Perubahan Zaman di Kawasan Terminal Leuwi Panjang
Aroma gorengan tempe yang baru diangkat dari wajan menyambut siapa pun yang melintas di depan toko oleh-oleh Sari Milo, di kawasan Terminal Leuwi Panjang. Di atas meja kayu dekat pintu masuk, beberapa tampah besar berisi tempe goreng dan keripik tertata rapi, sementara di dalam toko deretan toples kaca penuh camilan memenuhi rak-rak dinding.
Di balik meja sederhana itu, Totom duduk sambil sesekali menyapa melayani pengunjung yang memilih oleh-oleh di tokonya. Perempuan yang sudah sekitar 25 tahun berjualan oleh-oleh ini telah melewati berbagai perubahan zaman, dari masa ketika terminal dipadati pemudik hingga masa sekarang yang lebih lengang.
Totom mengatakan, ia memulai usaha berjualan oleh-oleh sejak sekitar dua setengah dekade lalu. Saat itu, kawasan terminal masih menjadi salah satu pusat pergerakan pemudik dari dan menuju Bandung. Ia bahkan masih mengingat masa ketika harga tempe jauh berbeda dengan sekarang.
“Dulu dari zaman tempe Rp10.000 per kilo sampai sekarang harga tempe sudah mencapai Rp60.000,” kata Totom.
Sebelum pandemi, menurut Totom, suasana toko oleh-oleh di sekitar terminal hampir tidak pernah benar-benar sepi. Menjelang Lebaran, pembeli bahkan mulai berdatangan sejak dua minggu sebelumnya.
“Biasanya dari dua minggu sebelum Lebaran sudah lumayan ramai tapi sekarang masih seperti ini, yang mudik juga belum banyak,” ujar Totom.
Pada masa itu, terminal juga beroperasi hampir sepanjang waktu. Aktivitas penumpang yang datang dan pergi membuat kawasan sekitar selalu hidup, bahkan hingga larut malam. Namun kondisi tersebut perlahan berubah, terutama sejak pandemi Covid-19. Aktivitas terminal tidak lagi seramai dulu. Banyak toko kini menutup usahanya lebih awal karena pengunjung berkurang.
“Dulu semua toko oleh-oleh daerah sini bisa buka 24 jam, kalau sekarang, paling sampai jam 11 malam sudah tutup. Terminal juga sekitar jam 7 malam sudah mulai sepi,” ujar Totom.
Perubahan itu membuat para pedagang harus menyesuaikan diri. Jika dulu ia bisa menyetok bahan dalam jumlah besar menjelang musim mudik, kini ia lebih berhati-hati.
“Kalau biasanya bisa nyetok sampai dua kuintal tempe. Sekarang mah nggak terlalu banyak, takut keburu rusak,” katanya.
Di toko Sari Milo tempe memang digoreng langsung di tempat. Cara ini dipilih agar makanan tetap segar ketika dibeli pembeli.
“Di sini tempenya digoreng sendiri langsung. Jadi lebih banyak goreng mendadak,” jelasnya.
Totom juga merasakan perubahan lain dalam perilaku konsumen. Jika dulu banyak pemudik membeli oleh-oleh dalam jumlah besar, sekarang pembelian cenderung lebih sedikit. Ia menduga perubahan gaya hidup dan kondisi ekonomi membuat orang lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang.
“Mungkin sekarang orang lebih efisiensi keuangan juga,” katanya.
Kenaikan harga bahan baku juga ikut menambah tantangan bagi para pedagang. Menurut Totom, sejumlah kebutuhan seperti minyak goreng, plastik kemasan, hingga bumbu dapur terus mengalami kenaikan harga.
“Minyak naik, plastik naik, bumbu seperti bawang merah, bawang putih, kencur juga naik. Sebagai pedagang ya jadi untungnya kecil kalau bahan baku terus naik sementara kalau kita naikin harga juga susah karena pendapatan konsumen ya segitu aja,” ujarnya.
Selain itu, munculnya penjualan daring juga mengubah peta persaingan. Banyak pedagang kini mencoba menjual produknya melalui platform online, termasuk toko tempat Totom bekerja. Namun ia mengaku penjualan daring tidak selalu mudah.
“Potongan biaya dari platform penjualan bisa mencapai lebih dari 20 persen, belum lagi tambahan biaya kemasan seperti bubble wrap dan kardus untuk melindungi makanan selama pengiriman jadi harus nambah biaya,” ucapnya.
Oleh karena itu, Totom tetap lebih mengandalkan penjualan langsung di toko. Selain lebih sederhana, ia merasa risiko kerusakan barang juga lebih kecil dibandingkan jika harus dikirim jauh.
Meski kondisi sekarang tidak seramai dulu, Totom tetap bertahan di balik meja tokonya. Selama 25 tahun, ia telah menyaksikan bagaimana arus pemudik datang dan pergi, bagaimana harga bahan berubah, dan bagaimana kebiasaan orang membeli oleh-oleh ikut bergeser.
Di tengah perubahan itu, toko oleh-oleh di sekitar terminal tetap menjadi tujuan sebagian pemudik yang ingin membawa buah tangan khas Bandung.
Salah satunya Gara, pemudik yang sedang bersiap pulang ke kampung halamannya di Baturaja, Sumatera Selatan. Ia datang ke toko oleh-oleh untuk membeli beberapa camilan yang akan dibawa pulang.
“Saya mau mudik besok jam 12 naik bus ke Baturaja,” kata Gara.
Ia mengaku sengaja membeli beberapa jajanan khas Bandung untuk keluarga di rumah. Salah satu yang ia cari adalah bakso aci.
“Bakso aci kan identiknya dari Bandung. Di sana agak susah juga nyarinya, jadi sekalian bawa buat keluarga,” ujarnya.
Selain bakso aci, Gara juga membeli beberapa camilan lain seperti keripik dan tempe kering yang biasa dijadikan oleh-oleh.
“Ini beli sedikit-sedikit, dari keluarga juga banyak yang nitip jajanan Bandung,” katanya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











