My WordPress Blog
Bisnis  

Rekomendasi Saham Nikel yang Tertekan Harga Komoditas

Kinerja Emitter Nikel Menghadapi Tantangan Pasar

Harga komoditas nikel dalam beberapa waktu terakhir mengalami penurunan yang signifikan, sehingga memberikan tekanan berat pada kinerja emiten produsen nikel. Penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kelebihan pasokan global dan permintaan yang tidak sejalan dengan produksi.

Pergerakan Harga Nikel dan Dampaknya pada Saham

Berdasarkan data dari Bloomberg, harga bijih nikel untuk kontrak tiga bulan di LME ditutup naik tipis 0,08% menjadi US$ 14.650 per ton. Namun, dalam sebulan terakhir, harga nikel turun sebesar 3,71%, sedangkan secara year to date (YTD), harga nikel turun hingga 4,96%. Hal ini berdampak langsung pada kinerja saham emiten nikel.

Beberapa saham emiten nikel tercatat mengalami penurunan signifikan. Contohnya, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 10,77% ke level Rp 3.810 per saham. Sementara itu, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) melorot 20,41% ke level Rp 975 per saham. Selain itu, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) juga melemah 2,59% ke level Rp 565 per saham. Adapun saham PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) turun 10,49% ke level Rp 725 per saham, sementara saham PT PAM Mineral Tbk (NICL) terkoreksi 0,47% ke level Rp 1.060 per saham.

Penyebab Pelemahan Harga Nikel

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa pelemahan harga nikel akhir-akhir ini merupakan akibat dari kelebihan pasokan struktural di pasar global. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan produksi nikel kelas II (NPI) dan feronikel dari Indonesia yang mencapai lebih dari 60% dari total produksi dunia.

“Kelebihan pasokan ini diperparah oleh lemahnya permintaan global, terutama dari industri baja nirkarat di China yang gagal tumbuh mengikuti laju produksi Indonesia,” ujar Abida.

Pelemahan harga nikel juga berdampak pada kinerja emiten yang masih fokus pada produk tradisional seperti nikel matte atau feronikel. Selain itu, koreksi harga nikel memengaruhi kelangsungan ekspansi hilirisasi, terutama proyek smelter yang membutuhkan investasi besar.

Proyeksi Kinerja Emitter Nikel Tahun 2026

Untuk tahun 2026, kinerja emiten produsen nikel diproyeksikan tetap menantang karena surplus pasokan global diperkirakan mencapai sekitar 0,26 juta ton. Meski begitu, beberapa analisis memprediksi adanya normalisasi harga nikel pada sisa tahun 2025 seiring pemulihan permintaan dari China.

Namun, pemulihan harga yang substansial diperkirakan akan terbatas selama surplus pasokan dari Indonesia terus mendominasi pasar global.

Peluang Jangka Panjang dan Strategi yang Diperlukan

Sentimen positif utama yang dapat mengangkat kinerja emiten adalah percepatan adopsi kendaraan listrik global. Pertumbuhan konsumsi baterai kendaraan listrik akan menjadi katalis struktural jangka panjang yang kuat, meningkatkan permintaan untuk nikel kelas I seperti MHP dan nikel sulfat, serta menjamin pasar bagi produk hilirisasi Indonesia.

Secara umum, emiten nikel harus memperkuat strategi efisiensi biaya operasional dan mempertahankan status sebagai produsen berbiaya rendah global. Selain itu, emiten juga perlu mempercepat diversifikasi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Rekomendasi Analis

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa nikel tetap memiliki peran penting sebagai mineral strategis dalam industri kendaraan listrik dan baja nirkarat. Oleh karena itu, emiten-emiten produsen nikel dinilai memiliki prospek fundamental yang menjanjikan secara jangka panjang.

Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham MBMA dengan target harga di level Rp 760 per saham. Di sisi lain, Abida merekomendasikan beli saham NCKL dengan target harga di kisaran Rp 1.300 per saham, mengingat kinerja labanya tumbuh di tengah krisis dan fokusnya pada produk intermediate baterai. Selain itu, saham INCO juga disarankan beli dengan target harga di level Rp 4.700 per saham, seiring peluang masuk pada valuasi yang lebih menarik dan potensi kenaikan harga saham signifikan berkat kemajuan proyek smelter.



MBMA Chart

by TradingView

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *