My WordPress Blog

Berani Hubungi Purbaya, Pedagang Keluhkan Ekonomi Tak Stabil dan Minta Bantuan Sosial

Kehidupan Seorang Ibu Tua yang Bertahan dengan Berdagang di Jalan Tunjungan

Lampu-lampu jalan Tunjungan menyala terang malam itu, menerangi hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur. Di sepanjang trotoar, pedagang kaki lima berderet rapi, menawarkan jajanan dan minuman kepada warga yang berlalu-lalang. Di antara keramaian itu, berdiri seorang perempuan paruh baya, Wida Winarti (58), setia menjaga lapaknya. Di hadapannya, sebuah peti pendingin sederhana diletakkan di atas meja. Di dalamnya tersimpan minuman dingin dengan harga Rp 5.000. Beragam merek dan jenis minuman disusun seadanya di atas kayu kecil yang berfungsi sebagai etalase.

Dari sore hingga pagi hari, itulah ladang rezeki yang menopang hidupnya. “Dari sore jam 4, jam 5 sampai pagi jam 6,” kata Wida saat ditemui di Jalan Tunjungan, Surabaya. Tak hanya minuman dingin, saat malam semakin larut, Wida juga menambah dagangannya. “Nanti malam saya juga jualan kopi, biasanya lesehan di sini,” imbuhnya sambil menunjuk ke arah pelataran depan tempat ia berdagang.

Siang Mengurus Rumah, Malam Menjemput Rezeki

Perempuan asal Kecamatan Tambaksari itu bercerita tentang ritme hidup yang telah ia jalani selama bertahun-tahun. Siang hari sepenuhnya dihabiskan untuk urusan rumah tangga memasak, membereskan rumah, serta memastikan kebutuhan anaknya terpenuhi. Ketika matahari mulai condong ke barat, barulah ia bersiap bekerja hingga fajar menyingsing.

Namun, penghasilan dari berdagang tak pernah pasti. Dalam sehari, hasil yang ia bawa pulang kerap tak menentu. Pada hari biasa, ia hanya memperoleh sekitar Rp 50.000. Berbeda saat Sabtu malam atau ketika tanggal muda, pendapatannya bisa melonjak hingga Rp 200.000. “Kalau hari Senin itu biasanya sepi,” katanya singkat. Ketika ditanya momen apa yang paling membuatnya merasa senang, Wida menjawab tanpa ragu. “Kalau menyenangkan ya pas malam minggu, tanggal muda, atau pas ada acara di sini,” ujarnya.

Kehilangan Suami dan Hilangnya Satu Penopang Hidup

Di balik senyum ramah yang selalu ia suguhkan kepada para pembeli, Wida menyimpan duka yang masih sangat baru. Sekitar dua pekan lalu, suami yang selama ini menjadi pasangan hidupnya berpulang. “Barusan aja suami saya meninggal. Ini udah sekitar 14 hari,” ucapnya pelan. Kehilangan itu bukan sekadar soal rasa, tetapi juga tentang bertahan hidup. Satu sumber penghasilan keluarga kini benar-benar hilang. “Pas sudah hitungannya, ekonominya hilang satu,” katanya lirih.

Namun, bagi Wida, berhenti bukan pilihan. “Kalau enggak jualan, ya gimana,” pungkasnya sambil menghela napas panjang. Hidup yang kian sederhana membuatnya harus beradaptasi. Dari lima anak yang dimilikinya, kini hanya satu yang tinggal bersamanya, yaitu anak laki-laki yang baru lulus sekolah dan belum berkeluarga. Anak-anak lainnya telah menikah dan hidup mandiri.

Wida pun tidak lagi tinggal di rumah miliknya sendiri. Rumah tersebut kini ditempati oleh anak perempuannya yang sudah berkeluarga. Ia memilih ngekos di sebelah rumah itu, dengan beban biaya kos dan angsuran sepeda yang harus dibayar rutin setiap bulan.

Curhat kepada Menteri Keuangan

Dalam kondisi terdesak, Wida sempat mencoba mencari pertolongan dengan cara yang tak lazim. Sekitar sepekan setelah kepergian suaminya, ia memberanikan diri mencari nomor telepon Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. “Saya nyari nomor telepon Pak Menteri Keuangan, nemunya dari Google,” kata Wida. Ia mengirimkan pesan, mencurahkan beban hidup yang tengah ia pikul. “Saya kan curhat, karena suami saya baru meninggal, saya harus bayar angsuran sama kos, ekonomi lagi enggak stabil,” tuturnya.

Pesannya dibalas. Meski ia menduga balasan tersebut datang dari asisten sang menteri, Wida merasa sedikit lega. Ia diarahkan untuk mengurus bantuan sosial melalui jalur resmi. “Iya ibu gajiannya minim dan layak dikasih bantuan,” kata Wida, menirukan pesan yang ia terima. Ia pun mengaku belum memiliki Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dan diminta mengurusnya melalui kelurahan serta Dinas Sosial setempat.

Bertahan dari Hari ke Hari

Kini, hasil jualannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan paling dasar. “Uang jualan ini pun cukupnya buat makan sehari-hari saja,” ujarnya. Di usia 58 tahun, Wida tak lagi menggantungkan mimpi setinggi langit. Harapannya sederhana bisa bertahan dan menua dengan sedikit rasa aman. “Yang saya mau ada uang untuk masa tua,” katanya.

Ia berharap memiliki modal untuk terus berdagang, mampu membayar kos, melunasi angsuran sepeda, dan tetap bisa membantu anaknya. “Ada uang modal untuk dagang tiap hari, biar bisa bayar kosan dan lunasin angsuran sepeda, ngasih uang ke anak juga,” ucapnya penuh harap. Usai berkata demikian, Wida kembali berdiri di balik peti pendinginnya, menyambut pembeli dengan senyum ramah menjemput rezeki, di tengah duka yang belum sepenuhnya reda.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *