"Kita perlu membangun kolaborasi untuk memitigasi risiko keamanan siber dan menemukan solusi terbaik untuk meminimalkan dampak negatif dari AI. Ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk memanfaatkan potensi AI secara berkelanjutan untuk kesejahteraan manusia," ujar Harsen.
Selama berada di Beijing, Harsen juga melakukan pertemuan dengan para pemimpin dan peneliti dari CCG serta bertemu dengan sejumlah pemimpin organisasi internasional seperti International Department of Central Committee of CPC, China Association for International Economic Cooperation, China Development Bank, China Council for International Cooperation on Environment and Development, dan China Society for WTO Studies.
pinrangpost.com – Jakarta – Harsen Roy Tampomuri, seorang tokoh muda dari Sulawesi Utara, menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang menghadiri forum think tank global yang diselenggarakan oleh Center for China and Globalization (CCG) di Beijing, China.
KBRI Beijing melalui pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa, melaporkan bahwa Harsen, seorang dosen dan Direktur Eksekutif Pusat Studi Geopolitik dan Global Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta, hadir dalam dua agenda yakni 9th China Global Think Tank Innovation Forum dan Global Young Leaders Forum.
Mewakili para pemimpin muda dunia dari forum Global Young Leaders Dialogue (GYLD), Harsen juga menyampaikan pandangannya pada sesi yang membahas tema “Presaging the Future of Global Governance in the Trump 2.0 Era”.
Menurutnya, kondisi dunia saat ini semakin kompleks dengan berbagai konflik yang seringkali tak terhindarkan dan dinamika lingkungan geopolitik yang multipolar. “Negara-negara besar terus membentuk lingkungan operasi global secara mendalam, sementara negara-negara lainnya juga bersekutu dengan kekuatan atau blok besar untuk mendapatkan pengaruh dalam agenda internasional. Kita perlu bekerja sama untuk memitigasi risiko politik global yang berpotensi konflik destruktif dalam skala besar,” ujarnya.
Harsen juga menilai bahwa di era Trump 2.0, yang bersamaan dengan kompetisi dua kekuatan ekonomi dunia, seharusnya ada upaya bersama untuk menciptakan ruang kerja sama pemerintahan global daripada terpecah dan terjadi konflik di antara komunitas global.
Di sesi lain pada forum yang sama, Harsen juga menyampaikan gagasan mengenai kecerdasan buatan (AI). Ia menekankan bahwa perkembangan AI harus diikuti dengan kemampuan dalam hal keterampilan digital, etika digital, keamanan digital, dan budaya digital. “AI merupakan alat yang sangat kuat yang dapat membawa dampak positif maupun negatif bagi generasi muda di era digital. Namun dengan pemahaman yang tepat dan pendekatan yang tepat, generasi muda dapat memanfaatkan kemajuan teknologi AI untuk meningkatkan kualitas hidup,” ucap Harsen, yang juga pernah menjadi Tenaga Ahli MPR RI.
Selama berada di Beijing, Harsen juga melakukan pertemuan dengan para pemimpin dan peneliti dari CCG serta bertemu dengan sejumlah pemimpin organisasi internasional seperti International Department of Central Committee of CPC, China Association for International Economic Cooperation, China Development Bank, China Council for International Cooperation on Environment and Development, dan China Society for WTO Studies.











