JAKARTA, –
Di tengah ritme kota yang serba cepat, jalur-jalur yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki di Jakarta justru kerap menunjukkan realitas yang jauh dari ideal. Mulai dari trotoar yang terpotong oleh lapak pedagang kaki lima, jembatan penyeberangan orang (JPO) yang menua, hingga zebra cross yang lebih sering dilintasi kendaraan tanpa berhenti, semuanya berpadu membentuk potret sehari-hari warga yang harus berjalan kaki di Jakarta.
Bagi sebagian orang, fasilitas itu mungkin hanya sekadar elemen kota. Namun, bagi mereka yang setiap hari mengandalkan kaki untuk mencapai halte, kantor, pasar, atau stasiun, kondisi fasilitas pejalan kaki menjadi soal kenyamanan, bahkan keselamatan. Di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, sebuah JPO tua berdiri dengan rangka besi kusam dan atap melengkung yang sebagian sudah memudar. Dari bawah, JPO itu tampak seperti lorong sempit menggantung di atas lalu lintas padat yang didominasi bus Transjakarta dan sepeda motor.
Namun persoalan utamanya bukan soal keusangan bangunan, melainkan ukuran tangganya yang hanya cukup untuk satu orang dewasa dalam satu waktu. Saat menyusuri kondisi JPO tersebut pada Senin (1/12/2025) sekitar pukul 08.30 WIB, naik turunnya alur manusia terjadi hampir tanpa henti. Meski begitu, orang yang naik dan turun terpaksa saling mengalah. Jika keduanya memaksa lewat bersamaan, bahu mereka pasti bersinggungan, bahkan beberapa orang harus memiringkan badan agar bisa lewat.
Saat itu, seorang ibu paruh baya terlihat berhenti sejenak di pertengahan tangga, memegang kuat pegangan besi sambil menunggu lawan arah turun. Di belakangnya, seorang pemuda ikut menahan langkah. Ketika arus turun sudah cukup lengang, barulah keduanya kembali menaiki tangga secara perlahan. Kondisi ini membuat JPO Lenteng Agung mirip jalur sempit yang memaksa satu per satu orang untuk lewat bergiliran.
Saling Tunggu dan Mengalah di Tangga JPO
Kejadian saling menunggu di JPO Lenteng Agung merupakan hal yang umum terjadi. Berdasarkan pantauan di lokasi, ada momen ketika empat orang dari bawah ingin naik, tetapi dari atas datang rombongan dua hingga tiga orang. Akhirnya, salah satu pihak memilih menepi di area tangga yang sedikit lebih lebar untuk memberi jalan. Namun, penantian itu sering menciptakan “bottleneck” atau hambatan yang memperlambat arus kedua arah.
Ahmad (58), seorang pejalan kaki yang hampir setiap hari melewati JPO tersebut, mengatakan kondisi itu sering membuatnya mengalami keterlambatan. “Aduh sering banget (terlambat). Saya lagi buru-buru mau ngejar kereta, eh dari atas ada rombongan turun. Ya udah nunggu mereka lewat. Kadang sampe dua-tiga kali berhenti,” kata Ahmad saat ditemui, Senin.
Menurut Ahmad, tantangan di JPO itu tidak hanya mengenai tangga yang sempit, tetapi juga soal minimnya akses bagi kelompok rentan. “Boro-boro, Mas. Lansia aja susah. Ibu hamil apa lagi. Disabilitas enggak mungkin bisa. Jauh lah dari ramah,” kata dia.
Sementara itu, Rani (25), yang juga rutin menggunakan JPO Lenteng Agung, menyebut kondisi saling menunggu itu sesekali berujung pada situasi berbahaya. “Ada ibu-ibu yang hampir jatuh gara-gara buru-buru. Untung pegangan,” kata dia.
Dinilai Tidak Ramah Disabilitas
Sejumlah warga menilai kondisi JPO Lenteng Agung yang demikian tidak ramah bagi penyandang disabilitas, lansia, maupun pengguna kursi roda. Rani menyebut akses naik-turun yang hanya berupa tangga membuat banyak warga kesulitan untuk naik-turun lewat JPO. “Naiknya susah, turunnya susah, apalagi kalau bawa barang atau dorong stroller. Kalau untuk yang pakai kursi roda, saya rasa enggak mungkin,” kata Rani.
Ia mengatakan, kondisi JPO yang sempit tak jarang membuat sebagian warga terlibat adu mulut di tengah perlintasan. “Pernah, Mas. Kadang kan orang buru-buru, tapi JPO-nya sempit. Saya lagi turun, dari atas ada yang maksa naik. Ya otomatis berhenti di tengah, saling tatap, sering sih begitu,” ujarnya.
Warga Pilih Menyeberang Langsung di Jalan Raya
Imbas dari akses JPO yang sulit digunakan, banyak warga akhirnya memilih menyeberang langsung di jalan raya meski berisiko. Salah satunya adalah Yoga (24) yang mengaku hampir tidak pernah menggunakan JPO. “Saya lebih pilih nyebrang langsung. Memang agak bahaya, tapi lebih cepat. Naik JPO itu makan waktu,” ujar Yoga.
Menurut Yoga, kondisi lalu lintas di dekat JPO sering kali membuat pejalan kaki harus mengambil risiko. “Kadang mobil dan motor juga enggak mau ngasih jalan. Tapi nggak ada pilihan selain, harusnya dibikin pelican crossing,” katanya. Yoga menilai pemerintah semestinya menyediakan fasilitas penyeberangan seperti pelican crossing atau lampu merah khusus dengan zebra cross di sekitar JPO. “Kalau bisa sediakan penyeberangan seperti di (Stasiun) Cikini, jadi orang bisa nyebrang langsung tetap aman,” ujar dia.
Bagaimana Dengan JPO Lainnya?
Jika di JPO Lenteng Agung pejalan kaki harus berhimpitan, lain halnya dengan JPO di Pasar Minggu yang jaraknya sekitar dua kilometer dari JPO Lenteng Agung. Di sini, jembatan penyeberangan tampak lebih kokoh, luas, dan bersih. Dari luar, JPO ini memiliki desain modern dengan kombinasi warna hijau dan kuning. Keberadaan lift membuat akses lebih mudah bagi pengguna kursi roda, lansia, ibu hamil, atau pengguna mobilitas terbatas lainnya.
Tangga JPO Pasar Minggu juga lebih lebar. Dua hingga tiga orang bisa berjalan berdampingan tanpa harus saling menghalangi. Arus naik dan turun mengalir lancar, jauh dari kondisi satu per satu seperti di Lenteng Agung. Anis (28), seorang pejalan kaki mengungkapkan bahwa JPO ini menjadi rujukan bagi warga sekitar saat membutuhkan penyeberangan yang aman dan cepat. “Di sini lebih enak. Naik turun enggak sesak, kalau capek bisa pakai lift,” ujar Anis.
Menurut Anis, keberadaan lift membuat JPO tersebut terasa lebih “hidup” karena bisa digunakan semua golongan. “Liftnya ngebantu banget buat orangtua atau yang bawa barang. Jadi JPO ini kepakainya buat semua orang,” ujar Anis.
Apa Pelican Crossing Efektif?
Selain dua JPO tersebut, fasilitas penyeberangan lain yang menarik diamati adalah pelican crossing. Salah satunya berada di Halte Universitas Pancasila, Jakarta Selatan. Pelican crossing di sini lengkap dengan lampu hitung mundur yang memberi waktu cukup bagi pejalan kaki untuk menyeberang. Berdasarkan pantauan, pengendara di lokasi ini terlihat relatif patuh. Saat lampu hijau pejalan kaki menyala, arus kendaraan berhenti tertib, memberi ruang bagi warga untuk menyeberang. Hanya beberapa motor yang sesekali melambat terlambat atau berhenti terlalu dekat di garis zebra cross.
Nabila (25), mahasiswa yang rutin melintas di area itu, mengatakan bahwa pelican crossing tersebut mempermudah aktivitasnya saat menuju stasiun ataupun sebaliknya. “Kalau di sini sih saya rasa aman, soalnya lampunya jelas dan mayoritas kendaraan mau berhenti,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kehadiran hitung mundur pada lampu membuatnya tidak tergesa-gesa. “Ada countdown-nya, jadi saya enggak harus lari. Enggak takut ada mobil ngebut,” kata Nabila.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











