JAKARTA – Ajang COP 30 di Brasil kembali menjadi panggung penting bagi negara-negara di seluruh dunia untuk menunjukkan tindakan nyata dalam menghadapi perubahan iklim, termasuk Indonesia. Dengan posisi sebagai salah satu penyumbang emisi karbon terbesar, Indonesia berada di tengah fokus global terkait upaya penanganan iklim.
Laporan “Emission Gap 2025: Off Target” yang dirilis oleh program lingkungan PBB (UNEP) menunjukkan bahwa sebagian besar negara gagal memenuhi komitmen mereka dalam mengurangi emisi karbon. Akibatnya, rata-rata suhu global saat ini mencapai sekitar 2,3 hingga 2,5 derajat Celsius. Dalam dekade mendatang, suhu rata-rata global diperkirakan akan terus meningkat melebihi ambang batas 1,5 derajat Celsius.
Untuk mencapai target global, diperlukan upaya ekstra dalam mengurangi emisi karbon. UNEP menyarankan skenario pengurangan emisi sebesar 26 persen pada 2030 dan 46 persen pada 2035 dibandingkan tahun dasar 2019. Upaya ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan kehidupan di bumi.
Inger Andersen, Executive Director UNEP, menyatakan bahwa upaya mengurangi dampak iklim harus dilakukan secepat mungkin. “Pertama, untuk mengurangi eskalasi dampak iklim yang merugikan semua negara, terutama masyarakat paling rentan. Kedua, untuk membatasi risiko titik kritis iklim seperti runtuhnya Lapisan Es Antartika Barat,” ujarnya.
Selain itu, UNEP menekankan perlunya mengurangi ketergantungan pada metode penghilangan karbon dioksida yang tidak pasti dan mahal. Menurut laporan tersebut, negara-negara G20, termasuk Indonesia, masih gagal menangkal pertambahan emisi karbon global.
Emisi gas rumah kaca (GRK) dari negara-negara anggota G20, tidak termasuk Uni Afrika, menyumbang sekitar 77 persen dari total emisi global. Meski demikian, hanya Uni Eropa yang berhasil menurunkan emisi pada tahun 2024.
Sektor Energi Fosil dan Penggunaan Lahan
Sejauh ini, energi fosil menjadi sumber utama emisi karbon, yaitu sekitar 73 persen. Sementara itu, sektor nonfosil menyumbang sekitar 27 persen, termasuk penggunaan dan alih fungsi lahan serta hutan.
Kehilangan hutan primer yang tidak terkait kebakaran meningkat sebesar 14 persen dari tahun 2023 hingga 2024. Penyebab utamanya adalah pembukaan lahan untuk pertanian, terutama kedelai, ternak, dan kelapa sawit. Komoditas-komoditas ini diperdagangkan secara internasional, dengan negara-negara ekonomi besar mengonsumsi produk-produk yang terkait deforestasi.
Sekitar seperempat dari total emisi penggunaan lahan terkait perdagangan, dengan kontribusi signifikan dari ekspor kedelai dari Brasil atau minyak sawit dari Indonesia.
Selain masalah hutan dan lahan, peningkatan GRK di Indonesia juga dipengaruhi oleh energi fosil. Operasi pertambangan dan transportasi turut meningkatkan emisi karbon. Akibatnya, Indonesia masuk dalam enam negara penghasil emisi GRK terbesar, bersama China, Amerika Serikat, India, Uni Eropa, dan Rusia.
Pertumbuhan Emisi Absolut Tertinggi
Indonesia bahkan dicap sebagai negara dengan pertumbuhan emisi absolut tertinggi, bersama India dan China. Dalam hal tingkat pertumbuhan, Indonesia menunjukkan peningkatan tertinggi (4,6 persen) diikuti oleh India (3,6 persen). Pertumbuhan emisi di China (0,5 persen pada tahun 2024) lebih rendah daripada tahun sebelumnya.
Laporan UNEP juga menyebut bahwa Indonesia menghadapi kendala dalam mencapai target NDC (Nationally Determined Contributions) dengan kebijakan eksisting. Tujuh anggota G20 kemungkinan akan mencapai target tanpa syarat mereka dengan kebijakan yang ada, sementara sembilan negara diproyeksikan akan gagal. Estimasi untuk Indonesia masih sangat tidak pasti karena fluktuasi besar dalam emisi penggunaan lahan selama beberapa tahun terakhir.











