My WordPress Blog

Fakta Menarik: Gus Yahya Bertemu Netanyahu untuk Palestina

Konflik Internal PBNU dan Pemanggilan Peter Berkowitz

PBNU sedang menghadapi konflik internal yang cukup serius. Salah satu isu utama adalah rencana pemakzulan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau dikenal sebagai Gus Yahya. Isu ini muncul setelah polemik terkait pengundangan Peter Berkowitz, tokoh pro-Israel, ke Universitas Indonesia (UI) beberapa waktu lalu.

Gus Yahya dituduh memiliki afiliasi dengan dukungan terhadap Zionisme melalui tindakannya mengundang Peter Berkowitz sebagai narasumber dalam acara di UI. Saat ini, Gus Yahya menjabat dua posisi penting di PBNU, yaitu Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) dan Ketua Umum PBNU.

Petisi untuk Copot Gus Yahya dari Ketua MWA UI

Pada September 2025, muncul petisi untuk mencopot Gus Yahya dari jabatan Ketua MWA UI. Petisi ini dilakukan oleh Komunitas UI Student for Justice in Palestine melalui situs change.org. Dalam petisi tersebut, disebutkan bahwa Gus Yahya bertanggung jawab atas kehadiran Peter Berkowitz dalam acara Pengenalan Sistem Akademik Universitas (PSAU) UI pada 23 Agustus 2025.

Selain itu, Peter Berkowitz juga diundang sebagai pemateri dalam acara Akademi Kepemimpinan Nasional yang digelar PBNU pada 15 Agustus 2025.

Petisi ini telah ditandatangani oleh ribuan orang. Gus Yahya sebelumnya sudah meminta maaf kepada civitas UI karena mengundang Peter Berkowitz dan mengaku khilaf karena tidak mencermati latar belakangnya terlebih dahulu.

Namun, permintaan maaf tersebut dinilai tidak cukup oleh komunitas tersebut. Dalam petisi, disebutkan bahwa Gus Yahya merupakan orang yang bertanggung jawab atas pengundangan Berkowitz. “Konsekuensinya tidak bisa diselesaikan hanya dengan permintaan maaf,” demikian salah satu butir dalam petisi.

Diketahui, petisi ini muncul hampir 1,5 tahun setelah Gus Yahya ditunjuk sebagai Ketua MWA UI. Ia terpilih sebagai Ketua MWA UI Periode 2024-2029 pada 24 April 2024.

Bantah Pemakzulan

Katib Aam PBNU, KH Akhmad Said Asrori, menegaskan bahwa tidak ada proses pemakzulan atau desakan pengunduran diri terhadap Gus Yahya. Hal ini disampaikan seusai silaturahmi para kiai dan alim ulama di Kantor PBNU, Jakarta, pada Senin (24/11/2025).

“Tidak ada pemakzulan, tidak ada pengunduran diri, semua sepakat begitu. Semua gembleng 100 persen ini,” kata Said dalam jumpa pers.

Said menjelaskan bahwa seluruh kiai dan alim ulama sepakat bahwa kepengurusan PBNU tetap berjalan hingga akhir masa jabatan. “Sepakat kepengurusan PBNU harus selesai sampai satu periode yang Muktamarnya kurang lebih satu tahun lagi,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh pihak di lingkungan PBNU untuk menjaga kekhidmatan organisasi dengan memperbanyak tafakur dan mujahadah. Upaya ini, menurut dia, penting demi kebaikan bersama, termasuk bagi warga NU dan masyarakat Indonesia.

“Bersama-sama bertafakur, bermujahadah, selalu memohon pertolongan demi kebaikan semuanya di antara kita semua. Itu yang paling pokok,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia menambahkan bahwa tidak ada bentuk paksaan pengunduran diri kepada siapa pun dalam jajaran PBNU.

“Jadi sekali lagi, tidak ada pengunduran dan tidak ada pemaksaan pengunduran diri. Tidak ada. Ini sekali lagi saya tegaskan, tidak ada. Semua harus, semuanya pengurusan harian PBNU mulai Rais Aam sampai jajaran, Ketua Umum dan jajaran sempurna sampai Muktamar yang akan datang,” ungkap Said.

Pernah Bertemu Netanyahu

Gus Yahya mengaku pernah bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Meski begitu, ia membantah memiliki kedekatan khusus dengan Israel, yang menjadi salah satu poin risalah rapat harian syuriah PBNU untuk memakzulkan dirinya.

“Saya itu tahun 2018 sudah pernah pergi ke Israel. Saya bertemu Netanyahu, saya bertemu dengan Presiden Israel, saya bertemu dengan berbagai elemen di sana di dalam berbagai forum tahun 2018,” ujar Gus Yahya di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (23/11/2025).

Menurutnya, anggota NU telah mengetahui bahwa dirinya pergi ke Israel pada tahun 2018. Hal itu juga tak menjadi masalah karena mayoritas pengurus NU memilihnya sebagai Ketua Umum pada Muktamar NU ke-34 di Bandar Lampung 2021 lalu.

“Tapi, tahun 2021 muktamar cabang-cabang dan PWNU memilih saya, mereka sudah tahu saya ke Israel dan bertemu Netanyahu. Mereka memilih saya,” ucapnya.

Ia menyebut, pengurus NU tetap memilih dirinya karena mereka tahu bahwa kedatangannya ke Israel demi membela Palestina.

“Kenapa? Karena mereka tahu, sampeyan (Anda) bisa melihat juga di berbagai unggahan internet.”

“Apa yang saya lakukan di Yerusalem di Israel pada waktu itu, bahwa saya terang-terangan dan tegas di berbagai forum bahkan di depan Netanyahu dalam pertemuan itu, saya datang ke sini demi Palestina,” tuturnya.

Jangan Lagi Ada Fitnah

Gus Yahya menegaskan bahwa polemik yang saat ini mengemuka di tubuh organisasi yang dipimpinnya tidak bisa langsung dikaitkan dengan kepentingan politik. Menurutnya, hingga saat ini belum ada bukti yang jelas mengenai adanya aktor atau tujuan politik di balik dinamika tersebut.

“Unsur politis apa? Dengan analisa seperti apa? Ini semuanya tidak jelas,” kata Gus Yahya dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta, Minggu (23/11/2025) malam.

Dia pun menilai, setiap dinamika yang melibatkan perbedaan pandangan biasanya selalu ditarik ke ranah politik. Namun dalam kasus ini, Gus Yahya memastikan belum ada hal yang dapat dibuktikan secara konkret.

“Hari ini kita belum bisa lihat apa-apa,” tegasnya.

Gus Yahya menekankan bahwa persoalan yang muncul lebih didorong oleh perbedaan pendapat dan persepsi, serta beredarnya informasi yang belum diklarifikasi secara menyeluruh.

“Informasi yang belum diklarifikasi dengan tuntas itu jadinya fitnah. Maka harus diklarifikasi sampai tuntas supaya tidak ada lagi fitnah,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengingatkan bahwa fitnah merupakan bentuk ketidakadilan yang dampaknya sangat berat bagi pihak yang menjadi korban.

Gus Yahya pun meminta seluruh pihak untuk menghentikan penyebaran rumor dan prasangka yang tidak berdasar.

“Rumor-rumor yang tidak jelas yang merupakan praduga, prasangka harus dihentikan, bukan dihembuskan atau dikultus-kultuskan,” pungkas Gus Yahya.

3 Hari Waktu Melepas Jabatan

Sebagai informasi, isu pemakzulan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menjadi perbincangan. Beredar dokumen risalah Rapat Harian Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Hotel Aston City Jakarta, Kamis (20/11/2025).

Dalam risalah rapat yang ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyebutkan, KH Yahya Stquf atau Gus Yahya diberikan waktu tiga hari untuk melepas jabatannya.

“Berdasarkan musyawarah antara Rais Aam dan dua Wakil Ketua Rai Aam memutuskan KH. Yahya Cholil Staquf mundur sebagai Ketua Umum PBNU,” bunyi risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU yang ditandatangani oleh Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar, Jumat, 21 November 2025.

Rapat yang dihadiri 37 dari 53 pengurus Syuriyah itu berlangsung selama tiga jam dan menghasilkan sejumlah keputusan penting terkait dinamika internal organisasi.

Salah satu sorotan utama adalah pengundangan narasumber dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) yang diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan Zionisme Internasional.

Zaiful Aryanto

Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *