My WordPress Blog
Budaya  

Asal-usul Kedunggudel: Jejak Diponegoro dan Penyebaran Islam

Sejarah dan Keunikan Kampung Kedunggudel

Kedunggudel adalah sebuah kampung yang terletak di Kelurahan Kenep, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Wilayah ini dikenal sebagai tempat yang tenang dengan banyak pepohonan rindang di sekitar rumah warga maupun pinggir jalan utama. Warga setempat memiliki berbagai mata pencaharian, mulai dari petani, buruh, pedagang, hingga pengrajin batik tulis dan produsen penganan tradisional seperti jenang, rambak, dan karak.

Kedunggudel tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan jejak sejarah yang sangat kuat. Lokasi kampung ini berjarak sekitar 6,5 kilometer dari Alun-alun Sukoharjo dan dapat dicapai dalam waktu 15 menit menggunakan kendaraan pribadi.

Jejak Penyebaran Islam di Kedunggudel

Sejarah Kedunggudel tidak bisa dipisahkan dari peran para alim ulama yang menyebarkan ajaran Islam melalui jalur Sungai Bengawan Solo. Sungai besar ini menjadi rute dakwah sekaligus jalur transportasi utama pada masa lampau. Salah satu bukti sejarah tertua adalah Masjid Darussalam, masjid tertua di Kedunggudel yang menjadi pusat aktivitas keagamaan sejak abad ke-19.

Masjid ini konon dibangun oleh Kiai Lombok, seorang santri Wali Songo yang berasal dari Lombok, pada Ahad Pon, 20 Agustus 1837. Makam sang pendiri masih berada di belakang masjid. Selain masjid, pada masa itu para ulama juga mendirikan pasar di sepanjang Bengawan Solo sebagai pusat aktivitas ekonomi dan gedung pertemuan untuk dakwah.

Masjid Darussalam masih mempertahankan nuansa tempo dulu untuk sisi interior, sementara sisi eksterior terlihat lebih kekinian. Ketika hendak memasuki masjid, pengunjung akan disambut gapura dengan tulisan Masjid Darussalam. Dari luar mungkin masjid ini tampak biasa-biasa saja, namun begitu masuk ke dalam, nuansa kuno langsung melekat. Mulai dari banyaknya tiang penyangga yang mempertahankan kayu, ornamen tambahan seperti kaligrafi, lampu, sampai lemari.

Hubungan dengan Pangeran Diponegoro dan PB VI

Kedunggudel memiliki peran penting dalam perjuangan Pangeran Diponegoro. Wilayah ini menjadi salah satu tempat berkumpulnya para pengikut Diponegoro untuk menyusun strategi melawan Belanda. Bahkan, Paku Buwono (PB) VI dari Keraton Surakarta disebut turut memberikan dukungan, sehingga mereka kerap melakukan pertemuan secara rahasia di sekitar Kedunggudel.

Karena mencium adanya konspirasi, tentara Belanda kemudian menyerang Kedunggudel dengan 21 tembakan meriam. Ajaibnya, tidak ada satu pun meriam yang meledak, dan hanya sebagian bangunan rumah serta masjid yang mengalami kerusakan. Masjid Darussalam juga menyimpan Sumur Kyai Pleret, yang disebut sebagai tempat menyimpan harta perang PB VI sebelum diberikan kepada Pangeran Diponegoro.

Nama sumur ini diambil dari istilah Kyai Pleret, simbol legitimasi kekuasaan di Jawa. Dari penemuan batu bata besar di wilayah ini, warga setempat meyakini bahwa Kedunggudel sudah dihuni sejak era Majapahit.

Kedunggudel sebagai Destinasi Kuliner dan Wisata Sejarah

Karena kaya akan peninggalan sejarah, Kedunggudel sering dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara, serta menjadi lokasi outing class sekolah-sekolah yang mempelajari sejarah Islam dan perjuangan bangsa. Warga ingin agar warisan sejarah penting ini terus dijaga dan dilestarikan sebagai identitas desa yang unik di Kabupaten Sukoharjo.

Selain sejarah panjang, Kedunggudel juga terkenal sebagai pusat kuliner tradisional yang masih bertahan turun-temurun.

Makanan Khas Kedunggudel

  • Jenang Kedunggudel

    Jenang menjadi ikon desa ini. Terbuat dari tepung beras dan ketan yang dicampur santan serta gula aren, jenang Kedunggudel memiliki tekstur lebih kenyal dibanding dodol. Setiap tahun warga bahkan mengadakan Festival Jenang sebagai bentuk pelestarian kuliner warisan leluhur.

  • Botok Miri

    Botok miri adalah makanan khas lainnya dari Kedunggudel. Hidangan ini terdiri dari kacang tanah goreng, telur, potongan ikan lele berbumbu bawang, cabai, dan kemiri, yang kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus. Rasa gurih pedasnya cocok menjadi lauk pendamping nasi.

  • Kue Bangket Mbah Demang

    Kue bangket produksi keluarga Mbah Demang merupakan kuliner legendaris yang sudah dibuat selama tiga generasi. Pengelolanya saat ini, Siti Alimah, masih mempertahankan resep asli yang menggunakan bahan sederhana seperti tepung, gula, telur, kelapa, dan susu. Penjualan kue bangket sempat turun hingga 50 persen sejak pandemi karena berkurangnya pemudik yang biasa membeli kue ini sebagai oleh-oleh. Meski begitu, peminatnya tetap ada, bahkan pembeli datang dari Solo, Klaten, Yogyakarta, hingga Kalimantan dan Jambi. Harga kue bangket saat ini berkisar Rp160.000–Rp170.000 per kilogram, sejalan dengan peningkatan harga bahan baku.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *