kekayaannya berada di angka 25,2 miliar dolar AS, menjadikannya orang terkaya nomor dua di Tanah Air. Di tahun 2025, Low Tuck Kwong menjadi orang terkaya nomor 4 di Indonesia dan menjadi miliarder nomor 72 di dunia.
Fakta Low Tuck Kwong
Low Tuck Kwong dikenal sebagai raja batubara, pendiri Bayan Resources, sebuah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia. Dia juga mengendalikan perusahaan energi terbarukan Singapura, Metis Energy (sebelumnya dikenal sebagai Manhattan Resources), dan memiliki saham di The Farrer Park Company dan Samindo Resources.
Low mendukung SEAX Global, yang sedang membangun sistem kabel laut bawah laut untuk konektivitas internet yang menghubungkan Singapura, Indonesia, dan Malaysia. Saat masih remaja, Low bekerja di perusahaan konstruksi ayahnya di Singapura, kemudian pindah ke Indonesia pada tahun 1972 untuk mencari peluang yang lebih besar. Pada Agustus 2024, ia mentransfer saham di Bayan, yang saat itu bernilai $6,6 miliar, kepada putrinya, Elaine.
Low Tuck Kwong Menang Lelang Lukisan SBY
Lukisan karya Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terjual seharga Rp 6,5 miliar dalam lelang pada perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili Partai Demokrat di Djakarta Theater, Rabu (18/2/2026). Berjudul “Kuat dan Energik Laksana Kuda Api”, lukisan tersebut berukuran 130 cm x 80 cm, menggambarkan seekor kuda berwarna biru yang tengah berlari dengan surai menyerupai kobaran api berwarna oranye.
Proses lelang dipimpin Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN Ossy Dermawan, yang dibuka dengan harga Rp 200 juta. Angka lelang untuk lukisan tersebut terus meningkat, mulai dari Rp 300 juta hingga Rp 700 juta. Sejumlah tokoh turut menyampaikan penawaran, termasuk influencer Indonesia Deddy Corbuzier yang mengajukan Rp 1 miliar.
Setelah itu, harga lukisan SBY perlahan naik menjadi Rp 4,8 miliar, Rp 5 miliar, Rp 5,5 miliar, hingga Rp 6 miliar. Persaingan kemudian mengerucut pada dua penawar terakhir, yakni pengusaha Hermanto Tanoko dan keluarga Dato’ Low (Low Tuck Kwong), yang saling menaikkan penawaran hingga menembus Rp 6 miliar. Akhirnya, lukisan tersebut dibeli oleh pendiri Bayan Resources, Low Tuck Kwong dengan nilai Rp 6,5 miliar.
Makna Lukisan “Kuda Api”
SBY melahirkan karya tersebut dalam rangka perayaan Imlek Tahun Kuda Api dan dipamerkan di hadapan para undangan sebelum dilelang. Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu menjelaskan makna filosofis di balik lukisan tersebut, di mana “Kuda Api” melambangkan tekad, energi, dan kekuatan untuk mencapai tujuan. Ia menjelaskan bahwa biru dalam lukisan tersebut melambangkan perdamaian.
SBY juga menyampaikan harapannya agar semangat kuda api dapat menjadi inspirasi bagi bangsa Indonesia dan Partai Demokrat. Sejak didirikan, Partai Demokrat menempuh jalan perjuangan yang lurus dengan berpegang teguh pada nilai-nilai yang diyakini serta berkomitmen meraih keberhasilan melalui cara-cara yang benar dan bermartabat.
Hasil Lelang Akan Disalurkan Oleh Demokrat
Agus Harimurti Yudhoyono, anak Susilo Bambang Yudhoyono, mengatakan hasil lelang lukisan akan dipergunakan untuk membantu warga prasejahtera, termasuk di kalangan etnis Tionghoa. Tak hanya itu, hasil lelang juga sebagian diperuntukan bagi warga terdampak bencana.
Puncak perayaan Imlek oleh Partai Demokrat dihadiri para tokoh dan pejabat pemerintahan. Antara lain, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanegara, Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya, Wamendikti Saintek Stella Christie, Wamen Diana Kusumastuti, dan Wamenaker Afriansyah Noor. Para pejabat utama DPP Partai Demokrat dan anggota DPR RI juga hadir. Antara lain, Herman Khaeron (Sekjen), Edhie Baskoro Yudhoyono (wakil ketua umum/wakil ketua MPR), Dede Yusuf Macan Effendi (wakil ketua umum), dan Merry Riana, kader baru Partai Demokrat yang didaulat jadi ketua panitia Imlek 2026.
Ketua DPD Partai Demokrat Jabar Anton Sukartono Suratto juga hadir dalam perayaan Imlek tersebut. Begitu pun sejumlah mantan menteri era Presiden SBY.











