My WordPress Blog
Opini  

Opini: Rumah Sakit Lela – Selamatkan Warisan, Nyalakan Harapan

Refleksi tentang Eksistensi Rumah Sakit St. Elisabet Lela

Rumah Sakit St. Elisabet Lela, sebuah lembaga kesehatan yang telah berdiri selama 95 tahun di Pulau Flores, memiliki sejarah panjang dan modal sosial yang besar sebagai keunggulan kompetitifnya. Namun, dalam dinamika zaman yang penuh persaingan dan tuntutan profesionalisme, pertanyaan muncul: apakah lembaga ini mampu bertahan, terus berkarya, dan mengambil posisi strategis?

Pasar Tertutup yang Stabil

RS Lela berada di wilayah selatan Kabupaten Sikka, yang lebih minim fasilitas kesehatan besar dibanding kawasan utara. Dengan demikian, RS Lela memiliki pasar tertutup yang stabil, sedangkan di wilayah utara akan semakin kompetitif jika rumah sakit seperti RS. Siloam dan RS. Bayangkara dibangun. Modal ini sangat berharga jika memiliki dukungan manajemen internal yang kuat.

Selain itu, selama bertahun-tahun hingga awal tahun 2000-an, Rumah Sakit St. Elisabet Lela menjadi rujukan para pasien berkat nama besar dr. Aliandoe dan Sr dr. Conchitha, SSpS. Namun, tantangan terbesar RS Lela pada lebih dari satu dasawarsa terakhir ini dapat direduksi pada dua hal utama, yakni kinerja pihak manajemen dan sumber daya manusia.

Kegagalan Sistemik dan Budaya Organisasi

Ini bukan sekadar personal moral atau sikap individu tetapi mencerminkan defisit sistemik dan defisit budaya organisasi. Lemahnya sistem kontrol, disiplin kerja, dan etos pelayanan tidak lagi menjadi standar bersama, serta komitmen terhadap misi rumah sakit meredup. Situasi ini semakin diperparah oleh kepemimpinan yang tidak stabil, arah strategi berubah dari waktu ke waktu sehingga organisasi berjalan tanpa kompas.

RS Lela mengalami organizational decay, penurunan perlahan ketika sistem manajerial dan budaya kerja gagal merespons tantangan eksternal. Pelapukan ini terjadi perlahan dan lama sehingga dianggap “biasa” padahal berbahaya. Usia hampir satu abad dapat menjadi aset moral sekaligus jebakan.

Terjebak dalam Kemampuan Lama

RS Lela hidup dalam buaian kisah sukses masa lalu sementara perubahan sistem kesehatan, tuntutan mutu, dan ekspektasi masyarakat bergerak cepat. RS Lela mengalami competency trap yakni terjebak pada cara-cara lama yang berhasil dan efektif pada zamannya tetapi kini tidak lagi relevan.

Perubahan Manajemen dengan Teori John P. Kotter

Dalam konteks Rumah Sakit St. Elisabet Lela, teori perubahan organisasi John P. Kotter dapat menjadi rujukan. Profesor emeritus Kepemimpinan dan Manajemen Perubahan ini menyebut delapan tahapan perubahan dalam reformasi organisasi.

Tahapan pertama adalah membangun kesadaran kolektif bahwa organisasi sedang berada dalam situasi krisis yang tidak boleh diabaikan. RS Lela sedang berada di fase burning platform. Situasi ini harus diakui secara jujur sebagai titik awal perubahan, bukan disembunyikan apalagi disikapi secara defensif.

Tahap kedua adalah membentuk koalisi pemandu (leadership team) yang kredibel, kuat secara moral, kompeten secara profesional, dan berani mengambil keputusan. Tanpa leadership team, perubahan hanya menjadi jargon.

Tahap ketiga adalah perumusan visi dan strategi. Arah dan tujuan organisasi perlu disusun. Tanpa itu orang bingung, ke arah mana harus bergerak.

Tahap keempat adalah komunikasi visi. Visi dan misi organisasi tidak hanya disampaikan dalam rapat atau pertemuan yang jarang dilakukan, tetapi diwujudkan dalam disiplin kerja, keteladanan tim pemandu atau pimpinan, dan budaya pelayanan yang konsisten.

Tahap kelima adalah memberdayakan orang lain untuk bertindak berdasarkan visi. Untuk dapat bertindak sesuai visi dan tujuan organisasi semua hambatan perlu dihilangkan.

Tahap keenam adalah merencanakan dan menciptakan kemenangan jangka pendek. Dalam konteks ini para karyawan yang terlibat dalam kemenangan itu patut dan diharapkan mendapat penghargaan.

Tahap ketujuh adalah mengkonsolidasi perbaikan dan memperluas jalan bagi perubahan lebih lanjut. Peningkatan kredibilitas dari kemenangan awal digunakan untuk mengubah cara-cara lama.

Tahap kedelapan adalah melembagaikan pendekatan baru. Perubahan harus berakar dalam budaya organisasi.

Digitalisasi sebagai Tuntutan

Selain visi yang terus dishering dan ditindaklanjuti, pembenahan manajerial dan sumber daya manusia ditangani secara sistematis, perlu pula perhatian pada upaya digitalisasi. Kelemahan disiplin tidak bisa ditolerir sebagai hal biasa (kebiasaan lama).

Perlu tata ulang alur pelayanan medis yang mestinya berbasis digital care pathways, sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMERS), rekam medis elektronik, bahkan sampai pada layanan telemedisin untuk memperluas jangkauan.

Digitalisasi bukan gaya-gayaan tapi menjadi tuntutan demi efisiensi operasional dan akurasi pelayanan, meminimalisasi kebocoran, pelayanan menjadi lebih standar, dan kebijakan diambil atas dasar data.

Namun, posisi Rumah Sakit Lela di lembah selatan Kabupaten Sikka kesulitan mengakses internet. Hal ini kiranya menjadi perhatian pemerintah membantu RS Lela mengembangkan diri sebagai langkah strategis memosisikan diri sebagai mitra pemerintah dalam pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih berkualitas.

Pilihan untuk Bertahan atau Bangkit

Pada akhirnya pertanyaan tentang RS Lela berujung pada dua pilihan. Apakah RS Lela ingin sekedar bertahan atau ingin bangkit menjadi simbol pelayanan kesehatan bermutu dan bermartabat?

Jika perubahan manajerial dilakukan secara serius, sumber daya manusia diperkuat, dan visi karitatif Gereja dipadukan dengan transformasi digital serta disiplin profesional, maka RS Lela tidak hanya akan selamat, tetapi kembali menjadi rumah sakit kebanggaan.

Ketika itu terjadi, 95 tahun perjalanan RS Lela tidak lagi hanya menarasikan kejayaan masa lampau, tetapi menjadi landasan untuk kebangkitan baru. RS Lela dapat bermetamorfosis menjadi healing ministry beyond medicine, pelayanan penyembuhan yang melampaui obat dan tindakan medis, penyembuhan yang holistik.

Dengan demikian dari lembah Lela api harapan kembali menyala. Rumah Sakit St. Elisabet tetap menjadi andalan kerasulan Gereja local Keuskupan Maumere di bidang kesehatan.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *