My WordPress Blog

Metana Beracun, Tekanan Lingkungan TPST Bantargebang Meningkat



BEKASI, –

Bau menyengat sering muncul tiba-tiba. Ketika angin bertiup dari arah timur, warga di sekitar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, kembali harus menutup jendela rapat-rapat.

Dari kejauhan, gunungan sampah tampak menghijau, seolah menjadi bukit alami. Namun, di balik warna hijau itu, tekanan terhadap lingkungan justru kian berat.

TPST Bantargebang yang selama lebih dari tiga dekade menjadi muara sampah Jakarta kini berada di persimpangan krisis.

Timbunan sampah yang terus bertambah, kapasitas pengolahan yang tertinggal, serta dampak lingkungan dan kesehatan yang semakin nyata membuat persoalan Bantargebang tak lagi sekadar isu teknis. Masalah ini telah menjelma menjadi persoalan ekologis dan kemanusiaan.

Tekanan Terbesar Bantargebang Datang Dari Dampak Lingkungan

Tekanan terbesar Bantargebang datang dari dampak lingkungan. Timbunan sampah organik dalam jumlah besar secara alami menghasilkan gas metana, gas rumah kaca yang daya rusaknya jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida.

Koordinator Kelompok Riset Teknologi Pengelolaan Sampah dan Limbah Padat Industri BRIN, Dr Sri Wahyono, menyebut Bantargebang pernah memiliki fasilitas pembangkit listrik berbahan bakar gas metana dengan kapasitas sekitar 16,5 megawatt (MW). Namun, karena produksi gas tidak sesuai dengan desain awal, hanya dua unit yang sempat beroperasi dengan daya sekitar 3 MW, sebelum akhirnya berhenti akibat berbagai kendala teknis.

“Gas metana yang tidak tertangkap berpotensi lepas ke atmosfer, meningkatkan risiko kebakaran, ledakan, sekaligus memperparah krisis iklim,” kata Sri Wahyono saat dihubungi.

Selain gas, air lindi juga menjadi persoalan serius. Lindi Bantargebang memiliki kadar pencemar yang sangat tinggi, dengan nilai chemical oxygen demand (COD) sekitar 3.100 mg/L dan biological oxygen demand (BOD) sekitar 930 mg/L sebelum diolah. Meski Instalasi Pengolahan Air Lindi (IPAL) mampu menurunkan kadar pencemar hingga 95 persen, lonjakan volume air lindi saat musim hujan membuat sistem bekerja mendekati batas maksimal. Jika pengendalian tidak optimal, lindi berisiko mencemari air tanah dan badan sungai di sekitar Bantargebang.

7.000 Ton Sampah Datang Setiap Hari

Pengamat lingkungan Mahawan Karuniasa menjelaskan, rata-rata sampah yang masuk ke TPST Bantargebang mencapai sekitar 7.000 ton per hari. Angka tersebut menjadi patokan utama untuk membaca besarnya tekanan yang terjadi di lokasi itu.

“Kalau kita bicara volume yang masuk, kapasitas, dan ketinggian timbunan, banyak angka menunjuk ke sekitar 7.000 ton per hari,” kata Mahawan.

TPST Bantargebang memiliki luas sekitar 110 hektar. Dari luasan tersebut, timbunan sampah yang telah terkumpul diperkirakan mencapai 55 juta ton. Jika angka tersebut diasumsikan sebagai 80 persen kapasitas, total daya tampung Bantargebang berada di kisaran 70 juta ton.

“Dengan ketinggian timbunan antara 40 sampai 60 meter, rata-rata sekitar 50 meter, tekanan fisik dan lingkungan di landfill ini sangat besar,” ujar Mahawan.

Pemandangan gunungan sampah yang menghijau kerap menimbulkan pertanyaan publik. Mahawan menjelaskan, kondisi itu bisa berasal dari dua hal. Pertama, praktik sanitary landfill, yakni penutupan sampah dengan lapisan tanah yang kemudian ditanami rumput atau tanaman pionir untuk menekan bau, penyakit, dan potensi longsor. Kedua, proses alami kolonisasi tumbuhan dari benih yang terbawa angin atau hewan.

“Dalam perspektif sanitary landfill, ini bisa menjadi pertanda baik karena mengurangi bau dan risiko,” katanya. Namun, di sisi lain, hijau di atas sampah juga menjadi penanda bahwa timbunan itu sudah lama berada di sana. “Artinya kapasitas pemrosesan masih rendah, inflow sampah lebih tinggi daripada kemampuan pengolahan,” ucap Mahawan.

Bau Menyengat dan Ancaman Kesehatan

Dampak yang paling dirasakan warga adalah bau menyengat yang dapat menjangkau radius 3–5 kilometer, terutama akibat gas hidrogen sulfida, amonia, dan senyawa organik volatil. Risiko kesehatan juga mengintai para pekerja dan sopir truk sampah yang setiap hari beraktivitas di area TPST.

Pakar kesehatan Prof. Ari Fahrial Syam menegaskan, jam kerja panjang dan kurang tidur dapat berdampak serius. “Tidur normal itu 6 sampai 8 jam. Kalau sopir bekerja dengan jam sangat panjang dan kurang istirahat, daya pikir menurun, risiko microsleep meningkat,” kata Ari.

Paparan polutan dan gas metana tanpa perlindungan juga berbahaya. “Paru-paru bisa terdampak, mulai dari asma hingga penyakit paru obstruksi kronis. Dalam jangka panjang, kelelahan dan kurang tidur juga meningkatkan risiko hipertensi, stroke, dan gangguan metabolik,” ujarnya.

Antrean Truk dan Risiko Keselamatan

Pengamat perkotaan Universitas Indonesia Muh Aziz Muslim melihat antrean panjang truk sampah sebagai gejala struktural. “Volume sampah Jakarta terus bertambah, sementara kapasitas penampungan dan pengolahan sudah tidak lagi memadai,” kata Aziz. Menurut dia, kurangnya perencanaan jangka panjang membuat Bantargebang menanggung beban berlebihan. Infrastruktur jalan yang rusak dan antrean panjang berdampak langsung pada keselamatan sopir. “Intervensi harus dilakukan dari hulu sampai hilir, termasuk perubahan perilaku masyarakat dan pemanfaatan teknologi,” ujarnya.

Fasilitas Pengolahan: Ada, Tapi Terbatas

Di atas kertas, Bantargebang memiliki berbagai fasilitas pengolahan. Namun, kontribusinya masih jauh dari memadai. Composting plant yang berjalan sejak 2003 hanya mengolah sampah organik tertentu dan berskala terbatas. PLTSa Merah Putih, yang berstatus sebagai proyek percontohan, pada 2024 hanya mampu menginsinerasi sekitar 69 ton sampah per hari, jumlah yang sangat kecil dibandingkan timbulan harian yang mencapai ribuan ton. Sementara itu, Refuse-Derived Fuel (RDF) Plant memiliki kapasitas terpasang 2.000 ton per hari. Namun, realisasi produksinya hanya sekitar 103 ton RDF per hari. Kegiatan landfill mining pun lebih banyak menghasilkan humus soil untuk penataan landfill, bukan untuk mengurangi volume sampah secara signifikan.

“Kondisi ini menunjukkan RDF masih menjadi fasilitas pendukung, bukan solusi utama,” kata Sri Wahyono.

Berapa Lama Bantargebang Bertahan?

Mahawan memperkirakan, dengan sisa kapasitas sekitar 15 juta ton dan laju sampah sekitar 2,5 juta ton per tahun, TPST Bantargebang hanya memiliki waktu bertahan sekitar enam tahun. “Kalau kapasitas ditingkatkan dan pemrosesan diperkuat, mungkin bisa 6 sampai 10 tahun,” ujarnya. Namun, tanpa pengurangan signifikan dari hulu, waktu tersebut bisa jadi lebih singkat.

Keterbatasan anggaran membuat peran investor menjadi penting. Mahawan menilai, swasta bisa berperan membangun unit pengolahan, menjadi offtaker RDF atau energi, hingga mendukung pengolahan sampah berbasis komunitas.

Sorotan DPRD dan Tanggung Jawab Pemerintah

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Bun Joi Phiau menegaskan, tumpukan sampah setinggi belasan lantai memunculkan risiko longsor dan keselamatan. “Kami minta Pemprov DKI memonitor ketahanan tanggul secara berkala. Jangan menunggu rusak baru diperbaiki,” ujarnya. Ia juga menyoroti keselamatan sopir truk, termasuk kelayakan mess, jam kerja, dan fasilitas pendukung. Hibah Rp 363 miliar ke Pemkot Bekasi, menurut dia, harus benar-benar digunakan untuk memperbaiki dampak lingkungan dan infrastruktur.

Para pakar sepakat, masa depan Bantargebang tidak bisa hanya mengandalkan perluasan landfill. Kunci utamanya ada pada pengurangan sampah dari hulu, pemilahan di sumber, penguatan TPS 3R, pembangunan ITF dan PLTSa skala besar, serta landfill mining berkelanjutan.

Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *