Prabowo: Indonesia akan Keluar dari Board of Peace Jika Tidak Menguntungkan RI dan Palestina
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah menyampaikan pernyataan terkini mengenai kebijakan negara dalam bergabung dengan Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian yang dibentuk oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak akan ragu untuk meninggalkan BoP jika keputusan-keputusan yang diambil tidak sejalan dengan kepentingan nasional atau Palestina.
Keputusan untuk Bergabung dengan BoP
Prabowo menjelaskan bahwa Indonesia memutuskan untuk bergabung dengan BoP setelah melalui pertimbangan matang. Tujuan utamanya adalah untuk mendukung kemerdekaan penuh Palestina. Awal keterlibatan Indonesia dalam pembentukan BoP bermula pada 23 September 2025, saat Prabowo menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB di AS. Dalam pidatonya, ia menegaskan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sekaligus mendorong solusi dua negara (two-state solution).
Beberapa jam kemudian, Prabowo bersama tujuh pemimpin negara mayoritas Muslim dalam Group of Eight, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir, diundang oleh Donald Trump dalam sebuah pertemuan. Dalam pertemuan tersebut, Trump meminta Group of Eight untuk mendukung 21-point plan, yakni proposal untuk menciptakan perdamaian berkelanjutan di Gaza.
Poin 19 dan 20 yang Menarik Perhatian
Dalam pertemuan itu, rincian poin-poin 21-point plan dibacakan satu per satu oleh utusan khusus AS, Steve Witkoff. Prabowo kemudian mendengarkan secara seksama dan tertarik pada poin ke-19 dan ke-20. Poin tersebut menjelaskan bahwa Palestina akan diberikan jalan untuk menjadi bangsa mandiri dan mampu menentukan masa depannya. Selain itu, ada poin bahwa AS akan memfasilitasi dialog antara Israel dan Palestina agar dapat hidup berdampingan secara damai.
Isi proposal tersebut dinilai sejalan dengan pandangan Indonesia terhadap isu Palestina, bahwa perdamaian jangka panjang dapat dicapai melalui solusi dua negara. “Jadi, kita lihat ini (poin) 19 dan 20 ada peluang (untuk kemerdekaan Palestina) walaupun kita tahu ini sedikit,” ujar Prabowo.
Kepentingan Nasional dan Palestina
Setelahnya, para pemimpin Group of Eight menunjuk Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani untuk menjadi juru bicara mereka. Emir Qatar pun mewakili mereka untuk menyampaikan kepada Trump bahwa negara-negara itu mendukung poin rencana tersebut. “We like your plan. But the problem is not us. The problem is Prime Minister Netanyahu of Israel,” ucap Prabowo menirukan pernyataan Emir Qatar.
Beberapa saat setelah pertemuan tersebut, barulah muncul gagasan mengenai pembentukan BoP, yang sekaligus sudah diadopsi di dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Menanggapi perkembangan ini, Group of Eight kembali berunding mengenai apakah perlu ikut serta di dalam BoP atau tidak. Berdasarkan hasil perundingan, mereka menilai bahwa bergabung dalam BoP akan memberikan ruang yang lebih besar untuk memengaruhi arah kebijakan agar berpihak pada kepentingan Palestina.
Kebijakan untuk Membantu Rakyat Palestina
Prabowo menekankan bahwa hal ini jauh lebih realistis dan konkret dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina daripada memilih untuk tidak bergabung dengan BoP. “Kalau kita di dalam, mungkin kita bisa pengaruhi dan membantu rakyat Palestina. Kalau di luar (BoP), kita tidak bisa (memperjuangkan Palestina). Jadi, akhirnya kita putuskan, kita masuk,” papar Prabowo.
Prabowo berharap, Indonesia dan anggota Group of Eight lain dapat berkontribusi positif bagi perdamaian jangka panjang di Palestina. “Jadi, saya menjalankan perjuangan bangsa Indonesia dari dulu. Kita selalu membela kemerdekaan Palestina,” imbuh Prabowo.
Kemungkinan Keluar dari BoP
Meskipun Indonesia telah bergabung dengan BoP, Prabowo menegaskan bahwa negara tidak akan segan untuk keluar jika hasil-hasil keputusan BoP tidak sejalan dengan kepentingan nasional atau Palestina. “Selama kita di dalam BoP bisa bantu perjuangan rakyat Palestina, kita akan berusaha. Begitu kita ambil kesimpulan tidak ada harapan dan kontraproduktif, kita menilai kita habis waktu, habis energi, dan tidak menguntungkan kepentingan nasional bangsa Indonesia, kita keluar,” ujarnya.
Prabowo juga menyatakan bahwa Indonesia bisa saja keluar dari BoP tanpa perlu merundingkannya terlebih dahulu dengan anggota Group of Eight lainnya. Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk menjaga kepentingan nasional dan kemerdekaan Palestina.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











