Partai Reform Inggris dan Konservatif Mendorong Eksploitasi Minyak dan Gas di Laut Utara
Partai Reform Inggris yang dipimpin oleh Nigel Farage serta Partai Konservatif berupaya memengaruhi pemerintah Inggris untuk membuka izin eksploitasi minyak dan gas di dua ladang di Laut Utara, yaitu Jackdaw dan Rosebank. Langkah ini menimbulkan pro dan kontra dalam dunia politik dan lingkungan.
Menurut laporan dari The Guardian, jika kedua ladang tersebut benar-benar dibuka, akan menjadi kejutan yang mengancam target iklim nasional Inggris. Selain itu, langkah ini juga bisa melemahkan posisi kepemimpinan Inggris dalam isu perubahan iklim global. Efek lainnya adalah mendorong negara-negara berkembang untuk mengeksploitasi cadangan bahan bakar fosil mereka sendiri.
Nicolas Stern, seorang profesor di London School of Economics, menyatakan bahwa pengeboran baru dan perlambatan aksi iklim akan berdampak buruk bagi pertumbuhan dan keamanan energi di Inggris. Ia menilai hal ini juga menjadi sinyal merusak bagi dunia. Menurutnya, Inggris memiliki peran penting sebagai “teladan” dalam aksi iklim global. Sebagai negara yang menjadi pelopor aksi iklim, Inggris telah menjadi negara pertama yang berkomitmen mencapai emisi nol bersih pada 2050.
“Melalui undang-undang perubahan iklimnya yang patut dicontoh, dan melalui kerja samanya di lembaga dan interaksi internasional. Teladannya penting,” ujar Stern.
Seorang negosiator senior dari Afrika juga menolak keras jika Inggris akhirnya mengambil langkah membuka ladang minyak dan gas baru. Menurut narasumber dari The Guardian yang tak ingin disebut namanya, langkah ini justru melemahkan isi dan semangat Perjanjian Paris. Kepercayaan negara yang rentan terhadap perubahan iklim pun bisa ikut melemah.
Christiana Figueres, mantan Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim sekaligus pendiri lembaga Global Optimism, menjelaskan alasan ekonomi dan kemandirian energi di balik langkah tersebut. Namun, menurut dia, solusi ini justru bertentangan dengan perkembangan sistem energi global.
“Kemandirian energi sejati saat ini terletak pada peningkatan skala energi bersih domestik, bukan pada perpanjangan umur industri yang sedang menurun,” ujarnya.
Hanya Berdampak Sedikit pada Penurunan Impor Gas Inggris
Bila dilakukan untuk alasan ketahanan energi, pembukaan lahan minyak dan gas baru di Inggris justru diperkirakan hanya menggantikan 1-2% dari impor Inggris saat ini. Masih dari laporan The Guardian, Jackdaw sebagai salah satu ladang gas terbesar yang belum dieksploitasi ini hanya akan menggantikan 2% dari impor gas Inggris saat ini. Inggris masih harus bergantung pada pasokan gas dari Norwegia dan negara lainnya.
Sementara ladang Rosebank yang juga berada di perairan Skotlandia, hanya akan menggantikan kurang lebih 1% impor gas Inggris.
“Bahkan dalam skenario yang paling optimistis, dan dengan asumsi tidak ada gas yang diekspor, Jackdaw hanya akan menyediakan 2% dari permintaan Inggris selama masa operasi 9-12 tahun,” kata Tessa Khan, Direktur Eksekutif Uplift, kelompok kampanye yang mengumpulkan data dari sumber publik.
Di samping itu, menurut perhitungan UK Energy Research Centre, pengeboran baru tidak akan menurunkan harga minyak dan gas, atau meningkatkan keamanan energi Inggris. Langkah ini pun tampaknya tidak akan menghasilkan lapangan kerja yang berkelanjutan atau pendapatan pajak baru yang signifikan. Sebab, 90% cadangan minyak dan gas Inggris di Laut Utara telah dieksploitasi, sehingga menyebabkan industri ini mengalami penurunan tajam.
Perusahaan-perusahaan juga menuntut keringanan pajak untuk mengeksploitasi ladang-ladang baru, yang lebih sulit diakses dibandingkan dengan cadangan yang sudah ada.











