Pemimpin Wanita yang Menggerakkan Pengrajin Lokal
Ditta Matin (32) adalah sosok pemimpin wanita yang percaya bahwa bisnis sukses harus tumbuh dari akar lokal. Melalui brand Lovise Sofa, ia telah memberdayakan lebih dari 40 pengrajin sofa di berbagai daerah. Ditta tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga menjadi pembawa perubahan dengan mengajak para pengrajin untuk bekerja sama dalam upaya meningkatkan kualitas dan daya saing produk mereka.
Bagi Ditta, bisnis yang sukses bukan sekadar tentang angka penjualan, melainkan bagaimana seorang pemimpin mampu menyentuh hati dan mengubah pola pikir para pengrajin. Ia percaya bahwa setiap pengrajin memiliki potensi besar yang bisa dikembangkan jika diberi dukungan dan kesempatan.
Salah satu tantangan yang sering dihadapi Ditta adalah ketika para pengrajin menolak ide-ide baru atau tren yang sedang berkembang. Meskipun desain lama mereka sudah tidak diminati pasar, banyak dari mereka enggan mengubah cara kerja mereka. Namun, Ditta tidak pernah memaksakan kehendaknya. Ia lebih menekankan pada kemauan dan keterbukaan untuk belajar sebagai modal utama dalam menjalin kolaborasi.
Inilah yang membuat kisah Ditta menginspirasi. Ia tidak mencari pengrajin yang sempurna, tetapi mereka yang memiliki jiwa juang dan siap mencoba hal baru. Ditta memberi contoh nyata bahwa perubahan desain bukan sekadar urusan estetika, tetapi kunci untuk bertahan hidup dan berkembang.
“Dulu sofa yang diminati pasar itu yang bentuknya kotak dan tegas. Sekarang minatnya ke sofa rounded dan puffy, trennya disitu. Saya kenalkan tren itu ke para pengrajin dan minta mereka buat satu atau dua saja. Setelah laku, itu akan jadi bukti ke pengrajin kalau ada minat pasar disitu,” ujar Ditta saat diwawancara.
Kolaborasi yang Berdampak Nyata
Lovise Sofa yang berdiri sejak tahun 2017 berlokasi di Yogyakarta dan telah memberdayakan lebih dari 40 pengrajin lokal. Salah satu contohnya adalah Eko, seorang pengrajin yang memulai usaha sofa sejak tahun 2010. Awalnya, ia hanya melayani pembelian ecer dan kustom, tetapi sejak bekerja sama dengan Lovise Sofa, proses produksi menjadi lebih aktif karena pesanan terus-menerus datang.
“Tapi kalau sama Lovise itu alhamdulillah pesannya langsung banyak terus kontinu,” tutur Eko.
Kestabilan pesanan dari Lovise Sofa tidak hanya berdampak pada omzet, tetapi juga secara langsung mengubah kualitas hidup Eko dan orang-orang di sekitarnya. Ia menuturkan bahwa jumlah tenaga kerja mulanya hanya dua orang, namun kini Eko menyerap hingga 14 tenaga kerja. Wujud kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa kemitraan yang berakar kuat pada lokalitas bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan sebuah penggerak sosial yang mampu menghidupkan dan memberdayakan komunitas.
Pendekatan Khas Seorang Pemimpin Wanita
Sebagai seorang pemimpin wanita, Ditta menggunakan pendekatan yang berbeda dalam mengelola kemitraan. Bentuk ketegasan konvensional yang cenderung memerintah digeser dengan gaya komunikatif yang tulus dan lemah lembut, khas seorang wanita.
Baginya, wanita memiliki keistimewaan tersendiri dalam mengelola bisnis furnitur yang identik dengan pekerjaan kasar. Ia percaya, sentuhan empati seperti selalu menggunakan kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” adalah kunci untuk menundukkan hati dan membangun kerja sama yang langgeng dengan para mitra.
“Sebenarnya wanita itu punya keistimewaan, yang penting kita senyum manis, pakai kata ‘tolong, Pak’. Terus, ‘mohon maaf, Pak’, dan ‘terima kasih’. Itu yang tadinya keras hati mungkin bisa lembut juga loh, maksudnya bisa menghargai kita (wanita) juga,” ujar Ditta tentang pengalamannya berinteraksi dengan para pengrajin yang didominasi pria.
Membangun Bisnis yang Berkelanjutan
Melalui pendekatan ini, Ditta menegaskan bahwa Lovise Sofa tidak sekadar memproduksi furnitur. Ia membuktikan bahwa kolaborasi yang tulus dan dukungan penuh adalah resep paling ampuh untuk mengangkat dan memajukan perekonomian pengrajin lokal Indonesia.
Dengan semangat dan visi yang jelas, Ditta Matin terus membuktikan bahwa bisnis yang sukses tidak hanya tentang profit, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa memberdayakan dan menginspirasi sesama.











