Pinrangpost.com – China dikabarkan gagal mengatasi masalah deflasi yang berlangsung selama dua tahun berturut-turut. Hal ini menandakan bahwa China sedang mengalami penurunan daya beli yang terpanjang sejak 1960-an. Para analis mengungkapkan bahwa hal ini menandakan bahwa pertumbuhan ekonomi China pada akhir tahun lalu masih sangat lemah.
Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh para ekonom, deflasi di China diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun 2025. Hal ini merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak berakhirnya kampanye Great Leap Forward pada era Mao Zedong. Pada masa itu, China mengalami resesi dan kelaparan yang menewaskan puluhan juta orang.
Di tengah kondisi yang terus memburuk ini, pertumbuhan ekonomi China diperkirakan akan meningkat secara riil. Namun, deflator Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan akan mencapai angka minus 0,2% pada tahun 2025. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perang dagang dengan Amerika Serikat yang dapat memperparah keadaan China.
Dalam menghadapi kondisi ini, para analis menyarankan agar China segera melakukan stimulus fiskal untuk mengatasi deflasi yang terjadi. Hal ini telah terbukti efektif di negara-negara lain yang mengalami masalah serupa. Frederic Neumann, kepala ekonom Asia di HSBC Holdings Plc di Hong Kong, menyatakan bahwa stimulus yang besar diperlukan untuk mengatasi masalah ini secara permanen.
Perang dagang dengan AS juga dapat memperburuk keadaan China karena memaksa para eksportir untuk mencari pembeli domestik. Data juga menunjukkan bahwa pasar properti dan sektor ritel di China mengalami masalah. Hal ini terjadi hanya beberapa hari sebelum Donald Trump kembali ke Gedung Putih dengan ancaman tarif setinggi 60% yang dapat menghancurkan perdagangan dengan perekonomian nomor dua di dunia ini.
Meskipun begitu, China masih berusaha untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5% tahun lalu. Hal ini didukung oleh lonjakan ekspor dan peningkatan penjualan rumah serta belanja ritel. Namun, China masih belum mampu mengatasi masalah deflasi yang disebabkan oleh krisis perumahan yang telah menghapus sekitar USD18 triliun kekayaan rumah tangga. Hal ini menyebabkan orang lebih memilih menabung daripada menghabiskan uangnya.
Para ekonom yang disurvei oleh Bloomberg memperkirakan bahwa pertumbuhan PDB riil China akan mencapai 4,9% pada tahun 2024. Hal ini menandakan bahwa sentimen mulai bergeser dalam beberapa bulan terakhir berkat lebih banyak stimulus dari pemerintah. China masih harus bekerja keras untuk mengatasi masalah deflasi yang sedang dihadapinya.











