My WordPress Blog

Mengapa Berhutang Jadi Hobi?



Perencana Keuangan Independen

Aslamuddin Lasawedy CFP

Mengenal Karim, Pria yang Terjebak dalam Kebiasaan Berutang

Panggil saja namanya Karim. Ia bukan orang miskin. Bahkan gajinya lebih dari cukup. Namun, ia memiliki hobi baru: berutang. Bukan karena kebutuhan, melainkan karena terasa ringan pada awalnya. Seperti menikmati minuman manis yang akhirnya meninggalkan rasa pahit di tenggorokan.

Di kota tempat Karim tinggal, semua orang tampak sibuk mengejar sesuatu yang belum mereka miliki. Waktu tidak lagi diukur dengan terbit dan terbenamnya matahari, tetapi dengan tanggal jatuh tempo. Di kafe-kafe yang pencahayaannya temaram dan suara musiknya pelan, orang-orang memesan kopi mahal dan membayarnya dengan kartu kredit, seolah rasa pahitnya akan tertolong oleh cicilan bunga 0%.

Karim hidup di zaman ketika “bayar nanti” terdengar lebih bersahabat daripada “bayar sekarang.” Setiap kali aplikasi paylater berbunyi, seakan ada bisikan dari langit digital: “Tenang. Hidup terlalu singkat untuk menunda menikmatinya.”

Ia tak sadar bahwa yang diinjaknya bukan jalan tol finansial, melainkan jaring laba-laba yang halus. Tak terasa menjerat, hingga tersadar saat mencoba melepaskan diri.

Dari Utang yang Wajar ke Kebiasaan yang Tidak Sehat

Pada awalnya, Karim berutang untuk hal-hal yang wajar, misalnya untuk biaya rumah sakit ibunya. Setahun kemudian, ia berutang lagi untuk membeli gawai baru yang sebenarnya masih bisa ditunda. Lalu ia berutang lagi untuk beli sepatu edisi terbatas, liburan, konser musik, dan seterusnya.

Utang baginya mulai menyerupai candu. Setiap kali cicilannya lunas, ia merasa hampa dan butuh untuk berutang lagi. Bayar utang lalu berutang lagi. Bayar, lalu ulangi berutang. Sehingga menjadi seperti ritual modern.

Dalam benak Karim, utang bukan lagi darurat, melainkan “strategi hidup.” Ia lupa bahwa syariah Islam memandang utang sebagai beban amanah, bukan mainan waktu. Rasulullah sendiri pernah berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan manusia.”

Syariah Islam sebagai Panduan Finansial

Nah, di era serba cepat ini, perencanaan keuangan berbasis syariah Islam bukan tembok yang menghalangi, melainkan menjadi kompas untuk mengingatkan. Syariah Islam hadir bukan untuk mematikan kebebasan, melainkan menyelamatkan manusia dari jebakan nafsu dirinya sendiri.

Utang dalam Islam bukan terlarang. Ia boleh, bahkan mulia, jika ada niat membayar, ada kebutuhan nyata, tidak disertai riba, dan tidak menzalimi diri dan orang lain. Namun bagaimana jika utang menjadi hiburan? Jika ia lahir bukan dari kebutuhan, melainkan hasrat untuk diakui? Di sinilah syariah Islam berdiri seperti cermin. Menanyakan bukan “berapa yang kau pinjam,” melainkan bertanya “mengapa kau tak tahan hidup dengan apa yang kau punya?”

Ketika Rasa Gelisah Muncul

Suatu malam Karim tak bisa tidur. Ia gelisah. Ponselnya bergetar jam dua pagi mengingatkan pembayaran utangnya sudah jatuh tempo. Email masuk berteriak seperti burung gagak membawa kabar kematian saldo rekeningnya.

Wajahnya selalu tersenyum, namun di dalam hatinya ada ruang yang retak. Sebab ia sadar bahwa setiap utang yang belum terbayar adalah janji yang wajib dilunasi, lantaran ditagih bukan hanya di dunia, pun kelak di akhirat. Syariah Islam memandang utang seperti bayangan panjang. Tak menghilang meski lampu dipadamkan. Ia mengikuti pemiliknya, bahkan ketika ia berhenti berlari.

Bukan Hanya Karim

Karim bukan satu-satunya orang yang hobi berutang. Banyak di antara kita yang menganggap dan merasionalkan utang seolah itu gaya hidup. Orang berutang bukan karena lapar, melainkan karena takut ketinggalan tren. Ada generasi yang membayar hidup dengan masa depan. Mereka tak punya tabungan, tapi punya beragam koleksi sepatu mahal. Tak punya dana darurat, tapi punya 3 kartu kredit platinum. Disinilah urgensi kehadiran perencanaan keuangan berbasis syariah Islam, bukan untuk memaksa, tetapi mengingatkan bahwa hidup sederhana bukan kekurangan. Itulah salah satu kekuatan ruhani.

Perubahan yang Dimulai

Suatu hari, Karim membaca sebuah hadis, “Barangsiapa berutang, padahal ia berniat tidak melunasinya, maka ia akan bertemu Allah sebagai pencuri.”

Ia terdiam. Untuk pertama kalinya dalam hidup modernnya, ia merasa kecil dan tak berarti. Bukan karena nominalnya besar, namun karena tanggung jawabnya berat. Di sinilah ia sadar bahwa hidup bukan tentang apa yang kita dapat sekarang, tetapi apa yang masih bisa kita pertanggungjawabkan nanti.

Ia mulai berhenti berutang. Mulai menata kembali keuangannya. Perlahan ia mulai menolak berutang. Walau sesekali, jari-jarinya masih gatal untuk berutang saat ada diskon cicilan 0%. Ia juga belajar bahwa perencanaan keuangan berbasis syariah Islam bukan tentang melarang nikmat, melainkan mengajari manusia agar tidak menjadi budak dari yang ia miliki. Karena apalah artinya kemerdekaan jika setiap malam engkau dihantui angka-angka utang yang belum lunas? Syariah Islam ingin manusia hidup dalam cahaya kesadaran, bukan kilau ilusi. Utang memang akan tetap ada, tapi manusia masih punya pilihan lain selain berutang.

Dan…

Pada akhirnya, Karim belajar satu hal bahwa yang paling kaya bukan mereka yang paling banyak hartanya. Yang paling kaya justru mereka yang paling sedikit berutang kepada manusia, kepada dunia, dan kepada Tuhannya. Iya gak ?

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *