Profesi Sopir Odong-odong di Muara Angke, Jakarta Utara
Di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara, menarik odong-odong menjadi profesi yang sangat diminati oleh banyak warga setempat. Odong-odong yang awalnya digunakan sebagai kendaraan roda tiga untuk mengangkut barang kini dimanfaatkan untuk mengangkut penumpang. Kendaraan ini menjadi salah satu alternatif transportasi bagi warga yang ingin pergi dari Terminal Muara Angke menuju ke Pelabuhan Kali Adem atau Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
Sampai saat ini, belum ada transportasi umum seperti Jaklingko yang melayani rute tersebut. Oleh karena itu, keberadaan odong-odong masih sangat dibutuhkan. Setiap menitnya, puluhan odong-odong berlalu lalang dari terminal menuju pelabuhan atau sebaliknya.
Duka Sopir Odong-odong
Meskipun pekerjaannya terlihat mudah, menjalani profesi sebagai sopir odong-odong tidaklah mudah. Mukhlis (49), salah satu sopir odong-odong, mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesarnya adalah ketika tidak mendapatkan uang setoran. “Dukanya kadang gitu pas setoran belum dapat uangnya, kadang kan odong-odong gitu enggak selalu sehat,” katanya.
Odong-odong yang digunakannya disewa dari orang lain dengan harga Rp 100.000 per hari. Pendapatan Mukhlis hanya sekitar Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per hari. Belum lagi biaya bensin yang harus ditanggung sendiri sebesar Rp 10.000 per hari. Dalam sehari, uang bersih yang diterimanya sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000.
Pendapatan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan istri dan tiga anaknya yang tinggal di Cilacap, Jawa Tengah. Meski pendapatannya tidak menentu, Mukhlis selalu berusaha mensyukuri apa pun yang diperolehnya setiap harinya.
Pendapatan Meningkat Saat Rob
Pendapatan Mukhlis bisa meningkat ketika terjadi banjir rob di kawasan Muara Angke. Banyak warga yang tidak berani menerobos banjir karena takut kendaraannya rusak. Mereka kemudian memilih menggunakan odong-odong untuk berlalu lalang dari depan rumahnya hingga ke Terminal Muara Angke.
Selain itu, odong-odong juga sering dinaiki wisatawan yang ingin menuju ke Pelabuhan Kali Adem. “Ramaian pas banjir karena pada banyak yang mau ke pulau. Dalam sehari enggak menentu, kadang Rp 200.000, kadang Rp 300.000,” ujar Mukhlis.
Tinggal di Odong-odong
Karena pendapatan yang tidak menentu, Mukhlis tidak berani mengontrak rumah. Sejak menarik odong-odong, ia memilih untuk tidur di kendaraan yang menjadi sumber mata pencahariannya tersebut. Keputusan ini diambil karena ia tinggal di Jakarta seorang diri, sementara istri dan ketiga anaknya berada di Cilacap.
Mukhlis lebih memilih menabung uang untuk kebutuhan rumah tangga dan menengoki anak dan istrinya di kampung halaman. Setiap malam, ia memarkirkan odong-odongnya di depan warung yang buka 24 jam agar aman dan terhindar dari aksi kejahatan.
Jadi Korban Kejahatan
Selain harus menahan kedinginan ketika hujan, tidur di odong-odong juga kerap membuat Mukhlis menjadi korban kejahatan. Barang berharganya seperti ponsel dan dompet pernah hilang ketika sedang tertidur pulas. “Itu barang hilang, paling handpone, dompet saya pernah mengalami karena kita tidur lagi pulas,” jelas Mukhlis.
Tak Bisa Dipertahankan
Meski menjadi profesi andalan banyak warga, keberadaan odong-odong di Muara Angke dinilai tidak bisa dipertahankan. Kendaraan roda tiga ini tidak memiliki izin untuk menjadi transportasi umum. “Ini tanpa izin, kalau dari aspek yang ada memang bukan angkutan penumpang, tapi untuk angkutan barang atau angkutan hasil panen di desa-desa,” tutur Kasudinhub Jakarta Utara Hendrico Tampubolon.
Pengamat Transportasi, Deddy Herlambang, juga menilai bahwa odong-odong tidak diperkenankan untuk mengangkut penumpang karena mengancam keselamatan. “Dampak keselamatan bila terjadi kecelakaan baik ditabrak atau menabrak, penumpangnya akan keluar dari bak kendaraan odong-odong terjadinya fatalitas kecelakaan besar sekali,” tutur Deddy.
Namun, dalam kondisi darurat seperti rob, odong-odong bisa digunakan untuk membantu warga yang terdampak. Namun, operasionalnya tetap tidak diperbolehkan di jalan raya, melainkan hanya di jalan kampung yang jaraknya pendek.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











