Penurunan Penjualan Mobil Nasional pada Tahun 2025
Penjualan mobil nasional sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini terlihat dari kinerja penjualan kendaraan roda empat yang belum kembali ke level sebelum perlambatan. Data yang dirangkum menunjukkan bahwa baik penjualan dari sisi distribusi pabrikan ke diler (wholesales) maupun penjualan ritel ke konsumen menunjukkan tren menurun sepanjang tahun.
Penurunan tersebut terjadi secara bertahap dari awal hingga akhir 2025, meskipun sempat mengalami kenaikan pada beberapa bulan. Berbagai faktor memengaruhi kondisi ini, mulai dari dinamika ekonomi, perubahan preferensi konsumen, hingga penyesuaian strategi produsen otomotif. Situasi ini mendorong pelaku industri untuk melakukan evaluasi terhadap pola distribusi dan pemasaran.
Penjualan Pada Januari-Juni 2025
Pada Januari 2025, jumlah total penjualan mobil secara wholesales tercatat sebesar 61.843 unit. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 11,3 persen secara year-on-year (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun 2024, yaitu sebanyak 69.758 unit. Meski begitu, tren penjualan sempat membaik pada Februari dengan peningkatan sebesar 16,7 persen dari Januari.
Hasil positif ini didorong oleh penundaan penerapan opsen di sebagian besar daerah walau kebijakan PPN 12 persen telah diberlakukan sejak Januari. Data Gaikindo menunjukkan bahwa penjualan wholesales pada Februari mencapai 72.295 unit, atau naik 10.363 unit dari bulan sebelumnya.
Pada Januari–Juni 2025, penjualan mobil secara wholesales tercatat sebanyak 374.740 unit, turun 8,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan retail juga mengalami penurunan sebesar 9,71 persen menjadi 390.467 unit. Meski demikian, penurunan penjualan retail pada periode ini lebih ringan dibandingkan semester pertama tahun lalu yang mengalami penurunan hingga 13,93 persen.
Penjualan Pada Juli-November 2025
Tren penjualan masih mengalami penurunan pada awal Semester II. Pada Juli 2025, penjualan mobil secara wholesales tercatat 60.552 unit, turun 18,4 persen dibandingkan Juli 2024 yang mencapai 74.230 unit. Penjualan mobil secara retail juga mengalami penurunan 12,3 persen secara YoY, dengan capaian 62.770 unit, lebih rendah dibandingkan Juli 2024 yang membukukan 75.588 unit.
Tren penurunan masih terjadi pada Agustus, September, dan Oktober 2025. Pada Oktober 2025, penjualan mobil secara wholesales tercatat 74.019 unit, turun 4,4 persen dibandingkan Oktober 2024 yang mencapai 77.404 unit. Namun, penjualan retail sedikit mengalami kenaikan 1,4 persen secara YoY, dengan capaian 74.720 unit, lebih tinggi dibandingkan Oktober 2024 yang membukukan 73.665 unit.
Pada November 2025, penjualan mobil secara wholesales tercatat 74.252 unit, atau naik 0,3 persen secara month to month (mtm) dibandingkan Oktober 2025 yang mencapai 74.014 unit. Penjualan retail juga mengalami kenaikan 6,1 persen secara mtm, dengan capaian 79.310 unit, lebih rendah dibandingkan Oktober 2025 yang membukukan 74.720 unit.
Total penjualan wholesales sepanjang Januari-November 2025 tercatat 710.084 unit, turun 9,6 persen dibanding periode yang sama pada 2024 yang mencapai 785.917 unit. Selaras dengan itu, penjualan retail di periode yang sama juga masih melemah 8,4 persen menjadi 739.977 unit, dari sebelumnya 807.586 unit pada Januari–November 2024.
Faktor Penyebab Penurunan Penjualan
Menurut pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi, penyebab dari merosotnya penjualan otomotif pada tahun ini antara lain pemberlakuan PPN 12 persen. “Faktor yang cukup mempengaruhi antara lain isu pemberlakuan PPN 12 persen, opsen pajak, dan kondisi ketidakstabilan ekonomi global dan domestik, yang cukup mempengaruhi keputusan pembelian konsumen,” ujarnya.
Agus memprediksi bahwa penjualan otomotif pada tahun depan akan mengalami penurunan. Namun, diharapkan penurunan berada di level yang lebih rendah. Ia juga mengungkapkan beberapa strategi untuk mengatasi penurunan penjualan, antara lain:
- Pemerintah perlu memberikan insentif tambahan yang sesuai seperti relaksasi atau pengurangan komponen pajak seperti PPN, agar industri otomotif dapat meningkatkan penjualan kendaraan.
- Pabrikan juga perlu berinovasi mengembangkan produk yang lebih inovatif dan sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen.
- Pemerintah perlu melakukan peningkatan daya beli masyarakat melalui paket kebijakan ekonomi yang tepat.











