My WordPress Blog

Warga Eropa Bergerak, Desak “Benua Biru” Putus dari Israel

Gerakan Kritis terhadap Kerja Sama Ekonomi dengan Israel

European Left Alliance (ELA) menginisiasi sebuah petisi warga Uni Eropa yang menuntut penghentian kerja sama ekonomi dengan Israel. Inisiatif ini, yang diberi nama Justice for Palestine, telah mencapai angka 1 juta tanda tangan hanya dalam waktu tiga bulan sejak diluncurkan pada 13 Januari 2026. Pencapaian ini menjadi rekor tercepat dalam sejarah Uni Eropa untuk meraih jumlah dukungan sebesar satu juta.

Petisi ini juga telah melampaui ambang batas nasional di 10 negara anggota, melebihi syarat minimum tujuh negara yang ditetapkan oleh aturan Uni Eropa. Dengan demikian, ELA berhak meminta Komisi Eropa untuk membahas penangguhan total Perjanjian Asosiasi Uni Eropa-Israel.

“Langkah ini diambil mengingat adanya genosida, pendudukan, dan apartheid yang dilakukan oleh Israel terhadap penduduk Palestina, serta pelanggaran hukum internasional dan hak asasi manusia yang terus berlanjut,” tulis pernyataan resmi ELA.

Perjanjian Asosiasi antara Uni Eropa dan Israel ditandatangani pada 1995. Perjanjian tersebut menjadi dasar kerja sama perdagangan, dialog politik bilateral, hingga kolaborasi ilmu pengetahuan dan teknologi antara kedua belah pihak.

Negara-Negara yang Terlibat dalam Petisi

Negara-negara anggota Uni Eropa yang telah melampaui ambang batas nasional dalam petisi ini antara lain:

  • Prancis, yang menjadi penyumbang tanda tangan terbanyak dengan total 383.426 dukungan, jauh melampaui ambang batas nasional sebesar 55.695.
  • Italia, dengan 245.545 tanda tangan dari syarat minimum 53.580.
  • Selain keduanya, delapan negara lainnya yaitu Belgia, Denmark, Finlandia, Irlandia, Belanda, Polandia, Spanyol, dan Swedia juga telah melampaui ambang batas nasional.

Meskipun telah mencapai target 1 juta tanda tangan, ELA menargetkan total 1,5 juta tanda tangan untuk mengantisipasi proses validasi dan memberikan tekanan politik yang lebih kuat kepada Komisi Eropa.

“Satu juta orang telah bersuara: Uni Eropa harus sepenuhnya menangguhkan Perjanjian Asosiasi dengan Israel, Uni Eropa harus menjunjung tinggi hukum internasional, dan mengakhiri keterlibatannya dalam genosida Israel,” tegas penyelenggara.

Kritik terhadap Posisi Uni Eropa

Co-President ELA Catarina Martins melontarkan kritik tajam terhadap posisi Uni Eropa saat ini. Menurutnya, Uni Eropa seolah memberikan “hadiah” kepada Israel melalui keistimewaan perdagangan di tengah krisis kemanusiaan yang hebat.

“Israel membunuh warga sipil secara besar-besaran, menghancurkan infrastruktur vital, dan baru-baru ini mengesahkan undang-undang hukuman mati yang hanya menyasar tahanan politik Palestina. Namun, Uni Eropa tetap mempertahankan perjanjian dagang istimewanya,” ujar Martins.

Ia menambahkan bahwa Uni Eropa secara tidak langsung membiarkan Israel mendapatkan keuntungan ekonomi dari situasi tersebut. Berdasarkan data 2024, volume perdagangan kedua pihak mencapai 42,6 miliar euro, di mana Uni Eropa merupakan mitra dagang utama Israel.

[GAMBAR-0]

Tuntutan untuk Gencatan Senjata yang Langgeng

“Gencatan senjata yang langgeng hanya dapat dicapai dengan diakhirinya pendudukan kolonial yang ilegal,” tambah ELA, merujuk pada terus jatuhnya korban jiwa di Gaza dan serangan yang meluas ke Lebanon.

Dengan tercapainya syarat dukungan ini, Komisi Eropa secara hukum berkewajiban untuk memberikan tanggapan resmi dan mempertimbangkan tindakan legislatif atau politik. Kendati demikian, Komisi Eropa tidak diwajibkan untuk mengikuti seluruh tuntutan petisi tersebut.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *