Perubahan Harga Rupiah atau Redenominasi dalam Kebijakan Pemerintah
Perubahan harga rupiah, yang dikenal sebagai redenominasi, telah menjadi bagian dari Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 70 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Keuangan Tahun 2025–2029. Pemerintah menargetkan bahwa Rancangan Undang-Undang (RUU) Redenominasi akan selesai pada tahun 2027.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), redenominasi adalah penyederhanaan nilai mata uang rupiah tanpa mengubah nilai tukarnya. Sementara itu, menurut laman resmi Bank Indonesia, redenominasi merupakan penyederhanaan penulisan nilai barang dan jasa yang diikuti pula dengan penyederhanaan penulisan alat pembayaran atau uang.
Tujuan utama dari redenominasi adalah untuk membuat sistem akuntansi dalam sistem pembayaran menjadi lebih sederhana karena nominal angka yang ditulis menjadi lebih sedikit. Menurut laman BI, redenominasi tidak memberikan dampak negatif terhadap perekonomian selama dilakukan pada waktu yang tepat.
Sejumlah negara di dunia pernah melakukan redenominasi sebagai langkah strategis untuk memperbaiki sistem keuangan dan memperkuat stabilitas ekonomi nasional. Langkah ini umumnya diambil saat nilai mata uang suatu negara dinilai terlalu besar hingga menyulitkan transaksi maupun pencatatan keuangan.
Beberapa negara bahkan melakukan redenominasi lebih dari satu kali akibat inflasi tinggi atau ketidakstabilan ekonomi. Berikut beberapa contoh negara yang pernah melakukan redenominasi:
-
Jerman (1923)
Jerman menjadi salah satu negara yang pernah melakukan redenominasi setelah Perang Dunia I. Negara ini menghadapi inflasi yang sangat tinggi dan diperburuk oleh kewajiban ganti rugi perang yang besar. Pada 1923, pemerintah Jerman mengganti mata uang Papiermark dengan Rentenmark setelah inflasi mencapai tingkat 29.500 persen. Pecahan tertinggi Papiermark yang beredar mencapai 100 triliun mark, dan 1 triliun mark digantikan dengan 1 Rentenmark untuk menstabilkan perekonomian. -
Yugoslavia (1994)
Yugoslavia mengalami hiperinflasi selama perang saudara antara 1992 dan 1994. Mata uang dinar mengalami empat kali redenominasi selama periode ini, dengan satu dinar baru yang setara dengan satu miliar dinar lama pada 1994. Redenominasi membuat mata uang Yugoslavia jadi salah satu mata uang dengan umur terpendek dalam sejarah. -
Yunani (1944)
Negara yang pernah melakukan redenominasi selanjutnya adalah Yunani. Negara ini mengalami hiperinflasi pada 1944 karena penjajahan Jerman selama Perang Dunia II. Pada puncak inflasi Yunani mencapai 3×1010 persen. Negara ini mengganti 50 miliar drachma dengan satu unit mata uang baru dengan rasio 50.000.000.000:1 untuk mempermudah transaksi dan stabilisasi ekonomi. -
Hungaria (1946)
Pada 1946, Hungaria melakukan redenominasi terbesar dalam sejarah dunia dengan mengganti mata uang pengo menjadi forint. Inflasi ekstrem akibat Perang Dunia II menyebabkan harga barang melonjak dengan cepat. Hak tersebut memaksa Hungaria untuk menghapus 400 oktiliun pengo yang setara dengan 1 forint. Uang kertas bernilai 20 oktiliun pengo menjadi sangat umum beredar pada saat itu. -
Zimbabwe (2009)
Zimbabwe mengalami salah satu hiperinflasi terburuk dalam sejarah modern pada 2009. Mata uang Zimbabwe, dolar Zimbabwe, terdevaluasi begitu parah sehingga satu dolar ke-4 setara dengan 10 septiliun dolar Zimbabwe pertama. Selama periode ini, pemerintah Zimbabwe melakukan serangkaian redenominasi dan akhirnya mendemonetisasi dolar Zimbabwe. Kebijakan ini menggantikan dolar Zimbabwe dengan mata uang asing seperti dolar AS, euro, dan yuan China. -
Bolivia (1987)
Bolivia melakukan redenominasi besar-besaran pada 1987. Kebijakan tersebut mengubah peso boliviano menjadi boliviano baru dengan rasio 1 juta:1 setelah inflasi yang tinggi. Pada puncak inflasi 1985, satu dolar AS setara dengan satu juta peso boliviano. Redenominasi ini membantu menstabilkan ekonomi dan mengurangi inflasi pada awal 1990-an. -
China (1949)
China atau Tiongkok juga pernah melakukan redenominasi besar-besaran. Pada akhir perang saudara dan pendudukan Jepang, China mengalami inflasi luar biasa. Pemerintah Kuomintang memperkenalkan yuan emas pada 1948 untuk menggantikan yuan lama dengan rasio 3 juta banding 1, namun kebijakan itu gagal. Setahun kemudian, pemerintah kembali meluncurkan yuan perak dengan rasio 500 juta banding 1. Hiperinflasi tetap tak terkendali hingga akhirnya digantikan oleh renminbi (RMB) pada 1949. Renminbi menjadi mata uang nasional China hingga kini. -
Venezuela (2018 & 2021)
Krisis membuat uang bolívar kehilangan daya beli di Venezuela. Pemerintah setempat menghapus lima nol dari mata uang dan menggantinya menjadi Bolívar Soberano. Saat itu inflasi diperkirakan tembus 1.000.000 persen, angka yang hampir mustahil dibayangkan. Meski nominal jadi lebih pendek, harga kebutuhan tetap naik setiap minggu. Redenominasi ini tak banyak membantu karena kebijakan ekonomi dasarnya tidak berubah. Belum genap tiga tahun, Venezuela kembali memangkas enam nol dari mata uangnya dan memperkenalkan Bolívar Digital. Namun, harga barang tetap melonjak, dan warga lebih suka menggunakan dollar AS untuk transaksi. Banyak toko bahkan tak lagi menampilkan harga dalam bolívar karena nilainya terus berubah. -
Turki (2005)
Turki jadi contoh negara yang berhasil melakukan redenominasi. Setelah bertahun-tahun menghadapi inflasi tinggi, pemerintah menghapus enam nol dari lira pada 1 Januari 2005. Pemerintah juga memperbaiki anggaran, menekan defisit, dan memberi wewenang lebih besar ke bank sentral. Keputusan itu membawa hasil nyata berupa inflasi turun, ekonomi tumbuh, dan masyarakat tak lagi harus membawa uang segepok untuk belanja harian. Beberapa tahun kemudian, kata “Yeni” dihapus, menandakan kepercayaan terhadap lira sudah pulih.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











