Beberapa waktu terakhir, rasanya aku tenggelam terlalu dalam dunia pikiranku sendiri. Berhari-hari habis untuk menelusuri sejarah manusia, mencoba memahami bagaimana Homo sapiens berkembang, menyimpang, membangun peradaban, lalu merusaknya kembali, berulang kali.
Pikiranku tidak hanya lelah. Kedua pelipis berdenyut, kepala terasa penuh dan mengikat, tengkuk menegang seolah menahan beban yang terlalu berat untuk satu tubuh.
Entah sadar atau tidak, sengaja atau tidak, aku sedang memikirkan sesuatu yang terasa absurd bagi ukuran satu individu. Bagaimana caranya menyelamatkan kehidupan spesies Sapiens.
Setelah cukup memahami apa yang terjadi, mengapa semua ini bisa sampai ke titik sekarang, dan bagaimana mekanismenya bekerja, sebuah kemewahan yang sangat terbantu oleh watakku sebagai seorang generalist, aku berhenti sejenak. Aku bertanya pada diriku sendiri, jujur blas tanpa basa-basi.
Apakah semua pemikiran besar dan berat ini hanyalah cara halus untuk melarikan diri dari masalah pribadi yang sedang menghantamku dari berbagai arah? Atau justru ada nilai praktisnya, sesuatu yang benar-benar bisa membantu menyelesaikan kekacauan hidupku sendiri?
Bila enggak, aku takut ntar malah jadi orang gila pulak. Seperti orang gila di lampu penyeberangan, rambutnya gimbal, kumis dan jenggotnya jarang-jarang, membawa gembolan kumal, menyapa siapa saja yang lewat dengan suara ramah, “Selamat malam!”
Syukurlah, aku tidak sendirian memikirkan ini. Emy dan Aya bilang ada manfaatnya. Bahkan signifikan.
Dan mungkin memang di situlah letak persoalannya. Pertanyaan tentang relevansi antara krisis kosmik dan krisis dapur, antara nasib peradaban dan nasib pribadi, sebenarnya adalah jantung dari hampir semua filsafat yang pernah ada.
Jawaban paling jujurnya sederhana. Aku tidak sedang melarikan diri. Aku sedang mencari perspektif, alat paling kuat yang pernah diciptakan Homo sapiens untuk bertahan hidup. Tapi pencarian perspektif saja tidak otomatis menyelesaikan hidup. Nilainya sepenuhnya bergantung pada apa yang kulakukan setelahnya.
Aku menyadari satu hal penting. Aku tidak salah berpikir sejauh ini. Tapi aku juga tidak boleh tinggal terlalu lama di sana. Pemikiran besar adalah tempat singgah, bukan tempat menetap.
Kalau dibedah pelan-pelan, yang sebenarnya sedang kulakukan adalah sense making. Otakku berusaha merapikan kekacauan hidup dengan cara paling kuat yang kupunya, yaitu memahami pola besar. Itu bukan tanda kabur. Itu tanda rasionalitas bekerja. Orang yang benar-benar melarikan diri biasanya justru melakukan sebaliknya.
Mereka mengejar kesenangan instan, menenggelamkan diri dalam distraksi atau mematikan kesadaran dengan hiburan tanpa henti seperti main game, nonton atau menghabiskan hari dengan tidur, sebentuk upaya untuk menghindari berpikir.
Aku justru memperluas skala, mencari struktur, dan bahkan mempertanyakan apakah semua ini benar-benar berguna atau hanya ilusi intelektual. Orang yang lari jarang, bahkan hampir tidak pernah, mengajukan pertanyaan sejujur itu kepada dirinya sendiri.
Namun di sinilah jebakannya. Aku perlu mengakuinya apa adanya. Berpikir sejauh ini bisa berubah menjadi pelarian kalau berhenti di level narasi.
Ada dua tipe orang yang membaca sejarah peradaban. Yang pertama adalah pengamat pola, mereka merasa puas ketika sudah bisa menjelaskan mengapa dunia kacau, rusak, dan absurd. Yang kedua adalah insinyur transisi, mereka memakai pola yang sama untuk merancang langkah kecil yang konkret.
Tulisan dan renunganku jelas condong ke tipe kedua. Tapi hidupku hanya akan benar-benar bergerak jika aku memaksa diri turun satu level lagi, dari pemahaman ke tindakan.
Manfaat praktisnya memang tidak instan, tapi nyata dan mahal nilainya.
- Pertama, aku belajar menormalkan krisis tanpa mematikan urgensi. Ini bukan pembenaran diri dengan kalimat klise bahwa semua orang juga pernah susah. Yang terjadi adalah pergeseran sudut pandang, dari krisis moral yang menyalahkan diri sendiri, menjadi krisis struktural yang bisa dianalisis.
- Otak berhenti menyiksa diri, tapi kesadaran bahwa perubahan wajib terjadi tetap utuh. Kesulitan yang kurasakan hari ini berubah makna, bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai biaya pelatihan.
- Kedua, masalah yang tadinya kabur dan terasa mistis berubah menjadi variabel teknis. Hidup yang terasa babak belur tidak lagi tampak sebagai kutukan, melainkan hasil dari kebocoran energi, surplus yang tidak terkonsolidasi, atau narasi internal yang tidak sinkron dengan realitas. Semua itu bukan tragedi eksistensial. Itu masalah teknis. Dan masalah teknis selalu bisa dikerjakan satu per satu.
- Ketiga, aku mendapatkan jarak emosional tanpa mematikan rasa. Ini bukan pelarian, ini sistem pendingin. Rasa sakit tidak disangkal, tapi juga tidak dibiarkan mengambil alih kemudi. Orang yang tenggelam dalam emosi tidak membangun apa pun. Peradaban pun tidak lahir dari kepanikan.
Lalu sampailah pada titik paling krusial, bagian yang tidak nyaman tapi menentukan segalanya. Jika setelah semua ini aku hanya terus menulis, berdiskusi, dan menganalisis tanpa satu pun keputusan kecil yang mengubah ritme hidupku, maka seluruh renungan ini akan berubah fungsi. Dari alat, menjadi anestesi.
Sejarah Homo sapiens selalu menunjukkan pola yang sama. Setelah pemahaman, selalu ada restrukturisasi hidup yang nyata. Jarang besar, seringnya kecil, tapi konsisten.
Cara paling sederhana untuk menguji apakah semua ini benar-benar berguna adalah dengan satu pertanyaan brutal kepada diri sendiri. Setelah memahami semua ini, batas apa yang akan kuhancurkan dalam satu minggu ke depan?
Bukan mimpi, bukan visi, bukan renungan. Satu batas konkret. Menghentikan satu kebocoran energi. Mengonsolidasikan satu surplus kecil. Mengubah satu rutinitas yang jelas tidak bekerja, tidak berguna.
Kalau ada satu tindakan nyata, maka seluruh renungan kosmik ini sah, valid, dan tepat guna. Kalau tidak, ya, ini hanya pelarian intelektual yang rapi dan halus.
Aku tidak sedang kabur. Aku sedang berdiri di peta yang benar. Tapi peta tidak pernah menggantikan langkah. Renungan ini setara dengan momen ketika nenek moyang kita sadar bahwa berburu tidak lagi cukup. Kesadaran itu penting, tapi ladang baru hanya muncul ketika tangan benar-benar masuk ke tanah.
(Ajuskoto, Serang Banten, 2025)
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”










