
Pengalaman Dokter dalam Menangani Kasus Rahim Copot
Seorang dokter, dr Gia Pratama, pernah menghadapi kasus yang sangat langka dan memprihatinkan. Ia menangani seorang perempuan dengan kondisi rahim yang terlepas dari tubuhnya. Kejadian ini terjadi setelah sang ibu melahirkan dengan bantuan dukun beranak.
Kasus ini terjadi ketika dr Gia sedang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Slamet, Garut, Jawa Barat. Pada pukul 02.00 dini hari, seseorang datang membawa kantong kresek hitam. Saat itu, ia mendengar suara seseorang yang berbicara dalam bahasa Sunda, “Dok punten boleh konsul?” Dari percakapan tersebut, diketahui bahwa kantong tersebut berisi organ reproduksi seorang ibu yang baru saja melahirkan.
Menurut penuturan dr Gia, kejadian ini diduga terjadi karena tindakan yang tidak tepat dilakukan oleh dukun beranak. Setelah bayi lahir, plasenta seharusnya keluar secara alami tanpa intervensi berlebihan. Namun, dalam kasus ini, paraji diduga menarik tali pusar secara paksa. Tarikan tersebut bukan hanya mengeluarkan plasenta, tetapi juga menyeret rahim sang ibu hingga terlepas.
dr Gia menjelaskan bahwa plasenta sebenarnya bisa keluar sendiri dari rahim tanpa harus dipaksa. Ia juga mengungkapkan keistimewaan rahim yang mampu membesar hingga satu kilogram selama kehamilan, lalu kembali ke ukuran semula sekitar 70 gram tanpa kehilangan fungsi biologisnya.
Cerita dr Gia ini menjadi viral di berbagai platform media sosial. Namun, kejadian ini juga memicu pro kontra, terutama dari kalangan dokter dan tenaga kesehatan. Beberapa dari mereka bahkan meminta dr Gia untuk menjelaskan kejadian tersebut dalam forum PIT POGI, yang merupakan singkatan dari Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia.
Bukti Operasi Rahim Copot
Di tengah keraguan yang muncul, para tim medis yang mengetahui kejadian rahim copot 15 tahun silam turut buka suara. Akun @purnawansenoaji_dr membagikan ulang operasi medis yang dilakukan dr Gia Pratama bersama Dr. dr. FC. Christofani Ekapatria, Sp.OG, Subsp F.E.R. MIGS.
“izin share ya dok @christoekapatria @giapratamamd, kasus tahun 2010 ya, krowoktomi by dukun, continued with hemostasis/bleeding control by obgyn and team. Luar biasa ya dok, semoga tidak ada regenerasi dukun beranak lagi ya di era sekarang. Biar kasus-kasusnya lurus saja seperti di buku kedokteran biar tidak ada polemik,” tulis dr Purnawan Senoaji.
Dalam foto tersebut, terlihat dr Gia Pratama dan dr Christo melakukan tindakan operasi dengan sensor kondisi pasien. Setelah saksi mata dan bukti terungkap ke publik, rekan sejawat dokter yang sempat meragukan dr Gia Pratama pun mengucapkan permintaan maaf secara terbuka.
dr Gia Pratama mengaku telah menerima permintaan maaf para rekan sejawat. Ia menuliskan rasa hormatnya pada dokter spesialis kandungan. Terakhir, melalui akun @giapratamamd, ia meminta agar tak meninggalkan komentar buruk pada siapapun.
Pesan untuk Masyarakat
Dokter yang aktif membagikan kisah di media sosial tersebut juga meminta seluruh masyarakat tak melahirkan di dukun beranak. Ia menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk lebih waspada dan memilih tempat persalinan yang aman dan profesional.
“Yang terkasih, teman-teman. Semua yang sudah follow saya sejak lama pasti sangat mengerti bahwa saya sangat anti konflik. ‘Kasian dokter Gia pasti sakit hati, tersinggung’, ‘dipertanyakan, direndahkan, diremehkan’. Engga, teman-teman. Jangan pernah berpikir begitu yaa. Sungguh saya baik-baik saja,” ucap dr Gia.
Ia juga memohon kepada seluruh masyarakat untuk menjaga ruang media sosial tetap teduh, sehat, dan penuh hormat. Dengan pesan tersebut, dr Gia berharap dapat memberikan edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











