Kehidupan Desy Pratiwi Putri: Dari Hobi Menjadi Bisnis Sukses
Desy Pratiwi Putri, seorang ibu rumah tangga di Kota Batu, kini berhasil menjalankan usaha kerajinan tangan bernama Silhouette Crochet yang sukses menembus pasar luar negeri. Usaha ini dimulai dari hobi sederhana dan bertransformasi menjadi penghasilan utama keluarganya.
Awal Mula Kehidupan Berbisnis
Awalnya, Desy hanya membuat produk rajutan sebagai cara mengisi waktu luang saat mengantar anak sekolah. Tidak pernah ia menduga bahwa karya-karyanya akan menjadi bisnis yang menghasilkan. Ia memulai usaha ini pada tahun 2016 dengan hanya membuat 10 produk. Dari situ, kapasitas produksi meningkat secara bertahap hingga mencapai 2.500 pcs per bulan.
Produk yang dibuat oleh Desy antara lain kalung, gelang, tas, bros, dan anting dengan ciri khas rajutan etnik. Bahan-bahan yang digunakan bervariasi, seperti benang sutra hasil peternak lokal, batik, rami, goni, kayu, batu alam, kain ecoprint, serta serat daun agel atau komponen daur ulang.
Perjalanan Menuju Kesuksesan
Desy mengatakan bahwa awal mula karyanya dinilai aneh oleh sebagian orang. Bahkan ada yang mengira karyanya mirip aksesoris dukun atau jimat. Namun, ia tidak pernah menyerah. Dengan keyakinan untuk sukses, hasil rajutannya mulai dijual skala kecil kepada teman-teman, tetangga, dan ibu-ibu yang juga sedang mengantar anak sekolah.
Pada tahun 2019, Desy menemukan produk baru berupa aksesoris etnik khas rajutan yang belum ada di Kota Batu. Produk tersebut akhirnya diikutkan dalam sebuah pameran di Kota Malang. Sebanyak 10 produk itu terjual dengan harga Rp 125.000 per pcs, sehingga ia pulang dengan membawa Rp 1.250.000. Dari sinilah kepercayaan diri dan mimpi Desy untuk mengembangkan bisnisnya muncul.
Uang hasil penjualan digunakan untuk membeli bahan-bahan seperti tali, benang, dan bahan lainnya. Mulai dari situ, Desy memproduksi dalam jumlah yang lebih banyak dengan kisaran harga mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 1.500.000.
Keberhasilan di Pasar Internasional
Karya Desy semakin dikenal hingga dilirik Wali Kota Batu, yang saat itu dijabat oleh Dewanti Rumpoko. Sekarang, produknya sudah diekspor ke beberapa negara seperti Jepang, Korea, Australia, hingga Amerika. Hal ini terjadi karena Desy tekun mengikuti pameran-pameran, baik yang diselenggarakan pemerintah maupun non-pemerintah.
Menurut Desy, rajutan etnik buatannya banyak dilirik di luar negeri karena mayoritas orang asing menyukai barang-barang yang berkaitan dengan budaya, keunikan, dan nilai estetika. Selain itu, rajutan bikinan Desy juga sering dibeli oleh desainer handal dari dalam dan luar negeri untuk dipakai model saat catwalk.
Acara bergengsi yang pernah diikuti terdiri dari event Apresiasi Kreasi Indonesia oleh Kemenparekraf, Inacraft, Batik Fashion Show di Canberra Australia, hingga Nusantara Fashion Feast Sidney Australia. Berkat kegigihan dan ketekunannya, Desy meraih banyak penghargaan.
Pemberdayaan dan Kolaborasi
Dalam mengembangkan usahanya, Desy kini memiliki delapan karyawan tetap yang terdiri dari ibu-ibu pemberdayaan. Sebelum direkrut menjadi karyawan, para ibu-ibu ini telah mengikuti pelatihan langsung dari Desy terkait rajutan.
Selain itu, ia juga kolaborasi dengan beberapa pengrajin UMKM dan peternak ular sutra di wilayah Batu dan Pasuruan. Desy juga bekerja sama dengan komunitas perempuan di Bangkalan untuk mendapatkan bahan baku serat daun agel.
Semangat Emansipasi Wanita
Semangat pantang menyerah perempuan yang kini memiliki mini display produk Silhouette Crochet di Jalan Melati Kavling 7, Songgokerto, Kota Batu itu, mencerminkan emansipasi wanita di momen Hari Kartini.
Meski berperan sebagai ibu rumah tangga, Desy masih berjuang untuk mengembangkan usahanya. Dari awalnya hasil jualannya untuk uang jajan, kini menjadi pemasukan utama bagi keluarganya.
Desy berharap usahanya dapat bertahan di tengah gempuran produk-produk China dan produk-produk asing yang murah. Ia berharap orang-orang akan tetap menghargai karya seni yang berbeda dengan produk-produk pabrikan. Dengan begitu, produk usaha ini semakin besar, pemberdayaannya semakin banyak, dan makin banyak ekonomi keluarga yang terbantu.











