My WordPress Blog
Bisnis  

Laju Pemulihan Emiten Terdampak Boikot Israel: FAST, PZZA, UNVR, MAPB

, JAKARTA — Sejumlah perusahaan terdampak oleh aksi boikot mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Perusahaan seperti PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST), yang mengelola jaringan restoran cepat saji KFC, serta PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) telah mengalami penurunan kinerja bisnis dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kini mereka melihat adanya harapan untuk pulih.

Aksi boikot berdampak signifikan pada kinerja sejumlah perusahaan. Contohnya, KFC yang dikelola oleh FAST dianggap mendukung Israel, sehingga memicu boikot global yang memengaruhi bisnisnya di Indonesia. Direktur FAST, Wachjudi Martono, menyatakan bahwa dampak boikot masih terasa hingga 2025, meskipun tekanannya sedikit berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Keadaan mencair, akan tetapi masih ada [dampak boikot],” ujarnya dalam paparan publik pekan lalu.

Kinerja keuangan FAST sempat jeblok akibat aksi boikot, bahkan mengalami kerugian. Namun, saat ini FAST menuju arah pemulihan. Berdasarkan laporan keuangannya, FAST masih mencatatkan rugi bersih sebesar Rp239,58 miliar per kuartal III/2025, namun rugi tersebut turun 56,99% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp557,08 miliar.

Wachjudi Martono mengatakan bahwa proyeksi kerugian FAST pada 2025 sebesar Rp329 miliar, lebih rendah dari kerugian pada 2024 sebesar Rp798 miliar. FAST diproyeksikan mampu mencatatkan laba pada 2026.

Menurutnya, peluang pemulihan kondisi ekonomi pada 2026 didorong oleh upaya pemerintah, seperti stimulus dan penggunaan dana daerah agar efektif sampai ke masyarakat. Di sisi lain, FAST tetap menghadapi tantangan, seperti penurunan daya beli masyarakat.

Untuk meraup kinerja bisnis positif, FAST merancang beberapa strategi, seperti meningkatkan kepuasan pelanggan, fokus pada produk ayam, serta menambah gerai baru. FAST akan melakukan ekspansi pada tahun depan dengan target mengoperasikan 1.000 gerai pada 2030. Saat ini, FAST telah mengoperasikan 687 gerai KFC dan 8 gerai Taco Bell. Perseroan berencana menambah sekitar 300-an gerai hingga 2030, dengan rata-rata penambahan 60 gerai per tahun.

Emiten pengelola gerai Pizza Hut, PT Sarimelati Kencana Tbk. (PZZA), juga terkena dampak boikot. PZZA mengalami kerugian, tetapi kinerja keuangan mulai pulih. PZZA berhasil berbalik untung pada periode Januari–September 2025. Penjualan naik 11,17% YoY menjadi Rp2,26 triliun per September 2025, sehingga PZZA mencatatkan laba senilai Rp15,91 miliar per kuartal III/2025.

Direktur Utama PZZA, Boy Lukito, memprediksi pertumbuhan 2026 pada kisaran lebih besar dari target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,3%. Untuk mencapai target tersebut, PZZA akan melanjutkan strategi maksimalisasi aset, optimalisasi pengeluaran, peremajaan brand, dan meningkatkan organisasi.

Salah satu strategi yang telah dijalankan adalah renovasi gerai Pizza Hut. Sepanjang Januari–September 2025, PZZA telah merevitalisasi 39 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan outlet dan realisasi pasar di sekitarnya, sehingga efektivitas kinerja setiap outlet dapat menjadi lebih maksimal.

Emiten terdampak boikot lainnya, UNVR, juga mencatatkan pertumbuhan laba 10,81% YoY menjadi Rp3,33 triliun per kuartal III/2025, dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3 triliun. UNVR membukukan penjualan bersih sebesar Rp27,61 triliun per kuartal III/2025, naik tipis 0,71% YoY.

Presiden Direktur UNVR, Benjie Yap, menyatakan bahwa perseroan akan tetap fokus pada eksekusi yang disiplin dan penguatan fondasi untuk pertumbuhan yang berkelanjutan. Meski masih ada tekanan terhadap daya beli masyarakat di beberapa segmen penjualan produk perseroan, UNVR tetap berkomitmen untuk menetapkan portofolio yang tepat agar bisa mendukung kebutuhan konsumen ketika tekanan ekonomi menghantam mereka.

Di sisi lain, emiten pengelola Starbucks Indonesia, PT MAP Boga Adiperkasa Tbk. (MAPB), masih merugi di tengah tekanan boikot. Rugi bersih MAPB sepanjang 9 bulan 2025 bengkak menjadi Rp108,69 miliar, dari Rp79,13 miliar pada Januari—September 2024. Meski demikian, MAPB tetap optimistis mampu meraup kinerja keuangan yang membaik dan akan terus melakukan ekspansi.

Direktur Utama MAPB, Anthony Valentine Mc Evoy, mengungkapkan bahwa perseroan menargetkan pembangunan 40 gerai baru Starbucks pada 2025. Lokasi pembangunan gerai baru tidak terbatas pada kota-kota tier 1, seperti Jabodetabek dan Bali, tetapi juga ke Lombok hingga Batam.

Gerak Saham
Seiring dengan perbaikan kinerja keuangan dan strategi pemulihan, harga saham emiten-emiten terdampak boikot mulai meningkat. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham UNVR naik 38,99% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak perdagangan perdana 2025 ke level Rp2.620 per lembar. Harga saham MAPB menguat 35,83% ytd ke level Rp1.630 per lembar. Harga saham FAST juga naik 71,23% ytd ke level Rp500 per lembar. Sementara itu, saham PZZA menguat dua kali lipat atau 100% ke level Rp226 per lembar.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta mengatakan penguatan kinerja saham emiten-emiten terdampak boikot terjadi karena aksi boikot yang mulai mereda dan strategi yang dijalankan sejumlah emiten terdampak boikot seperti UNVR diapresiasi pasar.

“Efektivitas strategi penghematan dan optimalisasi portofolio yang dilakukan UNVR membuat margin keuntungan tetap terjaga di tengah fluktuasi ekonomi,” katanya.

Dia merekomendasikan add untuk UNVR dengan target harga saham di level Rp2.930 per lembar. Sementara, untuk PZZA, MAPB, dan FAST dia menyarankan untuk wait and see.

Sebelumnya, Kiwoom Sekuritas belum memberikan rekomendasi terhadap sejumlah emiten terdampak boikot. Meski sentimen boikot tak lagi sekencang tahun lalu, sejumlah tantangan masih dinilai membayangi kinerja emiten hingga akhir tahun.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menjelaskan bahwa kendati tekanan sentimen boikot mulai mereda, daya beli masyarakat Indonesia yang masih lemah serta minimnya katalis menjadi hambatan utama pemulihan.

“Dahulu, Unilever kita tahunya saham defensif. Sekarang sudah banyak saingannya dan kena boikot pula. Jadi itu sangat terasa,” kata Liza.

Menurut Liza, langkah rebranding menjadi strategi penting bagi emiten untuk memperbaiki citra dan kembali menarik minat konsumen. Dia mencontohkan upaya restrukturisasi kepemilikan dan rebranding di FAST yang kini mendapat dukungan modal dari anak konglomerat Haji Isam.

“Jadi dengan cara-cara rebranding seperti itu, mungkin lebih bisa menarik hati konsumer Indonesia,” tegasnya.

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *