My WordPress Blog
Budaya  

Lima Lokasi Miqat, Awal Niat Haji dan Umrah Dibaca

Pengertian Miqat dalam Ibadah Haji dan Umrah

Miqat adalah istilah yang sering digunakan dalam konteks ibadah haji dan umrah. Secara umum, miqat merujuk pada tempat atau waktu tertentu yang ditetapkan sebagai pintu masuk untuk memulai ibadah haji atau umrah. Miqat memiliki dua jenis utama, yaitu miqat zamani (waktu) dan miqat makani (tempat). Kedua jenis ini menjadi pedoman penting bagi jemaah dalam menjalankan ritual ibadah.

Jenis-Jenis Miqat

1. Miqat Zamani

Miqaat zamani merupakan batas waktu untuk melaksanakan ibadah haji. Batas waktu ini dimulai dari tanggal 1 Syawal hingga terbit fajar pada 10 Zulhijjah. Untuk umrah, miqat zamani berlaku sepanjang tahun. Dengan demikian, jemaah bisa melakukan umrah kapan saja selama tidak melebihi batas waktu yang telah ditentukan.

2. Miqat Makani

Miqaat makani merujuk pada lokasi tertentu yang menjadi tempat untuk memulai niat haji atau umrah. Jemaah harus memulai niat di lokasi yang telah ditentukan, lalu melaksanakan salat sunah dua rakaat, mengucapkan niat, dan bertolak menuju Mekkah untuk melakukan Tawaf dan Sa’i. Ada lima lokasi miqat makani yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu:

  • Zulhulaifah (Bir Ali)
  • Juhfah
  • Qarnul Manazil (as-Sail)
  • Yalamlam
  • Zatu Irqin

Setiap lokasi ini memiliki penggunaan khusus sesuai dengan asal jemaah. Misalnya, jemaah Indonesia yang berasal dari gelombang pertama biasanya mengambil miqat di Zulhulaifah (Bir Ali), sementara jemaah yang tiba di Jeddah mungkin menggunakan Yalamlam atau Bandara Internasional King Abdul Aziz.

Lokasi Miqat Makani untuk Jamaah Indonesia

Jamaah haji Indonesia memiliki beberapa opsi lokasi miqat makani, tergantung dari mana mereka berasal dan bagaimana rute perjalanan mereka. Berikut penjelasannya:

1. Zulhulaifah (Bir Ali)

Lokasi ini digunakan oleh jemaah dari Madinah dan para jemaah yang melewatinya. Jemaah haji Indonesia yang diberangkatkan pada gelombang pertama dan mendarat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah biasanya mengambil miqat di Masjid Zulhulaifah, yang berjarak sekitar sembilan kilometer dari Madinah.

2. Juhfah

Berlokasi sekitar 183 kilometer di arah barat laut Mekkah, Juhfah biasanya digunakan oleh jemaah dari Syria, Yordania, Mesir, dan Lebanon.

3. Qarnul Manazil (as-Sail)

Lokasi ini berada di dekat kawasan pegunungan Taif, sekitar 94 kilometer di timur Makkah. Biasanya, titik miqat ini digunakan oleh jemaah dari Dubai.

4. Yalamlam

Berada di arah tenggara Mekkah, Yalamlam menjadi lokasi miqat bagi jemaah dari Yaman dan mereka yang melalui rute yang sama, seperti jemaah dari India, Pakistan, China, dan Jepang. Jemaah haji Indonesia yang mengambil miqat saat perjalanan di pesawat biasanya dilakukan ketika pesawat mendekati Yalamlam.

5. Zatu Irqin

Berjarak sekitar 94 kilometer di arah timur laut Mekkah, Zatu Irqin biasanya digunakan sebagai lokasi miqat jemaah dari Iran dan Irak atau yang melalui rute yang sama.

Sejarah dan Penetapan Miqat

Masjid Tan’im juga menjadi salah satu lokasi miqat penting. Sejarahnya bermula ketika Sayyidah Aisyah RA tidak bisa ikut melaksanakan umrah bersama rombongan setelah Haji Wada’. Menurut riwayat, ia sedang haid dan kemudian diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakan umrah di Tan’im.

Niat dan Doa Saat Miqat

Saat memasuki miqat, jemaah dianjurkan membaca niat haji atau umrah. Contoh niat haji adalah:

نَوَيْتُ الْحَجَّ وَأَحْرَمْتُ بِهِ لِلهِ تَعَالَى لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بحَجًَةِ

Nawaitul hajja wa ahramtu bihi lillahi ta’ala labbaika Allahumma hajjan.

Artinya: “Aku niat melaksanakan haji dan berihram karena Allah Swt. Aku sambut panggilan-Mu, ya Allah untuk berhaji.”

Setelah itu, jemaah juga membacakan doa selesai berihram:

اَللّٰهُمَّ أُحَرِّمُ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ وَجَسَدِيْ وَجَمِيْعَ جَوَارِحِيْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ حَرَّمْتَهُ عَلَى الْمُحْرِمِ أَبْتَغِيْ بِذٰلِكَ وَجْهَكَ الْكَرِيْمَ يَا رَبَّ الْعَــالِمِيْنَ

Allahumma uharrimu sya’ri wa basyari wa jasadi wa jami’a jawarihi min kulli sya-in harramtahu ‘alal muhrimi abtaghi bidzalika wajhakal karima ya rabbal ‘alamin.

Artinya: “Ya Allah aku mengharamkan rambut, kulit, tubuh dan seluruh anggota tubuhku dari semua yang Kau haramkan bagi seorang yang sedang berihram, demi mengharapkan ridha-Mu semata, wahai Tuhan pemelihara seluruh keberadaan”.

Larangan Saat Berihram

Saat berihram, jemaah dilarang melakukan beberapa hal, seperti:

  • Laki-laki tidak boleh memakai pakaian biasa, sepatu yang menutup tumit dan mata kaki, serta tutup kepala.
  • Perempuan tidak boleh berkaus tangan dan menutup muka.
  • Tidak boleh menggunakan wangi-wangian (kecuali sebelum berihram).
  • Tidak boleh melakukan hubungan suami-istri.
  • Tidak boleh memotong kuku, mencabut/memotong rambut atau bulu.
  • Tidak boleh memburu binatang.

Dalam perjalanan dari miqat menuju Masjidil Haram, jemaah dianjurkan banyak membaca talbiyah. Bacaan talbiyah adalah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ

Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syariika laka labbaik.

Artinya: “Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Aku memenuhi panggilan-Mu.”

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *