Perampingan BUMN untuk Meningkatkan Efisiensi dan Keberlanjutan
JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) memiliki rencana besar dalam menghadapi tantangan di sektor BUMN. Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah memangkas jumlah perusahaan pelat merah, termasuk anak dan cucu perseroan. Rencana ini menjadi bagian dari program restrukturisasi yang akan berlangsung hingga tahun 2026.
Dari total 1.067 entitas BUMN, Danantara menargetkan jumlah tersebut dapat dipangkas menjadi hanya 250 perusahaan. Langkah ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan efisiensi dan kinerja keuangan perusahaan. Namun, lembaga investasi milik negara ini memastikan bahwa opsi perampingan tidak akan diikuti dengan pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Dari 1.067 kita mau squeeze, efisienkan, menjadi sekitar 250-an. Dengan catatan, tidak boleh ada layoff (PHK),” ujar Senior Director Business Performance & Assets Optimization Danantara, Bhimo Aryanto, saat menghadiri Public & Business Leader Forum di Hotel Sari Pacific Jakarta, Autograph Collection, Jakarta Pusat, Sabtu (13/12/2025).
Kondisi BUMN yang Memerlukan Perbaikan
Menurut Bhimo, lebih dari separuh perusahaan BUMN, atau sekitar 52 persen, belum mampu menciptakan nilai ekonomi yang sehat. Kondisi ini terlihat dari pendapatan dan laba bersih (net income) yang masih negatif. Laporan kinerja keuangan menunjukkan bahwa banyak BUMN yang belum beroperasi secara efisien dan berkelanjutan.
“Dari 1.067 BUMN itu 52 persen persisnya itu negative value creation, jadi bottom line-nya negatif, net income-nya negatif. Artinya apa? Ada banyak hal yang menjadi PR bangsa ini, banyak hal yang harus kita selesaikan, karena sustainability itu kalau dalam perspektif bisnis itu adalah profitability,” paparnya.
Persaingan Internal dan Inefisiensi
Banyaknya BUMN beserta anak usahanya yang bergerak di sektor serupa justru menciptakan persaingan internal antara perusahaan dan berdampak pada inefisiensi. Sehingga, sebagian entitas tersebut akan disinergikan agar mampu menciptakan nilai tambah yang lebih optimal.
Sebagai contoh, ia menyoroti struktur holding BUMN di sektor minyak dan gas (migas), PT Pertamina (Persero), yang saat ini memiliki anak dan cucu usaha hingga tujuh lapis dengan total sekitar 250 entitas. “Ada orang tua, anak, cucu, canggah, itu sampai tujuh layer dan ada 250 entity anak cucu di Pertamina. Tidak jelek, karena pada saat itu dibutuhkan, tapi kami juga sudah pelajari, kalau kita bisa lakukan restructuring, jadi ini yang sekarang kita sedang lakukan,” ujarnya.
Penyederhanaan Struktur Organisasi
Restrukturisasi BUMN juga menyasar penyederhanaan struktur organisasi, seperti pengurangan jumlah direksi dan komisaris perusahaan. Bhimo mencatat, program tersebut juga menyentuh aspek yang lebih mendasar, yakni penataan ulang bisnis dan manajemen perusahaan agar kinerjanya menjadi lebih efisien dan mampu bersaing.
Perusahaan-perusahaan yang selama ini mencatat kerugian atau bergerak di sektor yang pertumbuhannya terbatas akan dievaluasi ulang, termasuk kemungkinan keluar dari lini usaha yang bukan bisnis inti. Di saat yang sama, entitas yang memiliki kesamaan atau potensi saling melengkapi akan disinergikan.
Tujuan Restrukturisasi
Melalui langkah tersebut, Danantara menilai terdapat peluang penciptaan nilai yang besar, sehingga BUMN tidak hanya menjadi lebih ramping, tetapi juga lebih produktif dan berkelanjutan.
“Kalau itu bisa kita buat lebih efisien, sebagian memang karena rugi dan industri yang juga tidak tumbuh, kita mesti diverse, karena bukan core business core-nya, dan sebagian bisa kita sinergikan. Ada sangat masif sebenarnya value creation yang bisa kita ciptakan bersama-sama,” ucapnya.
Target Waktu dan Tahapan Restrukturisasi
Danantara menargetkan restrukturisasi keuangan dan bisnis, termasuk merger serta konsolidasi BUMN, dapat dipercepat dan diselesaikan hingga 2026. Artinya, langkah besar seperti penataan ulang struktur keuangan, penggabungan usaha, dan penyederhanaan entitas tidak ingin berlarut-larut agar dampaknya bisa segera dirasakan.
Setelah tahap strategis itu rampung, fokus berikutnya diarahkan langsung ke level operasional bisnis. Pada tahap tersebut, Danantara akan merancang ulang model bisnis BUMN, termasuk memperbaiki proses bisnis agar lebih sederhana, efisien, dan adaptif.
Dengan proses yang lebih ramping dan terintegrasi, diharapkan BUMN mampu membuka potensi penciptaan nilai yang lebih besar, baik dari sisi kinerja keuangan, daya saing, maupun kontribusi terhadap perekonomian nasional.
“Financial dan business restructuring plus merger konsolidasi, itu kita bisa shorten harusnya dalam satu setengah tahun ini ya, 2025 dan 2026 nanti. Kemudian ketika di level strategic sudah, kita masuk di level bisnis, kita akan redesign bisnis model, termasuk di dalamnya bisnis prosesnya akan seperti apa yang lebih efisien, sehingga ujungnya kita bisa unlock untuk menciptakan value creation yang lebih besar,” kata Bhimo.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











