Perjalanan Pagi ke Kota Tua Jakarta
Langit Bogor pagi ini cenderung mendung, meski tidak hujan. Keponakan, sodaranya, dan mama bergegas untuk berangkat ke Kota Tua Jakarta, tentu ditemani oleh saya yang lagi menunggu panggilan interview. Dengan jalan kaki dari gang, lanjut naik angkot menuju stasiun Bogor.
Lucu, misi keponakan dan saudaranya: bertemu hantu di Kota tua Jakarta. Saya sih mengiyakan saja. Memang biasanya di kawasan Kota tua Jakarta sering ada orang berkostum hantu.
Sebelum memutuskan mengajak keponakan dan sodaranya, saya kasih brief dan petuah terkait naik KRL. Meski mereka masih kecil, harus terbiasa belajar dan tau etika naik transportasi umum. Begitu pikir saya, sedari kecil mereka hari belajar memahami hidup di luar rumah dan aturan memakai transportasi umum.
Perjalanan Dari Stasiun Bogor ke Stasiun Jakarta Kota
Ternyata janji dua anak kecil saat perjalanan naik KRL keliru banget. “Aku nggak bakalan rewel atau minta turun kok, Wawa” Ujar keponakan kemudian di yakinkan oleh anggukan saudaranya.
Dengan semangat dan penuh keyakinan, kami meluncur ke stasiun Bogor dengan naik angkot, syukurlah tidak ngetem dan jalan saat cukup lancar, bebas macet. Setelah tiba di stasiun, saya isi dulu kartu-kartu buat masuk kereta (punya keponakan, sodaranya dan mama). Lalu kami memasuki gate dan memilih menunggu KRL yang baru tiba, supaya bisa dapat duduk. Sekitar pukul 08.55 WIB kami naik KRL. Masih lumayan ramai, meski hari Senin. Kemungkinan pekerja agency memang baru pada OTW atau yang kerja kena shift middle.
Awalnya, dua hingga empat stasiun keponakan dan sodaranya anteng saja. Naik ke kursi setelah melepas sandal, lalu melihat kereta lain dari jendela. Lama kelamaan mereka mulai bertanya kapan sampai berulang kali hingga wajah keponakan terlihat sangat bete. Mama menyuruh mereka tidur, agar perjalanan terasa lebih cepat. Sodaranya tertidur dengan mudah, nempel kursi senderan dan langsung masuk ke alam mimpi.
Sedangkan keponakan hanya terdiam, bengong dan kelihatan kesal nunggu kereta kapan sampai ke stasiun Jakarta Kota. Coba saya hibur, menunjuk beberapa gedung besar dan lainnya. Agak membaik kemudian mau bersabar nunggu sampai ke stasiun Jakarta Kota.
Untungnya, dia nggak nangis dan minta turun. Sebelumnya setahun yang lalu, sempat nangis dan minta turun pas masih di Citayam. Walhasil kami kulineran di stasiun Citayam, setelahnya lanjut pulang.
Tiba di Stasiun Jakarta Kota, Hujan & Lanjut Makan Siang
Lega, kami tiba di stasiun Jakarta Kota. Sayangnya hujan turun cukup deras. Jam menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Dari pada kami gabut di stasiun Jakarta Kota. Saya ajaklah keponakan, mama dan sodara kecil satunya untuk makan siang terlebih dahulu.
Kami memasuki salah satu gerai ayam goreng dalam stasiun. Keponakan bersemangat buat makan ayam goreng, bagian paha. Dia tidak suka pedas sama sekali. Jadi saya pilih ayam original. Masing-masing dari kami memakan satu porsi ayam goreng disertai nasi. Saya beli satu minuman, barangkali mereka mau, buat sharing. Saya bawa tumbler isi air mineral pun dengan Mama. Total yang harus saya keluarkan buat makan siang Rp97.500,00.
Setelah kami kenyang makan, hujan sudah mereda. Keponakan dan sodaranya meminta buat lanjut ke Kota tua Jakarta. Kami tinggal jalan kaki dan nyebrang.
Gagal Bertemu Hantu di Kota Tua Jakarta
“Yeay, mau ketemu hantu” Ujar keponakan semangat. Tenang, dia itu cuma excited aja. Aslinya kalau lihat badut langsung lari ketakutan kok. Apalagi ini orang berkostum hantu. Sayangnya, kawasan Kota tua Jakarta tampak lebih sepi dari biasanya.
Orang-orang yang cosplay jadi patung pahlawan pun belum tampak batang hidungnya. Hanya ada beberapa orang wisatawan lokal yang sedang asyik berfoto bahkan bikin video. “Mana ini hantu nya? Kok nggak ada hantu” Ujar sodara keponakan keheranan. “Masih pagi apa ya? Biasanya rame kok. Atau karena ini hari Senin?” Tanya saya heran juga.
Saya tawari mama, keponakan dan sodaranya buat foto bareng di setiap spot. Awalnya saya tawarin buat masuk rumah hantu, info dari pengeras suara per-orang Rp25.000,00. Tetapi saya tau nggak cocok buat anak kecil, yang ada mereka bakalan sawan dan mama pun tidak setuju.
Jadilah kami hanya berkeliling seputaran museum. Mau saya ajakin masuk museum wayang, mereka masih kecil dan nggak terlalu mau masuk museum juga. Khawatir di dalam malah bete dan minta buru-buru keluar. Yaudah mereka berlarian di sekitaran museum sambil bercanda. Ada sih satu orang ber-make up ala hantu tetapi belum ganti baju.
Jadi, kemungkinan para hantu kota tua Jakarta ini memang datangnya siang supaya standby sampai malam (mungkin ya). Atau Senin emang jadwal mereka banyak yang libur karena biasanya tempat wisata nggak begitu banyak yang datang Senin. Beberapa museum pun tutup di hari Senin.
Pulang dan Perjalanan Kembali ke Bogor
Hampir Dzuhur, pencarian keponakan ingin bertemu hantu di Kota tua Jakarta pun tak membuahkan hasil. Akhirnya saya putuskan buat pulang saja. Kami kembali berjalan menuju stasiun Jakarta Kota dan menaiki KRL yang ngetem di peron 12, jurusan Jakarta Kota – Bogor.
Perjalanan pulang, kedua anak kecil nampak lebih anteng. Keponakan tertidur ketika KRL baru saj melalui dua stasiun. Sodaranya anteng melihat gedung-gedung dari jendela kereta.
Perjalanan pulang lebih terasa cepat ketimbang berangkat. Mungkin karena kedua bocil anteng dan kami merasa damai. Saya pun sempat tertidur. Sampai di stasiun Bogor, rupanya kedua anak kecil ini nggak mau langsung pulang.
Mereka mau main perosotan di Alun-alun Bogor. Usai kami shalat Dzuhur, saya pamitan sama mama mau lanjut pulang saja, beliau tidak keberatan dan mereka bertiga lanjut ke alun-alun Bogor.
Ternyata, perut saya keroncongan. Tetapi saya tahan sebentar, saat memasuki area Ciomas. Saya berhenti di bakso BBM, beli seporsi bakso tanpa bihun dan dibungkus buat makan di rumah saja.
Harga per-porsi bakso Rp17.000,00. Salah satu bakso terenak ala lokal dan sesekali saya suka beli. Kadang suka makan di tempat juga sih, cukup luas tempat makannya dan bersih juga.
Per-porsi bakso nya pun mengenyangkan. Ada bakso berukuran besar satu buah, sisanya bakso sedang dan bakso kecil-kecil serta sayuran dan mie kuning. Kuah bakso nya juga sedap.
Begitulah kisah “Gagal Bertemu Hantu di Kota Tua Jakarta” Syukurlah keponakan dan sodaranya tidak rewel atau kecewa. Anak-anak tetap happy saja meski yang dituju tidak ketemu. Terima kasih sudah berkenan membaca pengalaman sederhana ini, have a nice day sobat kompasianer.











