My WordPress Blog
Bisnis  

Mengunci Peluang, Memperluas Pasar: Peran QRIS dalam Digitalisasi UMKM

Peran QRIS dalam Transformasi Digital UMKM

Kehidupan manusia di tengah perkembangan teknologi yang pesat sering kali menghadirkan dilema. Bahkan jika kabut asap menjadi ancaman bagi kesehatan, kita perlu menyadari bahwa kehidupan tanpa teknologi bisa berarti kematian yang lebih besar. Kutipan Ayn Rand ini mencerminkan bagaimana teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ekonomi, teknologi juga memainkan peran penting dalam transformasi UMKM.

Banyak orang kini datang ke warung atau pedagang kaki lima dengan hanya membawa ponsel. Mereka tidak lagi membawa dompet, tetapi mengandalkan berbagai aplikasi pembayaran digital. Di depan kasir, kode hitam-putih sederhana ini justru menjadi awal dari perubahan besar. Kode itulah yang dikenal sebagai Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), metode pembayaran berbasis QR yang secara bertahap mengubah cara UMKM bertransaksi, mencatat keuangan, dan berinteraksi dengan konsumen.

Perubahan Pola Konsumsi dan Pembayaran

Di tengah perubahan pola masyarakat yang semakin mengandalkan teknologi, metode pembayaran juga beralih dari tunai ke digital. Fenomena ini tidak hanya terjadi di pusat-pusat perbelanjaan besar, tetapi juga menjangkau warung, usaha kaki lima, dan berbagai usaha kecil menengah di berbagai daerah. QRIS hadir sebagai alat yang mampu memperluas peluang usaha bagi para pelaku UMKM.

Menurut catatan Bank Indonesia, QRIS adalah standar pembayaran QR Code yang dikembangkan oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). Satu QR Code QRIS dapat digunakan pada berbagai aplikasi seperti GoPay, Dana, OVO, ShopeePay, hingga Mobile Banking. Kemudahan transaksi ini meningkatkan inklusi keuangan, mempercepat transformasi digital nasional, serta memperluas akses UMKM untuk menjangkau konsumen.

Pertumbuhan QRIS dan Dampaknya pada UMKM

Data Bank Indonesia pada triwulan pertama 2025 menunjukkan bahwa sebanyak 38,1 juta UMKM telah menggunakan QRIS dalam aktivitas jual beli. Peningkatan penggunaan QRIS pada tahun 2025 mencapai 594% dibandingkan periode tahun 2023. Selain itu, nilai transaksi melonjak hingga 150%. Peningkatan ini mencerminkan kesiapan UMKM dalam beradaptasi dengan metode pembayaran digital.

“Hingga triwulan I 2025, pengguna QRIS alhamdulillah sudah mencapai 56,3 juta dengan volume mencapai 2,6 miliar transaksi dan merchant QRIS ini sebagian besar adalah UMKM sebanyak 38,1 juta,” ujar Sri, dikutip dari Antara.

Digitalisasi menjadi kunci transformasi UMKM agar memperkuat daya saing dan ketahanan usaha. Mekanisme pemasaran hingga pembayaran telah terbukti efisien dengan bantuan QRIS.

Tantangan dan Solusi dalam Penggunaan QRIS

Meskipun QRIS memberikan banyak manfaat, masih ada pihak yang enggan memakai sistem ini. Alasan utamanya adalah adanya biaya potongan atau Merchant Discount Rate (MDR) yang dikenakan kepada pedagang setiap kali menggunakan QRIS. Namun, tarif yang ditarik relatif terjangkau, yaitu sekitar 0,4 persen untuk transaksi dengan nominal di atas Rp100.000.

Selain itu, beberapa UMKM enggan menggunakan QRIS karena khawatir akan penipuan, penyalahgunaan data pribadi, atau kesulitan dalam penggunaannya. Menurut Ibu Diana Yumanita, Direktur Grup dan Perlindungan Konsumen Bank Indonesia, masalah ini disebabkan oleh kurangnya literasi digital. Solusinya adalah memahami dengan baik penggunaan sistem pembayaran digital agar mampu bersaing.

Pengalaman Nyata Pengusaha UMKM

Abdul Muis, pengusaha kebab di kawasan Universitas Diponegoro, mengungkapkan bahwa setelah mencoba QRIS, dirinya merasakan manfaat yang luar biasa. Transaksi menjadi lebih mudah karena pembeli umumnya berasal dari kalangan mahasiswa. “QRIS membuat omzet jualan meningkat karena orang lebih memilih beli di sini, pembayaran cepat dan efektif,” katanya.

Aspek ini menjadi bukti nyata bahwa QRIS dapat meningkatkan penjualan UMKM. Kesuksesan ini tidak lepas dari peran edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan.

Strategi Pengembangan QRIS

Menurut laman Opini KEMENKEU, strategi pengembangan QRIS dapat dilakukan melalui perluasan kemitraan dengan bank dan peningkatan literasi digital. Dengan demikian, QRIS dapat menjadi perantara UMKM menuju ekosistem keuangan digital.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, QRIS bukan sekadar metode transaksi baru, melainkan bagian dari transisi UMKM di Indonesia. Dimulai dengan langkah-langkah kecil yang konsisten setiap hari, satu pindai, satu transaksi, satu data, dan pengalaman yang memudahkan berbelanja. Fondasi digitalisasi akan semakin terbentuk, UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk ekspansi bisnis di era digital. Dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi semakin terdongkrak dan inklusi keuangan semakin menjangkau masyarakat.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *