Pengunduran Diri FX Hadi Rudyatmo: Sebuah Keputusan Tulus untuk Kepentingan Partai
Keputusan FX Hadi Rudyatmo untuk mengajukan pengunduran diri sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD PDIP Jawa Tengah tidak dilakukan secara mendadak. Di balik sikap legowo yang ia tunjukkan, ada dinamika internal partai yang terjadi, termasuk isu-isu tentang latar belakang pendidikannya dan tuduhan menjelekkan calon lain.
Isu Terkait Riwayat Pendidikan
Salah satu isu yang muncul adalah terkait riwayat pendidikannya yang disebut hanya lulusan Taman Kanak-kanak (TK). Meski demikian, FX Rudy tidak memilih membantah atau melawan, justru mengamini anggapan tersebut dengan tegas. Ia menyatakan bahwa ia tidak merasa mampu memimpin PDIP Jawa Tengah karena latar belakang pendidikannya.
“Ndak mau lah lulusan TK memimpin PDI Perjuangan Provinsi Jawa Tengah, apa mampu? Saya jawab tidak mampu, gitu aja,” ujarnya saat ditemui di kediamannya.
Pernyataan ini menunjukkan sikap rendah hati sekaligus sindiran halus terhadap isu yang berkembang. Namun, FX Rudy juga menegaskan bahwa penilaian negatif tersebut bukanlah cerminan dari mayoritas kader di Jawa Tengah.
Penolakan di Internal Partai?
Meskipun ada suara-suara sumbang, FX Rudy menilai bahwa penolakan di internal partai tidak nyata. Menurutnya, kegaduhan tersebut lebih banyak berasal dari permainan buzzer di ruang publik. Ia menjelaskan bahwa tidak ada penolakan nyata dari kader-kader PDIP Jawa Tengah.
“Ndak ada sebetulnya. Buzzer-buzzer aja yang bermain,” jelasnya.
Mundur demi Soliditas Partai
FX Rudy menekankan bahwa keputusan mundur tidak didasari oleh kekecewaan atau tekanan. Sebaliknya, langkah tersebut diambil demi menjaga soliditas partai dan organisasi. Ia menegaskan bahwa pertimbangan utamanya adalah kepentingan partai dan kepentingan organisasi yang lebih solid.
“Pertimbangan hanya demi kepentingan partai dan kepentingan organisasi yang lebih solid. Saya legowo, tulus, dan ikhlas menjadi anggota partai biasa. Saya loyal, taat, dan patuh kepada Ibu Megawati Soekarnoputri,” tuturnya.
Sikap ini menegaskan posisinya sebagai kader yang tetap setia, meski tak lagi berada di pucuk kepemimpinan daerah.
Bantah Tuduhan Menjelekkan Calon Lain
Terkait tudingan bahwa dirinya menjelek-jelekkan calon lain, FX Rudy dengan tegas membantah. Ia menyebut tidak pernah menanggapi isu-isu tersebut di media sosial. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak pernah melakukan hal tersebut.
“Ada isu-isu yang begini-begini saya tidak pernah menanggapi di medsos. Itu pun saya dituduh diam saja. Dituduh menjelek-jelekkan calon lain, nggak pernah seperti itu,” jelasnya.
Urungkan Niat Keliling Jawa Tengah
Sebagai Plt Ketua DPD, FX Rudy sempat berniat berkeliling ke kabupaten dan kota di Jawa Tengah untuk menjalankan tugas organisasi. Namun niat tersebut akhirnya ia batalkan. Alasannya sederhana: ia tidak ingin kehadirannya disalahartikan sebagai upaya mencari dukungan politik.
“Begitu muncul calon-calon, saya mending tidak ke mana-mana. Saya tidak keliling ke DPC-DPC. Padahal sebetulnya saya mau keliling ke DPC-DPC. Karena muncul calon lain, mending saya tidak keliling, nanti dikira saya minta dukungan,” jelasnya.
Didukung Banyak DPC, Tapi Tak Ingin Memaksa
FX Rudy mengakui bahwa sejumlah Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di kabupaten/kota memberikan dukungan kepadanya. Namun, ia memilih tidak memaksakan kehendak kepada DPC lain yang tidak sejalan.
“Kalau DPC di bawah semua mendukung. Namun ada yang tidak mendukung, nggak perlu lah memaksakan diri. Jadi anggota partai biasa pun saya tetap PDI Perjuangan dan berjuang untuk memenangkan Pemilu 2029,” tuturnya.
Tak Ada Tekanan, Tak Ada Penyesalan
Setelah mengundurkan diri, FX Rudy menilai peluangnya untuk menduduki jabatan di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) sudah tertutup. Namun, hal itu tidak ia sesali. Ia juga menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil tanpa tekanan dari pihak mana pun.
“Nggak mungkin. DPP sudah selesai. Mengundurkan diri ya tidak di mana-mana. Makanya dengan adanya yang kita lihat dan perhitungkan, saya legowo dan tulus ikhlas. Tanpa tekanan,” jelasnya.
Keputusan FX Hadi Rudyatmo menjadi potret dinamika internal partai yang sarat intrik, namun juga menunjukkan sikap kader senior yang memilih mundur demi menjaga persatuan dan soliditas organisasi.











