Langkah Pemerintah untuk Memperkuat Pasar SBN Dinilai Hanya Obat Jangka Pendek
Langkah pemerintah dalam menyuntikkan likuiditas sebesar Rp100 triliun ke perbankan dinilai hanya menjadi obat penenang sementara bagi kinerja pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang sedang lesu. Penurunan harga dan meningkatnya tingkat imbal hasil (yield) menjadi tanda-tanda bahwa pasar SBN RI mengalami tekanan yang cukup signifikan.
Ekonom dari KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, menilai bahwa kebijakan ini tidak menjawab persoalan mendasar dari kinerja yield SBN yang terus mengalami peningkatan. Meskipun langkah ini dapat memberikan penguatan jangka pendek terhadap laju yield, yang lebih penting adalah menjaga risiko fiskal tetap stabil di mata investor.
Data dari Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menunjukkan bahwa yield acuan SBN RI saat ini berada pada level 6,89%. Posisi ini terakhir dicapai pada Mei 2025 lalu, setelah pasar berangsur pulih dari ketakutan akan penerapan tarif Trump pada April tahun yang sama.
Fikri mengatakan bahwa langkah pemerintah ini hanyalah obat jangka pendek untuk meredakan kekhawatiran pasar. Ia menegaskan bahwa jika harga minyak naik US$10 dari level saat ini, kemungkinan besar akan ada tambahan defisit fiskal sekitar Rp300 triliun.
Selain itu, Fikri menyebutkan bahwa lonjakan yield SBN belum tentu pulih sepenuhnya pasca penempatan dana SAL di perbankan. Ada dua syarat utama yang harus dipenuhi agar yield kembali melandai:
- Pertama, ketegangan geopolitik yang mereda. Selama perang Iran—AS dan Israel masih berkecamuk, investor cenderung meminta premi risiko yang lebih tinggi yang terlihat dari yield yang meningkat. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara emerging market lainnya.
- Kedua, risiko fiskal. Saat ini, belum ada realokasi, refocussing, atau penghematan anggaran yang signifikan untuk menurunkan risiko fiskal. Tanpa adanya perubahan tersebut, investor akan terus meminta imbal hasil yang lebih tinggi.
Net Sell Asing Masih Terjadi
Meski penempatan dana SAL bisa memberikan sedikit suntikan tenaga bagi yield SBN, arus deras keluarnya dana asing diprediksi masih terjadi. Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2026, net sell asing di pasar SBN telah tercatat sebesar Rp31,04 triliun.
Kepala Unit Riset dan Market Informasi PHEI, Salvian Fernando, menilai bahwa kebijakan pemerintah hanya berefek jangka pendek. Menurutnya, kebijakan ini membantu meredakan tekanan likuiditas dan berpotensi menahan kenaikan yield karena meningkatkan kapasitas perbankan untuk menyerap obligasi pemerintah.
Namun, beberapa faktor seperti pertimbangan asset liability management (ALM), risiko durasi, dan potensi kerugian mark-to-market di tengah tren kenaikan yield membuat penguatan yield lebih terbatas.
Volatilitas Tinggi Mengiringi Pasar SBN
Salvian memprediksi bahwa yield SBN secara jangka pendek akan cenderung bergerak sideways dengan tingkat volatilitas yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh kenaikan yield obligasi AS dan ekspektasi kebijakan moneter yang masih ketat.
Secara jangka menengah, arah yield sangat bergantung pada inflasi global, arah kebijakan The Fed, serta kondisi fiskal domestik. Jika tekanan global tidak kunjung mereda dan kekhawatiran fiskal meningkat, tidak menutup kemungkinan yield kembali melemah.
Dampak Global dan Konflik Geopolitik
Di satu sisi, Portfolio Manager Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Putri Nur Astiwi, menilai bahwa untuk memastikan kinerja yield SBN dapat menguat secara jangka menengah—panjang, lebih ditentukan oleh perkembangan konflik antara AS—Iran hingga kondisi rupiah.
Putri menegaskan bahwa penempatan dana SAL senilai Rp100 triliun hanya berdampak sementara terhadap kinerja yield. Untuk penguatan jangka panjang, efeknya terbatas karena dana ini bersifat penempatan/SAL yang bisa berubah sesuai kebutuhan pemerintah.
Arus net sell asing dinilai dapat mereda jika terjadi normalisasi harga minyak dan kinerja rupiah yang lebih stabil. Namun, selama ketidakpastian perang masih berlanjut, outflow berpotensi berlanjut.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











