Refleksi Spiritual di Masa Suci
Imam Diosesan Keuskupan Pangkalpinang, tinggal di Bintan.
Meskipun Umat Katolik akan segera merayakan Paskah sebagai hari pembebasan, yang menjadi momen sukacita, namun suasana batin tidak terlalu cerah untuk merayakan keselamatan tersebut. Untuk mencapai sukacita ini, seseorang harus menjalani proses pengudusan diri selama sekitar 40 hari.
Tidak hanya itu, di saat umat Muslim dan Nasrani memasuki masa sunyi untuk merenungkan hidup dan merendahkan diri di hadapan Allah, dunia justru dikejutkan oleh tiga negara besar, Amerika, Israel, dan Iran, yang saling beradu kekuatan dalam perang. Perang yang berkecamuk dan menyebabkan kematian ribuan orang, bukan hanya menyedihkan, tetapi juga menggelisahkan dengan berbagai pertanyaan.
Pertanyaan-Pertanyaan dari Berbagai Sudut Pandang
Dari sisi antropologi, muncul pertanyaan: masihkah budaya saling memangsa dilestarikan di era yang begitu mengagungkan kemanusiaan? Jika masih dianggap memiliki nilai, bagaimana mempertanggungjawabkannya secara etis di tengah pertumbuhan peradaban yang telah membentuk manusia sebagai homo homini socius?
Perang, dengan segala peralatan canggihnya, sedang memperlihatkan cara penyelesaian konflik ala bar-bar dari animale rationale. Dari sisi teologis, perang yang sangat melukai hari-hari suci tobat yang sedang dijalani kaum Muslimin dan Nasrani ini juga menimbulkan pertanyaan yang mengguncang iman: Masih hidupkah Allah yang diimani oleh para pemimpin negera-negara ini, atau sejatinya sudah mati sebagaimana dikhayalkan Nietzsche?
Jika masih hidup, siapakah sosok Allah yang diimani itu, sehingga mengizinkan umat-Nya membunuh sesama tanpa ada rasa iba? Jika toh Allah itu masih hidup, walau dengan penamaan yang berbeda-beda, mengapa kecanggihan teknologi yang merupakan wujud nyata kemajuan pengetahuan, tidak sanggup menciptakan bumi sebagai rumah bersama untuk dihuni anak-anak-Nya.
Sebaliknya bumi sekedar menjadi medan kamuflase untuk berlomba mengembangkan daya nalar demi melestarikan insting kebinatangan.
Perang: Wujud Konkret Dosa
Apapun alasan, perang adalah perang. Perang bukan jalan perdamaian, sebagaimana dikatakan Paus Leo XIV, karena belum ada bukti bahwa jalan yang dibuka dengan perang menciptakan kedamaian. Mungkin saja bahwa dengan kekuatan musuh mudah dilumpuhkan, tetapi pelumpuhan itu bukan perdamaian, selain moment bertiarap sejenak dalam semangat dendam dan permusuhan, untuk mempersiapkan strategi dan merancang pembalasan dengan peralatan mutakhir.
Oleh karena itu, dalam sudut pandang teologi, tontonan perang yang sampai detik ini masih menjadi menu sajian media-media sosial, sejatinya bukan sekadar pamer kekuasaan, tetapi juga serentak memperlihatkan identitas sebagai insan pendosa yang terjajah oleh kekerdilan dan rasa takut.
Paskah: Allah yang Akbar Menjadi Allah yang Rahim
Setiap kali merayakan Paskah, yang dalam tradisi kristiani, adalah puncak dari perjalanan tobat menuju pembebasan untuk kembali ke citra Allah sejati, Allah yang Akbar selalu memperlihatkan diri-Nya sebagai Allah yang rahim. Sosok ini yang diperlihatkan Yesus Kristus saat membasuh kaki para murid-Nya di Kamis Putih, saat penyaliban dan wafat-Nya di Jumat Agung serta penampakan luka-luka saat kebangkitan-Nya, seraya meneguhkan manusia: “Damai sejahtera bagi kamu.”
Pewahyuan diri dengan cara berkenosis ini, menunjukkan pilihan Allah untuk menempatkan kerahiman melampaui keakbaran-Nya. Dengan kenosis Allah ini, manusia diingatkan untuk tidak dihantui oleh nafsu untuk menjadi akbar dalam hidup Bersama.
Karena nafsu ini hanya membangkitkan naluri perlombaan senjata, pertandingan rudal, pamer alat tempur demi pamer kuasa. Sebab bila pamer keakbaran menjadi insting umat-Nya, maka dunia tak bisa menjadi rumah bersama. Segala ciptaan dirusak demi memenuhi ambisi siapa yang lebih berkuasa.
Peristiwa kenosis Allah dalam Paskah sejatinya memberi pesan bahwa manusia yang rapuh membutuhkan Allah yang rahim; Allah yang menunjukkan kekuasaan dan keagungan-Nya dalam kerendahan-Nya. Allah yang mencintai kehidupan dan sedih atas kematian, bukan Allah yang bersukacita atas kematian sehingga setiap detik mengirim senjata maut untuk membinasakan.
Allah yang datang untuk memerdekakan bukan untuk menindas dan menjajah sesama. Allah yang membangun komunitas untuk misi keselamatan bukan menciptakan komunitas untuk membinasakan yang lain. Saya membayangkan seandainya negara-negara yang sedang dilanda perang, termasuk para pendukung di belakang layar, berani menyalibkan dirinya seraya mengulurkan tangan untuk saling mengampuni dan mengucapkan damai sejahtera bagimu, damai pasti terjadi. Rumah bumi menjadi tempat sukacita bersama. Dialog menjadi habitus manusiawi yang terus dibudayakan. Dan akhirnya “yang di surga terjadi di bumi”. Selamat Paskah. (*)
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."










