Taksi berhenti di tepi jalan, beberapa puluh meter dari masjid. Kami turun, mengucapkan terima kasih singkat pada sopir, lalu berjalan menyusuri jalan yang mulai gelap meskipun waktu baru menunjukkan kurang dari pukul 5 sore. Magrib di Kobe di musim gugur memang cepat datangnya. Di saat itulah rintik hujan mulai turun. Awalnya hanya titik-titik kecil, nyaris seperti kabut yang jatuh perlahan, seolah ingin mengingatkan bahwa sore di Kobe sering berubah pikiran tanpa aba-aba. Di sebelah kanan jalan, saya melihat restoran kebab dan makanan halal.
Kami mempercepat langkah. Untungnya, hujan belum sempat menjadi lebat ketika kami masuk ke halaman Masjid Kobe. Namun begitu kaki kami menginjak area beranda setelah menaiki beberapa anak tangga, hujan justru seakan menemukan momentumnya. Rintik berubah menjadi deras, lalu semakin rapat, menabuh atap dan lantai dengan irama yang konstan. Waktu kedatangan kami terasa pas—sedikit terlambat dari hujan, sedikit lebih cepat sehingga hujan tidak membasahi.
Masjid Kobe berdiri anggun dan tenang. Dari luar, arsitekturnya memancarkan kemegahan masjid ala India dan Timur Tengah, berpadu dengan kerapian khas Jepang. Untuk masuk ke area beranda, pengunjung harus menaiki tangga yang cukup curam, terutama untuk kaki yang sudah lelah. Tangga itu seolah menjadi jeda kecil, ruang peralihan dari jalan kota menuju suasana yang lebih hening dan tertata.
Di beranda, kebetulan ada beberapa perempuan yang berteduh. Pakaian mereka tampak sedikit tebal, sebagian memeluk tas atau jaket, menunggu hujan reda. Dari obrolan singkat yang terdengar, rupanya mereka baru saja selesai salat. Tak lama kemudian, datang seorang pria bersama anaknya, membawa payung. Mereka saling menyapa dengan senyum kecil—adegan keluarga yang sederhana, namun terasa hangat, meski kami sama-sama orang asing di kota ini.
Pengaturan ruang di Masjid Kobe, sebagaimana kebanyakan masjid-masjid di Jepang di berbagai negeri yang pernah saya kunjungi, mengikuti konvensi tidak tertulis, area salat perempuan berada di lantai atas, sementara jamaah laki-laki berada di lantai bawah. Untuk menuju ruang salat laki-laki, pengunjung harus memutar lewat sisi kiri bangunan. Tempat wudhu pun tidak berada tepat di depan, melainkan di bagian samping belakang. Karena hujan masih turun cukup deras, kami memilih menunggu sejenak.
Menunggu hujan sering kali menjadi alasan paling wajar untuk berbincang. Kami pun mulai bercakap-cakap dengan salah satu pengunjung tadi. Ternyata mereka berasal dari Malaysia, datang ke Kobe bersama keluarga. Obrolan ringan mengalir—tentang perjalanan, tentang cuaca, dan tentang betapa uniknya menemukan masjid tua di tengah kota pelabuhan Jepang yang modern.
Ketika hujan mulai mereda, saya berpamitan sejenak untuk apakah dan turun masuk lewat samping kiri masjid. Jalan kecil di sisi masjid terlihat sedikit gelap dan sunyi, hanya suara sisa hujan dan langkah kaki sendiri. Tempat wudhu berada di bagian belakang, bersih dan tertata rapi walau terlihat seakan tempat wudhu sementara. Sepertinya sebagian bangunan masjid sedang direnovasi. Air mengalir dengan suhu yang cukup bersahabat, sedikit hangat meski udara sore Kobe masih menyimpan dingin.
Memasuki ruang shalat utama, mata kita langsung disambut oleh suasana yang hening dan terasa sedikit sakral. Ruang salat tampak lapang dengan langit-langit tinggi berwarna putih gading, ditopang lengkungan-lengkungan besar yang kokoh namun anggun. Sebuah lampu gantung kristal menggantung tepat di tengah ruangan, memantulkan cahaya lembut yang tidak menyilaukan, justru menambah kesan khidmat.
Lantai ditutupi karpet tebal bermotif krem dengan aksen merah marun yang berfungsi sebagai penanda barisan (af). Jendela-jendela tinggi dengan panel gelap menambah kesan sakral pada ruangan. Di bagian depan, mihrab berdiri menonjol dengan ornamen bernuansa emas yang sederhana namun berwibawa, berpadu dengan dinding berwarna abu-abu muda. Di sampingnya, mimbar batu dengan anak tangga pendek terlihat kukuh, mengingatkan pada masjid-masjid tua di kawasan Timur Tengah. Layar digital penunjuk waktu salat menyala di dinding, kontras dengan suasana klasik di sekitarnya.
Ruangan ini juga mencerminkan perhatian terhadap kebutuhan jamaah, di sudut yang tenang, sebuah pemanas portabel diletakkan di atas karpet, memancarkan cahaya oranye, berdekatan dengan unit pendingin/pemanas berlabel MITSUBISHI, menunjukkan upaya masjid menjaga kenyamanan di cuaca dingin. Di dekat jendela, terdapat rak buku berisi kitab-kitab, dan sebuah standing banner yang menyediakan panduan “ADHKAR AFTER SALAH” (zikir setelah shalat) dalam bahasa Arab dengan terjemahan bahasa Inggris.
Beberapa jamaah tampak duduk bersila di sudut ruangan. Ada yang berzikir, ada yang membaca, dan ada pula yang berkumpul membentuk lingkaran kecil, seolah mengikuti pengajian ringan. Dari raut wajah dan percakapan lirih yang terdengar, tampak bahwa kebanyakan mereka berasal dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Masjid ini benar-benar menjadi ruang pertemuan lintas bangsa.
Usai salat, saya duduk sejenak, membiarkan suasana menyerap pelan-pelan. Di ruang ini, waktu terasa melambat. Hiruk-pikuk kota pelabuhan seperti tertinggal jauh di luar dinding tebal masjid.
Masjid Kobe dibangun pada 1928 dan mulai dibuka pada 1935, menjadikannya masjid tertua di Jepang. Menariknya, bangunan ini tetap berdiri kokoh ketika Kobe dibombardir pada Perang Dunia II, dan kembali lolos dari kehancuran besar saat gempa Hanshin-Awaji tahun 1995. Banyak orang melihatnya bukan sekadar sebagai bangunan ibadah, tetapi juga simbol ketahanan dan keajaiban bahwa di tengah perubahan zaman dan bencana, ada ruang sunyi yang tetap bertahan. Tidak salah jika ada yang menjuluki masjid ini sebagai Masjid Mukjizat atau Miracle Mosque.
Konon saat Perang Dunia dan gempa dahsyat 1995, masjid ini menjadi tempat pengungsian baik tentara maupun masyarakat Jepang. Fakta yang lebih menarik lagi adalah arsiteknya yang berasal dari Ceko. Konon rombongan muslim pertama yang pindah ke Kobe adalah etnis Tatar dari Rusia/Tatarstan yang melarikan diri ketika Rusia menjadi komunis di jaman Soviet. Baru kemudian berdatangan kaum muslim dari India dan Arab yang banyak bermukim di Kobe dan kemudian membangun masjid ini.
Hari ini, Kobe dikenal sebagai kota pelabuhan modern yang tenang, berpadu antara laut dan pegunungan. Kota ini tidak sekeras Tokyo, tidak seramai Osaka, tetapi justru di situlah pesonanya. Kobe mengajarkan bahwa keterbukaan pada dunia tidak selalu berarti kehilangan identitas, dan keberagaman bisa tumbuh tanpa perlu gaduh.
Selesai sholat saya kembali ke beranda untuk menjemput istri. Hujan sudah berhenti sepenuhnya, menyisakan udara dingin yang bersih. Di sana, kami kembali bertemu dengan keluarga dari Malaysia tadi. Obrolan pun berlanjut, kali ini lebih santai—tentang anak-anak mereka, tentang rencana jalan-jalan, tentang pengalaman bepergian sambil mencari masjid di negeri orang. Percakapan itu tidak panjang, tetapi cukup meninggalkan kesan hangat, seperti pertemuan singkat dengan kerabat jauh.
Waktu menunjukkan sekitar pukul tujuh malam. Kami pun bersiap kembali ke stasiun. Keluarga Malaysia tersebut memutuskan berjalan kaki karena jaraknya tidak terlalu jauh. Kami memilih memesan taksi daring.
Sambil menunggu taksi, saya keluar dan memperhatikan masjid dan suasana sekitarnya. Masjid Kobe Muslim tampak megah di malam hari, dengan fasad putihnya yang dihiasi ornamen dan ukiran gaya Moor, bermandikan cahaya keemasan dari jendela-jendela tinggi. Dua menara kembar yang menjulang tinggi di atas pintu masuk utama menjadi ciri khas yang menonjol, menancapkan identitasnya di langit malam kota. Di atas ambang pintu, tertulis jelas nama masjid dalam huruf Latin: “KOBE MUSLIM MOSQUE.”
Di samping pintu utama, ada petunjuk arah tempat wudhu dan toilet pria dalam dua bahasa (Inggris dan Jepang), petunjuk ini tidak sempat saya lihat ketika datang karena terburu-buru naik ke beranda dan berteduh dari hujan. Di sisi bangunan utama, terlihat bangunan lain yang lebih modern dan minimalis, dengan tulisan Arab dan Inggris yang menunjukkan bahwa ia berfungsi sebagai “ISLAMIC CULTURAL CENTER” (Pusat Kebudayaan Islam). Di halaman ada area parkir yang cukup luas, beberapa kendaraan tampak diparkir dengan rapi.
Menunggu sekitar lima menit, taksi warna hitam pun datang menjemput di depan masjid. Hujan sudah redah dan langit kota Kobe terlihat gelap tanpa bintang. Melalui jalan jalan kecil taksi kemudian berjalan mengantar kami ke Stasiun Sannomiya. Tujuannya mencari makan malam sebelum pulang ke Osaka.
Rasanya belum cukup puas menikmati dan melihat masjid ini lebih mendalam. Tapi kami memang harus kembali ke stasiun Sannomiya, membawa serta kenangan dan spiritualitas yang baru saja didapatkan dari masjid paling tua di Jepang yang penuh mukjizat ini.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











