My WordPress Blog

Partisipasi Publik dan Arkeolog dalam Pembangunan Fisik

Pembangunan Fisik dan Kepurbakalaan: Dilema yang Harus Diseimbangkan

Sejak lama, ilmu purbakala atau arkeologi sering dianggap sebagai penghalang dalam proses pembangunan fisik. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain. Contohnya adalah pembangunan jalur kereta bawah tanah di Roma (Italia), yang sering terganggu oleh temuan-temuan kuno yang menghambat proyek tersebut. Hal ini wajar karena masa lampau Roma begitu gemilang, sehingga banyak orang tahu bahwa Kerajaan Romawi selalu menjadi bagian dari sejarah.

Di Mesir, pembangunan jalan di sekitar piramida juga sering menghadapi kendala. Saat pengerjaan, sering ditemukan temuan-temuan kuno yang memperkaya sejarah Mesir. Beruntung, pada masa itu Presiden Mesir, Hosni Mubarrak, sangat peduli dengan sejarah bangsanya. Berkat kepedulian beliau, pembangunan jalan dibuat sedemikian rupa agar tidak merusak artefak-artefak purba Mesir.

Kepedulian seperti yang dilakukan pemerintah Italia dan Mesir patut dijadikan contoh. Meskipun pembangunan modern penting, mereka berhasil menyelamatkan tinggalan masa lampau yang sangat berharga. Namun ironisnya, di banyak negara termasuk Indonesia, tinggalan-tinggalan masa lampau harus menyerah kepada pesatnya pembangunan fisik. Banyak tinggalan rusak atau hancur akibat alat berat seperti buldoser.

Pada sekitar tahun 1980, banyak tinggalan kuno di Pasar Ikan tidak terselamatkan secara utuh karena ganasnya pembangunan saluran atau kanal. Pihak perusahaan swasta tidak mau berkompromi untuk menunda pekerjaan karena masalah finansial.

Warisan Kolonial dan Perubahan

Catatan sejarah menyebutkan bahwa selama ratusan tahun Nusantara pernah didatangi bangsa-bangsa asing. Mereka dikenal sebagai penjajah, meskipun tujuan utama mereka sebenarnya berniaga. Akibatnya, mereka menguasai Nusantara. Bukti keberadaan bangsa asing, terutama Belanda, masih bisa dilihat pada tinggalan-tinggalan yang tersisa hingga saat ini.

Di Jakarta, misalnya, terdapat Istana Presiden, Gedung Kementerian Keuangan, Museum Nasional, Museum Sejarah Jakarta, dan Gereja Katedral. Namun banyak bangunan dari masa kolonial telah hilang dan berganti rupa, seperti Hotel Des Indes yang kini menjadi pusat pertokoan di Harmoni dan Gedung Societeit de Harmonie yang kini menjadi tempat parkir di Gedung Sekretariat Negara.

Hal serupa juga terjadi di kota-kota besar lain. Banyak bangunan dari masa kolonial dihancurkan demi pembangunan fisik. Mungkin karena mereka membenci tinggalan penjajah, seperti halnya Presiden Sukarno yang menghilangkan moda transportasi trem.

Trem adalah transportasi publik yang populer pada masa kolonial. Meskipun demikian, banyak bangunan kuno terselamatkan hingga kini, seperti Gedung Bank Indonesia, Gedung Pos Indonesia, dan stasiun-stasiun kereta api di berbagai kota.

Upaya Meminimalisasi Dampak Pembangunan

Sebenarnya ada upaya untuk meminimalisasi dampak pembangunan fisik terhadap kepurbakalaan. Sayangnya, Studi Kelayakan Arkeologi (SKA) belum sepenuhnya terlaksana di Indonesia. SKA dilakukan sebelum pembangunan fisik berjalan. Contohnya adalah pembangunan waduk Cirata di Jawa Barat, yang pernah melibatkan SKA. Setelah pihak arkeologi memberikan lampu hijau, barulah pembangunan fisik boleh berlangsung.

Selain SKA, meminimalisasi dampak negatif kepurbakalaan dari pembangunan fisik juga tergantung pada pejabat yang berwenang. Pada 1980-an, pembangunan waduk di Sungai Kampar, Riau, sebenarnya berpotensi menenggelamkan Percandian Muara Takus. Namun atas usaha Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup waktu itu, ketinggian air waduk diturunkan sehingga memberi rasa aman pada Percandian Muara Takus.

Melibatkan Arkeolog dalam Pembangunan Fisik

Sejak lama, banyak pembangunan fisik berskala besar telah merusak bahkan menghancurkan tinggalan-tinggalan masa lampau. Dampak negatif ini sangat terasa di kota-kota besar yang pembangunan fisiknya cenderung pesat.

Contoh yang paling jelas terdapat di Jakarta. Situs Pejaten di tepi Kali Ciliwung, Jakarta Selatan, sudah tertutup oleh pembangunan perumahan. Demikian juga situs Tugu di Jakarta Utara, tertutup oleh perumahan dan jalan raya.

Sejauh ini sebagian besar tinggalan masa lampau di Jakarta umumnya berasal dari Masa Kolonial dan Masa Islam. Jadi usianya masih tergolong muda. Tinggalan-tinggalan dari masa sebelumnya yang tergolong lebih tua, yakni Masa Prasejarah dan Masa Hindu-Buddha, hanya tersisa sedikit. Diduga kuat, tinggalan-tinggalan itu sudah tertutup hutan beton. Ini tentu kehilangan besar untuk bahan sumber sejarah Jakarta.

Beruntung semakin tahun ada kesadaran untuk melibatkan arkeolog dalam pembangunan fisik berskala besar. Di Jakarta, pembangunan jalur MRT rute Bundaran HI – Kota, mengajak serta para arkeolog. Diketahui sepanjang jalur Monumen Nasional hingga Kota, banyak ditemukan tinggalan kuno, seperti jalur rel, pipa untuk mengalirkan air bersih, tanggul kayu, dan keramik kuno dari berbagai negara.

Pameran tentang temuan-temuan kuno dari jalur MRT pernah terselenggara September 2024 oleh pihak MRT bekerja sama dengan Bentara Budaya, Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia, dan Dinas Kebudayaan Pemprov Jakarta. Pihak MRT pun memamerkan temuan-temuan tersebut di Stasiun Jakarta Kota.

Meskipun ada pembangunan modern, jelas kita tidak boleh mengesampingkan tinggalan-tinggalan kuno. Yang modern harus bersanding dengan yang kuno. Pekerjaan arkeologi bukan untuk menghambat pembangunan fisik tetapi untuk memperkaya data tentang masa lampau. Entah bagaimana jadinya kalau data arkeologi yang tidak mungkin dicipta ulang itu hancur atau hilang. Tentu generasi masa sekarang akan kesulitan dalam memahami masa lampau.

Pentingnya Libatkan Arkeolog dan Masyarakat

Pelibatan arkeologi dalam pembangunan fisik masih diperlukan hingga jauh ke depan. Begitu juga masyarakat yang peduli sejarah dan budaya. Kepedulian masyarakat pernah terlihat ketika dalam pembangunan jalan tol di Malang, ditemukan banyak tinggalan kuno. Masyarakat melaporkannya kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Trowulan, Mojokerto. Lalu pihak BPCB melakukan ekskavasi penyelamatan.

Sebenarnya sekarang sudah banyak pengawal atau pengawas pembangunan. Di Jakarta ada Pusat Konservasi Cagar Budaya (PKCB). Di banyak daerah ada Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK), Dinas Kebudayaan, Tim Ahli Cagar Budaya, dan Komunitas. Belum lagi dukungan dari dunia pendidikan yang memiliki program studi Arkeologi, Sejarah, dan Pendidikan Sejarah.

Pelibatan publik untuk mengawal pembangunan fisik yang diperkirakan berdampak pada tinggalan masa lampau sangat bermanfaat untuk kelestarian tinggalan masa lampau.

Zaiful Aryanto

Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *