My WordPress Blog
Budaya  

Satu-satunya di Dunia, Gudang Rempah VOC di Jakut Jadi Hunian Warga

Sejarah dan Kondisi Kompleks Pergudangan Kayu di Jakarta Utara



Di balik gang sempit RT 02 RW 04, Jalan Tongkol, Penjaringan, Jakarta Utara, tepat di belakang Museum Bahari, terdapat kompleks pergudangan kayu bersejarah yang terabaikan.

Kompleks gudang kayu itu bernama Westzidjche Zeeburg/Pakhuis yang dibangun sekitar abad ke-17. Sejarawan Asep Kambali menyebut, berdasarkan sejarahnya, Westzidjche Zeeburg/Pakhuis masuk ke dalam bagian dari kompleks Pelabuhan Batavia atau yang kini dikenal sebagai Sunda Kelapa, dan difungsikan sebagai area pergudangan pada masanya.

“Nah, area pergudangan ini digunakan untuk menyimpan komoditas, baik di masa VOC rempah-rempah, di masa Hindia-Belanda itu komoditas lain seperti kopi, teh. Jadi ini adalah gudang komoditas yang digunakan oleh Belanda,” ucap Asep.

Pada era itu, Westzidjche Zeeburg/Pakhuis disebut sebagai gudang sisi barat yang merupakan satu kesatuan dari Museum Bahari. Ada pula gudang sisi timur yang kini sudah tidak eksis dan hanya tersisa beberapa dinding yang menyatu dengan Benteng Kota Batavia.

Tersisa Enam Bangunan

Awalnya, pada zaman Belanda terdapat sembilan bangunan kayu di area pergudangan tersebut. Namun, satu per satu bangunan runtuh dan hilang seiring perkembangan zaman. “Bahkan, dari sembilan bangunan itu, satu bangunan beton sudah hancur atau ambruk dan satu atau dua yang juga ambruk, jadi sisa bangunan hanya ada enam kurang lebih,” tutur Asep.

Bangunan yang terbuat dari kayu ulin tebal berwarna cokelat membuat beberapa gudang bersejarah ini tetap kokoh meski sudah berusia ratusan tahun. Hanya saja, kondisinya kini semakin memprihatinkan dan terbengkalai akibat tidak ada lagi pihak yang mengurusnya, termasuk pemerintah.

Satu-satunya di Dunia

Bangunan yang terbuat dari kayu membuat gudang ini memiliki keunikan tersendiri dan menjadi satu-satunya di dunia. “Kenapa saya sangat prihatin karena tidak ada di Indonesia atau daerah mana pun model gudang seperti ini, ini satu-satunya, bahkan ini di dunia. Sejauh ini dengan gaya arsitektur demikian ini adalah satu-satunya di dunia,” ungkap Asep.

Pada 1990-an, kejayaan dari gudang-gudang itu masih terlihat jelas karena kawasan ini belum dilanda banjir rob. Namun, karena berada di daerah Pesisir Jakarta dan terjadi penurunan tanah, kini permukaannya lebih rendah dibandingkan air laut. Rendahnya lokasi pergudangan membuat kawasan ini sering terendam banjir rob. Bahkan, genangannya menetap karena drainase di sekitar bangunan bersejarah tersebut bermasalah.

Lima dari enam bangunan yang tersisa kini dikelilingi air dan tumbuhan eceng gondok. Kondisi itulah yang membuat gudang kayu bekas penyimpanan rempah VOC tak lagi bisa diakses. Bahkan, salah satu bangunannya terlihat sudah ambruk pada bagian atap akibat tak terurus dan terus-menerus terkena hujan serta sinar matahari.

Berubah Jadi Rumah

Selain terbengkalai, salah satu bangunan kayu itu juga berubah menjadi bangunan rumah. Setelah tidak lagi digunakan sebagai gudang rempah, bangunan-bangunan tersebut sempat difungsikan sebagai pabrik tekstil. Namun setelah pabrik tidak lagi beroperasi, kompleks pergudangan itu sempat difungsikan sebagai asrama militer.

“Memang ada beberapa kepemilikan, kalau enggak salah yang terakhir itu perusahaan tekstil dan memang zaman orde baru gedung-gedung Belanda ditangani oleh militer, pertama oleh angkatan darat dan kepolisian,” ucap dia.

Ketika dijadikan asrama, salah satu bangunan dibagi menjadi 12 kamar yang saling berhadapan. Namun, karena banyak penghuni yang pindah, kini bangunan itu disekat menjadi delapan pintu rumah. Meskipun tinggal di bangunan yang sama, para penghuninya kini memiliki pintu rumah masing-masing.

Warga yang menempati bangunan itu tidak diperbolehkan untuk merubah bentuk bangunan atau membuatnya permanen. Tembok rumah warga masih terbuat dari kayu ulin yang warna cokelatnya sudah memudar menjadi keputihan. Begitu pula dengan lantainya yang juga masih beralaskan kayu asli dari zaman Belanda. Warga hanya melapisinya dengan karpet plastik menyerupai keramik.

Delapan rumah itu masih berpenghuni. Mereka yang tinggal terdiri dari istri, anak, dan cucu para veteran atau anggota polisi yang sudah meninggal dan pernah menempati asrama tersebut.

Tidak Boleh Jadi Hunian

Asep menilai bangunan bersejarah tersebut seharusnya tidak digunakan sebagai tempat tinggal. “Dari sisi kemanusiaan tentu saya paham bahwa keluarga polisi membutuhkan tempat tinggal yang layak. Tapi, dari sisi cagar budaya, heritage idealnya enggak dong,” tutur Asep.

Bangunan kayu itu memiliki nilai sejarah luar biasa, sementara strukturnya sudah sangat rentan karena tak terurus bertahun-tahun. Jika digunakan sebagai hunian tanpa standar konservasi, justru berpotensi mempercepat kerusakan. Penambahan sekat, instalasi listrik, kebocoran air, serta risiko kebakaran dapat merusak bangunan bersejarah itu jika difungsikan sebagai tempat tinggal.

Oleh karena itu, Asep meminta pemerintah mengambil tindakan tegas untuk melestarikan bangunan kayu tersebut. “Negara harus gerak. Pertama, menyelamatkan keluarga polisi ini, pindahkan, tinggalkan, kosongkan,” ucap dia. Pemerintah diminta untuk merelokasi dan menyediakan tempat tinggal untuk warga yang selama ini menempati bangunan bersejarah tersebut.

Jika sudah dikosongkan, pemerintah hanya perlu memikirkan langkah selanjutnya untuk melestarikan bangunan itu. “Jadi, sisi kemanusiaan iya, tapi jangan mengorbankan gedung cagar budaya atau sejarah karena ini sama-sama penting,” ujar Asep.

Disarankan Masuk Wilayah Museum Bahari

Melihat sejarahnya yang cukup penting, gudang kayu itu disarankan juga masuk ke dalam wilayah Museum Bahari. Dengan begitu, dua bangunan bersejarah bisa sama-sama berdiri kokoh dan memiliki keunikannya masing-masing. Ketika Museum Bahari beridiri kokoh dengan bangunan betonnya, maka gudang rempah VOC itu berdiri dengan bangunan kayunya yang khas.

Namun, untuk menjadikan bangunan itu sebagai satu kesatuan dengan Museum Bahari, pemerintah harus mencari tahu siapa pemilik aset bangunan tersebut. Menurut Asep, pergudangan kayu itu telah menjadi cagar budaya sejak 2016. Jika pemilik asetnya sudah diketahui, pemerintah dapat melakukan penyelamatan darurat terhadap bangunan itu.

Penyelamatan penting dilakukan agar kawasan pergudangan tidak lagi tergenang air atau lembap. “Bisa dipompa airnya, drainasenya diperbaiki, kemudian sampahnya dibersihkan dan harus ada penyangga di berbagai titik karena sudah kelihatan akan roboh,” tutur Agus.

Selanjutnya harus dilakukan kajian studi teknis dan sejarah, pendokumentasian secara tiga dimensi, kajian struktur kayu dan pondasi, penelusuran arsip baik di Indonesia maupun Belanda, serta penentuan tipologinya. Setelah itu, barulah dilakukan restorasi, namun harus disesuaikan dengan prinsip konservasi cagar budaya, mempertahankan sebanyak mungkin material asli.

Apabila sudah dipugar, fungsi bangunan juga perlu ditambah atau dikembangkan. “Harus ada fungsi baru yang aplikatif misal lebih rekreatif kah, edukatif kah, bisa digunakan sebagai naluri sejarah atau masuk ke dalam kawasan Museum Bahari tadi. Nah, ini memang harus ada penelusuran siapa sih pemilik bangunan ini,” ujar Asep.

Fitri Rafifah

Seorang Jurnalis yang rutin meliput dunia kecantikan, lifestyle, dan keseharian. Ia suka mencoba skincare, menonton ulasan produk, dan memotret detail kecil. Hobinya membantu meningkatkan sensitivitasnya pada tren. Motto: “Kecantikan adalah cerita yang terus berubah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *