Sebuah Kehidupan di Balik Aroma Pempek Palembang
Di bawah cahaya lampu malam kawasan Tugu Yogyakarta, aroma cuko yang asam, pedas, dan manis menyelinap di antara lalu lalang kendaraan. Asap tipis dari panci rebusan mengepul perlahan, bercampur dengan hiruk pikuk kota yang tak pernah benar-benar sepi. Bagi sebagian orang, aroma itu hanyalah penggoda selera di sela perjalanan malam. Namun bagi Bu Siska, aroma tersebut adalah bagian dari hidupnya. Aroma itu menjadi saksi bisu perjuangan panjang seorang ibu perantau yang bertahan dengan air mata dan harapan.
Bu Siska adalah perempuan asal Komering, Palembang, yang kini menggantungkan hidup dari sebuah lapak pempek sederhana di kawasan Tugu. Dari tangannya, Pempek Palembang Tigo (999) Sambilan lahir dan perlahan menemukan jalannya sendiri di Kota Yogyakarta. Ia datang ke kota pelajar bukan dengan modal besar, melainkan dengan resep lama dan keyakinan untuk bertahan. Jogja menjadi tempat ia mengadu nasib sekaligus belajar arti kesabaran. Setiap hari adalah ujian, sekaligus harapan baru.
Awal Perjalanan yang Menantang
Lapak Pempek Palembang Tigo (999) Sambilan mulai beroperasi pada awal tahun 2024. Kehadirannya menambah ragam kuliner nusantara di salah satu titik paling ikonik di Jogja. Meski tergolong baru, lapak ini mulai dikenal oleh mahasiswa, warga lokal, hingga wisatawan. Banyak dari mereka datang karena penasaran dengan rasa pempek asli Palembang. Sebagian lainnya kembali karena rindu cita rasa yang tidak dibuat-buat.
Nama “Tigo (999) Sambilan” bukan sekadar rangkaian angka. Di Palembang, penamaan pempek dengan angka sudah menjadi ciri khas yang dikenal luas. Angka tersebut bukan penanda harga, melainkan identitas usaha. Bu Siska mempertahankan nama itu sebagai bentuk kebanggaan pada kampung halaman. Melalui nama tersebut, ia ingin membawa sepotong Palembang ke tengah hiruk pikuk Yogyakarta.
Pengalaman Awal yang Berat
Sebelum memiliki lapak sendiri, Bu Siska telah lama bergelut di dunia usaha kecil. Ia pernah menjadi pedagang asongan yang berkeliling pasar dari pagi hingga sore. Panas terik dan hujan adalah teman sehari-hari. Penolakan pembeli pun menjadi hal biasa. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa ketekunan dan kejujuran rasa adalah kunci bertahan hidup.
Keputusan merantau ke Yogyakarta bukanlah rencana besar yang dirancang matang. Ia memilih Jogja karena adanya pihak yang membantu mengurus tempat berjualan. Kondisi tersebut membuatnya berani mengambil langkah besar dalam hidupnya. “Di sini sudah ada yang ngurus, ibu tinggal jualan saja,” ujar Bu Siska saat ditemui di lapaknya. Kalimat sederhana itu menjadi awal perjalanan panjang di tanah perantauan.
Namun, menjalani usaha di kota orang tidak semudah yang dibayangkan. Jauh dari keluarga membuat Bu Siska kerap merasa sendirian. Penjualan yang belum stabil menambah tekanan hidup. Rasa rindu kampung halaman sering datang tanpa aba-aba. “Awal jualan di sini benar-benar berat,” kenangnya. Tak jarang, air mata jatuh di balik senyum yang ia tunjukkan kepada pembeli.
Ketekunan dan Kejujuran dalam Berjualan
Ada hari-hari ketika dagangan tidak habis terjual, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Meski begitu, Bu Siska memilih bertahan. Ia terus menjaga kualitas pempeknya, mulai dari rasa ikan hingga kekentalan cuko. Setiap adonan dibuat dengan sepenuh hati menggunakan resep yang telah ia kuasai sejak lama. Ia percaya, kejujuran dalam rasa akan menemukan jalannya sendiri.
Setiap sore menjelang malam, Bu Siska mulai sibuk di lapaknya. Tangannya cekatan membentuk pempek lenjer dan kapal selam. Panci cuko khas Palembang terus dipanaskan agar cita rasanya tetap terjaga. Sesekali, ia menyapa pembeli dengan senyum ramah. Lapak kecil itu bukan hanya tempat berjualan, tetapi juga ruang bertahan hidup.
Hasil yang Menginspirasi
Perlahan, usaha tersebut mulai menunjukkan hasil. Pelanggan datang kembali dan merekomendasikan lapak Bu Siska kepada orang-orang terdekat mereka. Beberapa pembeli mengaku rindu pempek Palembang yang rasanya benar-benar asli. Mereka menyukai pempek yang tidak disesuaikan dengan lidah lokal. Bagi Bu Siska, itu adalah bentuk pengakuan atas perjuangannya.
Berjualan pempek, bagi Bu Siska, bukan hanya soal mencari keuntungan. Lapak kecil itu adalah simbol harga diri dan keberanian untuk bangkit. Setiap tusukan pempek yang terjual menyimpan cerita tentang jatuh bangun hidupnya. “Kadang capek, kadang pengin pulang,” tuturnya lirih. Namun ia selalu menemukan alasan untuk bertahan, terutama demi keluarga di Palembang.
Simbol Perjuangan dan Harapan
Kini, di bawah bayang-bayang Tugu Yogyakarta yang ikonik, Pempek Palembang Tigo (999) Sambilan terus hidup. Lapak sederhana itu menjadi bagian dari denyut kota dan cerita kuliner Jogja. Kisah Bu Siska mengajarkan bahwa kuliner tidak hanya soal rasa. Di baliknya, ada perjuangan, ketulusan, dan harapan yang terus dijaga. Dari Komering hingga Tugu Jogja, mimpi itu tetap menyala, pelan tapi pasti.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











