Penjelasan Menteri Perhubungan tentang Cadangan BBM Nasional
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memberikan penjelasan mengenai cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional yang berkisar antara 20 hingga 23 hari. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama menjelang arus mudik dan balik Lebaran 2026. Dudy memastikan bahwa stok BBM tersebut tidak akan memengaruhi kebutuhan masyarakat.
“Memang storage (kapasitas penyimpanan) 21 hari itu sebenarnya mengukur kapasitas penyimpanannya. Kalau lebih, kita tidak bisa menampung,” ujar Dudy saat memberikan update kesiapan Angkutan Lebaran 2026 di Hotel The Ritz-Carlton, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Sebagai salah satu anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Dudy menjelaskan bahwa angka 21 hari tidak berarti stok BBM akan habis setelah periode tersebut. Angka tersebut merupakan batas minimum cadangan yang harus selalu dijaga, bukan stok statis yang dibiarkan berkurang hingga habis. “Kalau nanti berkurang, maka Pertamina dan ESDM akan menambah,” ucap Dudy.
Dudy menyampaikan bahwa pasokan minyak global mengalami dinamika setelah ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz yang menyumbang sekitar 20 persen dari distribusi minyak global. Namun begitu, lanjut Dudy, Indonesia masih memiliki alternatif pasokan dari negara lain yang relatif tidak terdampak konflik.
“Memang yang di Hormuz itu sekitar 20 persen dari total global. Berarti kita masih ada tempat-tempat lain yang bisa mendapatkan BBM tersebut,” lanjut Dudy.
Dudy menyebut masih terdapat sejumlah tempat lain yang bisa menjadi pilihan untuk pasokan minyak global ke Indonesia. Dudy berharap hal tersebut dapat memberikan angin segar dalam menjaga pasokan stok BBM di Indonesia.
“Kalau saya lihat kemarin itu ada beberapa negara yang sepertinya tidak terlalu terdampak dari lokasi konflik. Ada beberapa negara yang sebagai pengekspor minyak masih bisa memenuhi kebutuhan kita,” kata Dudy.
Penjelasan Menteri ESDM tentang Stok BBM Nasional

Banyak kapal berlabuh karena Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, tempat ratusan kapal pengangkut minyak melintas setiap hari, yang berpotensi memengaruhi perdagangan dunia. – (EPA/STRINGER)
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga meluruskan informasi yang beredar terkait kemampuan stok BBM nasional yang disebut hanya cukup untuk 20 hari akibat perang Timur Tengah.
Bahlil menyatakan kapasitas tersebut bukanlah kondisi darurat, melainkan mencerminkan kemampuan daya tampung (storage) yang selama ini dimiliki Indonesia. “Memang sejak dahulu, sudah sejak lama, bahwa kemampuan storage kita, daya tampung BBM kita di Republik Indonesia ini tidak lebih dari 21 sampai 25 hari,” katanya.
Menurut Bahlil, standar nasional minimal berada di angka 20 hingga 21 hari, sementara maksimalnya sekitar 25 hari. Dalam rapat bersama Dewan Energi Nasional (DEN), rata-rata ketahanan stok BBM nasional tercatat berada di level 22 hingga 23 hari.
Ia menjelaskan keterbatasan stok bukan disebabkan ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan pasokan, melainkan karena kapasitas tangki penyimpanan yang belum mencukupi untuk menampung cadangan yang lebih besar. “Kalau kita mau tambah, kita simpan di mana? Storage-nya memang belum cukup,” ujarnya.
Karena itu, Bahlil meminta agar pemberitaan terkait stok BBM tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Ia mengatakan persoalannya terletak pada infrastruktur penyimpanan, bukan pada ketersediaan pasokan energi.
Lebih lanjut, Bahlil menyampaikan pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto telah mengupayakan percepatan pembangunan fasilitas storage guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Targetnya, kapasitas cadangan energi ke depan dapat mencapai hingga tiga bulan, sejalan dengan standar minimum yang menjadi konsensus global.
“Arahan Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kepada kami untuk segera membangun storage supaya ketahanan energi kita ada. Storage-nya berapa lama? Insyaallah rencana sampai dengan tiga bulan,” katanya.
Langkah ini diharapkan Bahlil dapat menjadi fondasi penguatan sistem ketahanan energi Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik dan fluktuasi pasokan energi dunia.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











