Dampak Konflik Timur Tengah di Aceh
Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah berdampak luas hingga ke berbagai belahan dunia. Bahkan, masyarakat di Aceh, Indonesia, mulai merasakan efeknya. Hal ini disampaikan oleh Sosiolog Aceh, Prof Humam Hamid, yang menilai bahwa meskipun konflik terjadi jauh dari Indonesia, dampaknya sudah terasa melalui kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), transportasi, serta kebutuhan pokok.
Menurut Prof Humam, jika konflik tersebut terus berlangsung dalam jangka panjang, maka akan ada krisis energi yang memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk di pelosok Aceh. Ia menyarankan Pemerintah Aceh untuk memperkuat ekonomi rakyat, terutama sektor perikanan dan pertanian, agar daya beli tetap terjaga.
Langkah-Langkah Antisipasi Krisis Global
Prof Humam menekankan pentingnya program padat karya, distribusi pupuk subsidi, serta pemanfaatan sumber energi di sekitar Aceh sebagai langkah antisipasi krisis global. Menurutnya, kenaikan harga BBM akan berdampak langsung pada sektor-sektor ekonomi rakyat seperti perikanan dan pertanian.
“Sekarang saja sudah terasa. Sebentar lagi harga minyak, gas akan naik, ongkos transportasi naik, bahan kebutuhan akan inflasi,” ujarnya dalam sebuah podcast yang dipandu oleh Pemred Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur.
Ia menjelaskan, kenaikan harga solar bisa membuat nelayan kesulitan melaut. Selain itu, biaya produksi di sektor pertanian dan perkebunan juga akan meningkat, mulai dari penggunaan alat hingga ongkos angkut hasil pertanian.
“Ongkos angkutan sayur dari Gayo naik, traktor petani, alat berat perkebunan, semuanya terdampak,” tambahnya.
Program Padat Karya dan Distribusi Pupuk Subsidi
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Prof Humam menyarankan Pemerintah Aceh agar memperkuat program padat karya, khususnya melalui skema cash for work dengan memanfaatkan tenaga lokal. Ia menegaskan bahwa tidak perlu membawa orang dari luar daerah, seperti Jakarta atau STPDN, karena masyarakat setempat juga bisa bekerja.
“Kalau orang TNI, jangan semua TNI. Orang kampung juga bisa kerja gitu. Kan enggak ada yang gratis,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya memastikan distribusi pupuk subsidi tetap lancar di tengah tekanan ekonomi yang meningkat. “Sekarang ini pupuk susah. Ini harus dipastikan sampai ke masyarakat. Orang lagi susah, lagi teriak,” ujarnya.
Peran Pemerintah Aceh dalam Menghadapi Krisis
Prof Humam menilai bahwa Pemerintah Aceh tidak bisa sepenuhnya lepas dari dampak kebijakan global dan nasional. Namun, ia menekankan bahwa pihaknya tetap memiliki ruang untuk memperkuat kebijakan yang berpihak pada masyarakat.
Lebih lanjut, ia memberikan saran agar petinggi-petinggi di Aceh berimajinasi lebih jauh, memikirkan langkah ke depan setelah perang Timur Tengah selesai. Salah satunya adalah mengupayakan sumber energi yang ada di Andaman dapat segera beroperasi dan memberi keuntungan besar untuk Tanah Rencong.
“Itu memang di luar wilayah hukum Aceh. Itu internasional tapi dekat dengan Aceh. Bagaimana kita membantu mudah-mudahan agar mereka cepat beroperasi,” jelasnya.
Membangun Kesiapan Jangka Panjang
Prof Humam menyarankan Gubernur Aceh untuk datang ke Murbala dan menyampaikan permintaan agar sumber energi tersebut segera beroperasi. Ia menegaskan bahwa Aceh memiliki sumber daya alam berupa gas dan minyak bumi yang bisa dimanfaatkan.
“Jadi Pak Gubernur bisa datang ke Murbala, katakan ‘coba sekarang apa yang bisa kita bantu di Aceh supaya anda segera beroperasi. Tolong kalau memang memungkinkan buat pengolahan di darat. Kalau enggak bisa enggak ada masalah’,” ujarnya.
“Jadi jangan pernah kita tertidur dalam keadaan seperti ini. Kita harus berimajinasi bahwa perang ini akan berakhir. Karena kita punya sumber daya alam yaitu adalah gas dan minyak bumi gitu,” tambahnya.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











