My WordPress Blog

Lonjakan harga minyak ancam defisit APBN 4 persen

Kenaikan Harga Minyak dan Dampaknya terhadap Perekonomian Global

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abdul Hakam Naja, menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting di Teluk Persia, berpotensi meningkatkan ketegangan dan eskalasi konflik yang akan berdampak luas terhadap perekonomian global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melalui jalur tersebut.

“Indonesia harus waspada terhadap kenaikan harga minyak hingga mencapai 92 dolar AS per barel, yang merupakan rekor tertinggi sejak 2020,” ujar Hakam dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (9/3/2026). Ia menambahkan bahwa dalam asumsi makro APBN 2026, harga minyak ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel. Setiap kenaikan harga minyak satu dolar AS per barel berpotensi menambah defisit APBN sekitar Rp 6,8 triliun.

“Kenaikan harga minyak mendekati 100 dolar AS per barel dapat mendorong defisit APBN terhadap PDB mendekati empat persen. Angka ini melampaui batas tiga persen yang dipatok dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,” ujarnya.

Langkah-Langkah yang Perlu Dilakukan

Hakam menilai beberapa langkah perlu dilakukan apabila konflik antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran terus berlanjut dan harga minyak melampaui 100 dolar AS per barel.

Pertama, pemerintah perlu melakukan efisiensi anggaran negara secara signifikan sehingga belanja difokuskan pada kebutuhan langsung masyarakat. “Belanja difokuskan untuk pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, pangan, energi, pengentasan kemiskinan, infrastruktur dasar, dan pelayanan publik,” kata Hakam.

Kedua, pemerintah perlu mengurangi konsumsi minyak dengan mempercepat program konversi energi dari minyak ke energi baru dan terbarukan. Misalnya melalui pengembangan energi surya melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), energi air melalui pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta energi angin melalui pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) sebagai pengganti pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).

Selain itu, pemanfaatan kendaraan listrik, baik sepeda motor maupun mobil termasuk untuk transportasi publik, perlu diperluas dengan dukungan insentif serta fasilitas pendukung seperti keringanan pajak dan penyediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).

Ketiga, stimulus ekonomi perlu digencarkan agar perekonomian tidak terpuruk. Hal ini dapat dilakukan melalui deregulasi dengan memangkas aturan yang menghambat kegiatan ekonomi serta debirokratisasi untuk menyederhanakan proses perizinan yang berbelit.

“Langkah ini juga dapat menjadi momentum kebangkitan ekonomi, khususnya bagi UMKM. Dengan insentif yang tepat, sektor ini dapat bangkit di tengah ketidakpastian global. Kita harus memperkuat ekonomi domestik karena dalam setiap krisis selalu ada peluang untuk bangkit dan berkembang,” ujar Hakam.

Keempat, Hakam mendorong pembatalan perjanjian dagang Indonesia–Amerika Serikat, yakni Agreement on Reciprocal Trade (ART), melalui pengajuan resmi pemerintah Indonesia kepada AS. Ia menilai dasar hukum kesepakatan tersebut berkaitan dengan kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump.

Menurut dia, kebijakan tarif tersebut telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS pada 20 Februari 2020 sehingga perjanjian ART perlu ditinjau ulang. “Pemberlakuan ART akan sangat memberatkan fiskal Indonesia yang juga harus menghadapi lonjakan harga minyak global,” katanya.

Hakam menilai perundingan dengan AS sebaiknya dimulai kembali dari awal dengan tim negosiasi baru yang lebih kuat dan mampu memperjuangkan kepentingan nasional secara setara.

Ia juga mengingatkan tim negosiasi Indonesia harus memiliki mandat kuat untuk menjaga kedaulatan negara serta mengedepankan prinsip kesetaraan dan solusi yang saling menguntungkan.

Penyesuaian Harga BBM Bersubsidi

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi berpotensi naik apabila harga minyak dunia terus melonjak hingga melampaui kapasitas APBN.

“Kalau memang anggarannya sudah tidak kuat, tidak ada jalan lain, kami harus berbagi dengan masyarakat sebagian. Artinya, ada kenaikan BBM,” kata Purbaya dalam taklimat media di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/3/2026) lalu.

Namun, ia menegaskan kenaikan tersebut baru akan dilakukan apabila APBN tidak lagi mampu menahan tekanan dari kenaikan harga minyak dunia.

Menurut Purbaya, hasil perhitungan Kementerian Keuangan menunjukkan defisit APBN berpotensi mencapai 3,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) apabila harga minyak bertahan di level 92 dolar AS per barel sepanjang tahun tanpa adanya intervensi pemerintah.

Meski demikian, pemerintah akan menyiapkan sejumlah langkah mitigasi agar lonjakan harga minyak tidak memperlebar defisit APBN.

Selain penyesuaian harga BBM, opsi lain yang dapat ditempuh adalah realokasi belanja negara. Sejumlah anggaran program yang tingkat urgensinya relatif rendah dapat dialihkan untuk menjaga kesehatan fiskal. Sementara itu, belanja yang berdampak langsung kepada masyarakat tetap diprioritaskan.

Ia mencontohkan program yang masih memiliki ruang realokasi anggaran adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pergeseran anggaran tidak akan dilakukan pada fungsi utama program, yakni penyediaan makanan, melainkan pada kegiatan pendukung.

“MBG programnya bagus, tetapi kami ingin mencegah belanja yang tidak terlalu mendukung langsung penyediaan makanan, misalnya pembelian kendaraan bermotor,” kata Purbaya.

Lebih lanjut, Purbaya mengatakan Indonesia pernah menghadapi tekanan harga minyak dunia yang lebih besar sebelumnya, dengan rekor harga minyak mencapai sekitar 150 dolar AS per barel. Pada periode tersebut, perekonomian nasional tetap mampu bertahan.

Ia pun optimistis lonjakan harga minyak kali ini juga dapat dilalui. “Kita dulu pernah melewati keadaan ketika harga minyak mencapai 150 dolar AS per barel. Ekonominya jatuh? Memang sempat melambat, tetapi tidak jatuh. Jadi, kita punya pengalaman,” ujarnya.

Harga Minyak Melampaui 100 Dolar AS per Barel

Harga minyak global melonjak melewati 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak 2022 akibat dampak perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Akhir pekan yang diwarnai peningkatan kekerasan di Timur Tengah memperparah kekhawatiran tentang krisis pasokan energi berkepanjangan. Situasi ini mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam empat tahun serta memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham global.

Sedikitnya lima lokasi energi di dan sekitar Teheran dilaporkan terkena serangan, yang memicu laporan mengenai kondisi “apokaliptik” di ibu kota Iran. Perusahaan minyak nasional Kuwait juga mengumumkan pengurangan produksi sebagai langkah pencegahan di tengah serangan balasan Iran.

Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, melonjak 16,6 persen menjadi 108,10 dolar AS per barel saat perdagangan pekan baru dimulai di pasar Asia Pasifik. Ini menjadi pertama kalinya harga minyak melampaui ambang psikologis tersebut sejak invasi Rusia ke Ukraina. Harga patokan minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga melonjak 19,6 persen menjadi 108,72 dolar AS per barel.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut lonjakan harga energi sebagai “harga yang sangat kecil untuk dibayar” demi keamanan global.

“Lonjakan harga minyak ini merupakan harga yang sangat kecil untuk dibayar bagi Amerika Serikat dan dunia demi keamanan dan perdamaian,” kata Trump pada Ahad melalui media sosial.

Trump menyebut lonjakan harga energi hanya bersifat jangka pendek dan memperkirakan harga minyak akan kembali turun setelah ancaman nuklir Iran berhasil diatasi.

Di sisi lain, pemerintah Iran memperingatkan serangan Amerika Serikat dan Israel berpotensi mendorong harga minyak jauh lebih tinggi. “Jika Anda mampu menoleransi harga minyak lebih dari 200 dolar AS per barel, lanjutkan permainan ini,” kata juru bicara Garda Revolusi Iran (IRGC) setelah serangan akhir pekan lalu terhadap sejumlah fasilitas energi, dikutip laman The Guardian.

Ketegangan geopolitik tersebut juga memicu tekanan besar di pasar saham global. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 6,3 persen pada awal perdagangan Senin di Tokyo, sementara indeks Kospi Korea Selatan merosot 5,9 persen. Indeks ASX 200 Australia juga turun 3,9 persen di Sydney.

Data perdagangan prapasar menunjukkan bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street diperkirakan dibuka melemah.

Harga minyak kembali ke level tiga digit setelah mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak pandemi Covid-19, termasuk lonjakan sekitar 10 dolar AS pada harga minyak mentah Amerika Serikat hanya dalam satu hari perdagangan pada Jumat.

Defisit Minyak Hantam Keseimbangan Pasar

Peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS) Clayton Seigle mengatakan pasar minyak global menghadapi tekanan besar akibat berkurangnya pasokan. “Defisit sekitar 20 juta barel per hari menghantam keseimbangan pasar minyak global tanpa tanda-tanda perbaikan,” kata Seigle.

Ia menilai sikap Presiden Trump yang menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran membuat penyelesaian konflik dalam waktu dekat menjadi tidak realistis.

Sejak awal tahun, harga minyak telah melonjak tajam dari sedikit di atas 60 dolar AS per barel. Kenaikan terjadi secara bertahap pada Januari dan Februari sebelum meningkat lebih tajam setelah serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran yang mengganggu jalur pasokan energi melalui Selat Hormuz.

Kekhawatiran krisis pasokan juga meningkat setelah Menteri Energi Qatar memperingatkan bahwa jika konflik terus berlangsung, negara-negara pengekspor energi di kawasan Teluk berpotensi menghentikan produksi dalam beberapa pekan. Kondisi tersebut dapat mendorong harga minyak hingga 150 dolar AS per barel.

Fasilitas penyimpanan minyak di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait dilaporkan hampir mencapai kapasitas maksimum. Hal ini berpotensi memaksa penutupan sejumlah ladang minyak jika ekspor minyak mentah tidak dapat dilakukan melalui Selat Hormuz.

Ratusan kapal tanker yang mencoba melintasi selat tersebut juga dilaporkan berhenti setelah Garda Revolusi Iran mengancam akan “membakar” kapal yang menggunakan jalur perdagangan itu.

Seigle memperingatkan ekspor minyak dan gas dari Timur Tengah kemungkinan tidak akan kembali normal hingga perusahaan pelayaran dan asuransi merasa kondisi keamanan di kawasan tersebut cukup stabil.

Gedung Putih mempertimbangkan sejumlah langkah darurat, termasuk mengalihkan ekspor minyak Saudi melalui Laut Merah, menggunakan cadangan minyak strategis Amerika Serikat, serta memperluas skema asuransi pemerintah bagi perusahaan pelayaran. Namun langkah tersebut dinilai belum cukup untuk menutup kekurangan pasokan minyak global yang mencapai sekitar 20 juta barel per hari.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *